Oleh Mukhamad Najib
Tahun ini adalah untuk yang ketiga kalinya saya berpuasa di negeri sakura. Tahun ini agak sedikit berbeda, karena puasa tahun ini bertepatan dengan musim panas, dimana siangnya bukan hanya lebih panas tapi juga lebih panjang dari di Indonesia. Teman-teman di ruangan saya kaget ketika saya menceritakan bahwa di dalam Islam, secara fisik puasa adalah menahan makan dan minum sejak sebelum matahari terbit hingga saat matahari akan terbenam. Seorang teman langsung menyahut "berat sekali jadi seorang muslim", yang seorang lagi bilang "minum aja ini, nanti bisa mati kamu kalau tidak makan tidak minum". Puasa tahun ini memang terasa lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya, tapi saya yakin setiap orang yang sehat pasti bisa melakukan ibadah ini. Allah swt pasti tidak akan mewajibkan sesuatu yang manusia tidak mampu melakukannya. Kalau diperkirakan tidak seluruh manusia mampu melaksanakan suatu kewajiban, Allah swt pasti memberikan perintah bersyarat terhadap kewajiban tersebut. Misalnya perintah untuk menunaikan ibadah haji. Karena tidak semua orang bisa melakukannya, maka Allah memberikan pengecualian, yakni diwajibkan pergi haji bagi mereka yang mampu.
Meski awalnya perintah terhadap puasa bersifat umum kepada seluruh orang beriman,namun Allah memberi kelonggaran, yakni bagi mereka yang sedang bepergian atau orang-orang tua yang lemah atau mereka-mereka yang sakit. Namun kelonggaran ini tidak menggugurkan kewajiban berpuasa itu sendiri, karena mereka yang tidak mampu melaksanakannya diwajibkan membayar denda, yakni dengan mengganti puasanya diwaktu yang lain atau membayar fidyah.
Allah yang maha rahman selalu memberikan perintah memberikan beban sesuai dengan kemampuan kita. Begitu juga ketika Allah memberikan kita ujian atau cobaan,pasti hal itu sesuai dengan kemampuan kita. Namun persoalnnya adalah kita seringkali men"diskon" kemampuan kita sendiri. Yang seharusnya mampu, kita merasa tidak mampu. Perasaan tidak mampu kita itulah sesungguhnya yang menyebabkan kita tenggelam dalam ketidakmampuan yang sebenarnya.
Tidak sedikit kita menjumpai orang yang suka meremehkan dirinya sendiri, tidak mau memaksimalkan semua sumber daya yang Allah berikan kepadanya untuk menghadapi ujian dan tantangan yang Allah berikan. Inilah yang menyebabkan manusia suka sekali berkeluh kesah,suka sekali menggantungkan persoalan kepada orang lain, suka sekali memposisikan diri lebih kecil dari persoalan yang dihadapi, merasa kerdil berhadapan dengan masalah.
Hobi berkeluh kesah ini ternyata tidak melihat status, pangkat atau kedudukan seseorang. Lihat saja para pemimpin kita, tidak sedikit diantara mereka yang suka berkeluh kesah tak berdaya didera berbagai persoalan bangsa. Padahal saat kampanye mereka berkata seakan semuanya mudah dan mereka meyakinkan rakyat bahwa mereka bisa. Lihat saja masyarakat kelas menengah kita, tidak sedikit diantara mereka yang mudah menyerah kalah terhadap dinamika lingkungan yang memaksa mereka melakukan perubahan. Lihat saja rakyat kita, tidak sedikit diantara mereka yang mudah diadu domba atas nama kebebasan, atas nama agama atau atas nama apa saja yang bisa melegitimasi tindak kekerasan. Hal ini adalah refleksi dari akumulasi berbagai keluhan yang tak beroleh tanggapan.
Dalam kondisi seperti ini kita butuh orang-orang yang mampu meyakinkan bangsa ini bukan sekedar dengan retorika, tapi dengan tindakan-tindakan nyata. Kita butuh pemimpin yang bisa menyirami rakyat dengan cahaya yang menentramkan, cahaya yang memberi jawaban atas berbagai persoalan, cahaya yang melahirkan gairah untuk bangkit dan berjuang melawan segala keterbatasan.
Kebangkitan sebuah kelompok, kebangkitan sebuah bangsa, sangat ditentukan oleh kebangkitan pribadi yang berkumpul di dalamnya. Diera kebangkitan, kita membutuhkan manusia-manusia tangguh, manusia-manusia yang tidak gampang mengeluh ketika berhadapan dengan berbagai persoalan, manusia-manusia yang yakin akan kemampuan dirinya, manusia-manusia yang selalu berprasangka baik bahwa Allah pasti tidak akan memberi ujian yang diluar kemampuan manusia untuk menyelesaikannya.
Semoga kita bisa memaksimalkan romadhan ini untuk menggembleng diri kita agar menjadi manusia-manusia tangguh yang tidak gampang mengeluh. Karena memang perintah Allah jelas sekali "Dan bekerjalah kamu..." (QS. Attaubah:105), dan Allah sama sekali tidak memerintahkan kita dengan kata-kata "Dan mengeluhlah kamu..."
Baca Selengkapnya...
18/08/10
Biadab, Sipir Penjara Israel Paksa Tahanan Berjemur di Siang Terik Ramadhan
Pusat Studi tahanan Palestina menyatakan bahwa pihak administrasi penjara pendudukan Zionis Israel telah memaksa para tawanan Palestina keluar pada pukul 1 siang (waktu istirahat), tanpa memperhitungkan panas tinggi selama bulan suci Ramadhan, khususnya di penjara-penjara di gurun pasir Negef . Salah seorang tawanan bernama Tawfiq Abu Naim menyatakan bahwa para tahanan telah menuntut agar sipir penjara untuk menunda selama dua jam waktu istirahat diluar sel tahanan untuk memotong panas matahari, tetapi pihak administrasi penjara Israel menolak permintaan ini.
Sementara itu, Direktur Pusat Studi tahanan Rafat Hamduna mengatakan bahwa pihak administrasi penjara pendudukan Israel telah melecehkan tahanan muslim, terutama dalam hal ibadah, seperti shalat Tarawih, dan mereka juga dipaksa untuk berdiri ketika saat membaca Alquran.
Dia menekankan bahwa harus ada solidaritas yang serius dari lembaga-lembaga HAM untuk menghentikan praktek-praktek tidak manusiawi yang dilakukan penjara Israel terhadap para tahanan Islam Baca Selengkapnya...
Sementara itu, Direktur Pusat Studi tahanan Rafat Hamduna mengatakan bahwa pihak administrasi penjara pendudukan Israel telah melecehkan tahanan muslim, terutama dalam hal ibadah, seperti shalat Tarawih, dan mereka juga dipaksa untuk berdiri ketika saat membaca Alquran.
Dia menekankan bahwa harus ada solidaritas yang serius dari lembaga-lembaga HAM untuk menghentikan praktek-praktek tidak manusiawi yang dilakukan penjara Israel terhadap para tahanan Islam Baca Selengkapnya...
17/08/10
Semerah Agustusan, Seputih Ramadhan
![]() |
| TERUS BERKIBAR DAN JUNJUKAN SEMANGAT JUANGMU |
Bulan Ramadhan, bagi kaum muslim sedunia adalah bulan yang sangat istimewa karena kesucian dan kemuliaannya. Selain diwajibkan berpuasa, segala amal ibadah yang dikerjakan di bulan ini akan diganjar dengan pahala yang berlipat ganda dibanding ibadah yang dikerjakan di bulan-bulan lainnya. Juga Allah membukakan pintu maghfiroh selebar-lebarnya bagi siapapun hambaNya yang bertaubat. Bagi kaum muslim Indonesia di manapun berada, bulan Agustus tahun ini terasa lebih istimewa karena berbarengan dengan bulan suci Ramadhan. Dua anugerah besar dari Allah SWT yang harus disyukuri, bukan saja melalui ucapan, tapi juga tindakan dan perbuatan.
Keistimewaan bulan Agustus tahun ini juga dirasakan oleh Aziz dan teman-teman remaja musholanya. Untuk pertama kalinya, Aziz dan teman-temannya dipercaya menjadi panitia peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan tempat tinggal mereka. Bukan sekedar membantu panitia yang biasanya terdiri dari bapak-bapak, tapi mereka benar-benar menjadi panitia intinya. Warga mempercayakan kepanitian ini kepada mereka karena gagasan mereka yang dianggap cemerlang, menggabungkan semangat Agustusan dengan kemuliaan Ramadhan.
Seperti peringatan hari kemerdekaan pada umumnya, warga di lingkungan tempat tinggal Aziz setiap tahunnya juga mengadakan berbagai lomba dan permainan untuk anak-anak, kaum ibu dan juga bapak. Tahun ini hampir saja tidak ada acara tujuh belasan karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Tak mungkin mengadakan lomba makan kerupuk, gigit duit dalam jeruk, panjat pinang dan lain-lainnya d di saat warga sedang menjalankan ibadah puasa. Hingga akhirnya muncul gagasan dari Aziz dan remaja mushola Baiturrohim untuk tetap mengadakan acara tujuh belasan namun dalam konsep yang berbeda, tetap menarik namun tidak mengurangi kemuliaan bulan Ramadhan.
Aziz beserta panitia tujuh belasannya telah menyusun berbagai acara yang akan mereka adakan tepat pada tanggal tujuh belas nanti. Tentu saja waktu dan acaranya tidak sama seperti acara tujuh belasan tahun-tahun sebelumnya. Pagi hari mereka akan mengajak warga untuk melakukan kerja bakti di mushola Baiturrohim. Target mereka adalah membersihkan mushola dan lingkungannya termasuk mencuci karpet-karpet yang panjang dan tebal. Acara kerja bakti ini akan dimulai setelah sholat Shubuh dan diharapkan sudah selesai sebelum matahari meninggi.
Sore harinya, bada’ sholat Ashar, rangkaian acara tujuh belasan kembali dilanjutkan. Berbagai perlombaan diadakan, diantaranya lomba membaca puisi, lomba hafalan surat-surat pendek, lomba hafalan doa harian untuk anak-anak, lomba memasak hidungan buka puasa untuk remaja putri dan ibu-ibu serta lomba ceramah kultum untuk remaja putra dan bapak-bapak. Sebagai puncak acara, Aziz dan teman-temannya akan mengajak warga buka puasa bersama secara gratis. Semua acara akan diadakan di tanah lapang milik salah satu warga. Pengumuman mengenai lomba tujuh belasan dan buka puasa bersama ini sudah ditempel di tempat-tempat strategis sejak awal bulan dan langsung mendapat sambutan positif dari warga. Beberapa warga langsung mendaftarkan diri dan keluarganya untuk mengikuti lomba yang diadakan karena tertarik dengan hadiah yang disediakan.
Seperti acara tujuh belasan tahun sebelumnya, acara peringatan tujuh belasan versi remaja mushola kali ini juga menyediakan hadiah yang menarik. Sarung, sajadah, mukena, baju koko, kerudung, aneka kue dan minuman khas lebaran telah mereka persiapkan. Satu yang tidak biasa adalah bahwa warga yang ikut dalam lomba tidak dipungut biaya satu rupiahpun. Semua hadiah disediakan oleh para dermawan yang bersedia mendanai acara mereka.
Inilah yang sebenarnya sudah lama ingin diperjuangkan Aziz dan remaja mushola. Mereka ingin mengadakan acara tujuh belasan yang bersih dari taruhan. Selama ini Azis dan teman-teman remaja musholanya merasa prihatin dengan perlombaan yang diadakan untuk memeriahkan acara tujuh belasan. Hanya untuk alasan kemeriahan dan hiburan, tak jarang para warga melakukan taruhan. Sekilas memang tidak terlihat bahwa mereka sedang melakukan taruhan, meraka hanya mendaftar dan mengumpulkan sejumlah uang yang nantinya akan dijadikan hadiah. Selanjutnya mereka mengikuti permainan atau perlombaan yang sekedarnya saja. Disinilah masyarakat sering tidak sadar bahwa sebenarnya apa yang mereka lakukan adalah sebuah taruhan, hanya caranya saja yang berbeda. Sungguh, setan tak pernah kehabisan akal untuk menjerumuskan manusia untuk berbuat dosa.
Bagaimana dengan perayaan Agustusan di lingkungan anda? Segala perlombaan, permainan dan kemeriahan Agustusan barangkali patut untuk dilestarikan sebagai bentuk tradisi dan ekspresi kebahagiaan, namun harus disadari bahwa semua itu bukanlah sebuah kewajiban.
Jauh lebih utama adalah memperingati hari kemerdekaan sebagai sebuah anugerah besar yang telah Allah berikan. Juga jauh lebih penting bagaimana menjaga dan mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan untuk kemaslahatan bangsa, sebagai bentuk penghormatan terhadap pengorbanan harta, tenaga, jiwa dan raga para pejuang kemerdekaan.
Kemerdekaan adalah sebuah anugerah sekaligus amanah. Allah memberikan kemerdekaan kepada bangsa ini atas perjuangan yang panjang dan menyakitkan para pahlawan. Allah memberikan nikmat kemerdekaan hingga saat ini sebagai wujud nyata kemurahan Nya. Semakin kita syukuri maka Allah akan menambah kenikmatan lebih banyak lagi. Jangan ingkari nikmat merdeka, jangan hianati para pahlawan bangsa, jangan hancurkan bangsa ini dengan hawa nafsu pribadi dan golongan.
Bulan Agustus tahun ini berbarengan dengan bulan suci Ramadhan. Mari syukuri kemerdekaan dengan penuh keimanan. Mari kita teladani semangat para pahlawan, untuk kita berjuang menegakan agama Allah. Mari kita tiru semangat 45 para pejuang untuk semangat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Jangan hanya semangat untuk urusan dunia, untuk urusan akhiaratpun seharusnya kita lebih semangat. Untuk meraih kemerdekaan, diperlukan pengorbanan dan perjuangan yang keras. Untuk meraih kemerdekaan akhirat, diperlukan kesungguhan dan keikhlasan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
Dirgahayu negeriku, semoga Allah memberkahi bangsaku. Syukuri kemerdekaan sebagai sebuah anugerah, jaga dan isi dengan penuh keimanan sebagai sebuah amanah. Insya Allah. (sumber http://abisabila.multiply.com) Baca Selengkapnya...
Puasa Itu Memang untuk Orang-Orang Beriman
“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa“. (Al-Baqarah: 183)
Ramadhan adalah ” الشهر كله “, bulan segala kebaikan: bulan ampunan, bulan tarbiyah (pembinaan), bulan dzikir dan doa, bulan Al-Qur’an, bulan kesabaran, bulan dakwah dan jihad. Masih banyak lagi makna-makna lain bulan Ramadhan yang memberikan tambahan kebaikan dan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan dunia dan akhirat kaum beriman. Seluruh kebaikan dan keutamaan itu, dalam bahasa Rasulullah, diistilahkan dengan ‘syahrun mubarak‘. Ini seperti yang tersebut dalam sebuah haditsnya, “Akan datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan mubarak. Allah mewajibkan di dalamnya berpuasa. Pada bulan itu dibukakan untuk kalian pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka, setan-setan dibelenggu, serta pada salah satu malamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu lailatul qadar. Barangsiapa yang terhalang untuk mendapatkan kebaikan di bulan itu, maka ia telah terhalang selamanya.” (Ahmad dan Nasa’i)
Mubarak dalam konteks Ramadhan artinya ‘ziyadatul khairat‘, bertambahnya pahala yang dijanjikan oleh Allah bagi para pemburu kebaikan dan semakin sempitnya ruang dan peluang dosa dan kemaksiatan di sepanjang bulan tersebut. Sungguh satu kesempatan yang tiada duanya dalam setahun perjalanan kehidupan manusia.
Ayat di atas yang mengawali pembicaraan tentang puasa Ramadhan jika dicermati secara redaksional mengisyaratkan beberapa hal, di antaranya: pertama, hanya ayat puasa yang diawali dengan seruan ‘Hai orang-orang yang beriman’. Sungguh bukti kedekatan dan sentuhan Allah terhadap hambaNya yang beriman dengan mewajibkan mereka berpuasa, tentu tidak lain adalah untuk meningkatkan derajat mereka menuju pribadi yang bertakwa ‘La’allakum tattaqun‘.
Ibnu Mas’ud ra merumuskan sebuah kaidah dalam memahami ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan ‘Hai orang-orang yang beriman’, “Jika kalian mendengar atau membaca ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan ‘hai orang-orang yang beriman‘, maka perhatikanlah dengan seksama; karena setelah seruan itu tidak lain adalah sebuah kebaikan yang Allah perintahkan, atau sebuah keburukan yang Allah larang.” Keduanya, perintah dan larangan, diperuntukkan untuk kebaikan orang-orang yang beriman. Memang hanya orang yang beriman yang mampu berpuasa dengan baik dan benar.
Kedua, bentuk perintah puasa dalam ayat di atas merupakan bentuk perintah tidak langsung dengan redaksi yang pasif: ‘telah diwajibkan atas kalian berpuasa‘. Berbeda dengan perintah ibadah yang lainnya yang menggunakan perintah langsung, misalnya shalat dan zakat: ‘Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat‘. Demikian juga haji: ‘Dan sempurnakanlah haji dan umrah kalian karena Allah‘. Redaksi sedemikian ini memang untuk menguji sensitifitas orang-orang yang beriman bahwa bentuk perintah apapun dan dengan redaksi bagaimanapun pada prinsipnya merupakan sebuah perintah yang harus dijalankan dengan penuh rasa ‘iman‘ tanpa ada bantahan sedikitpun, kecuali pada tataran teknis aplikasinya.
Ketiga, motivasi utama dalam menjalankan perintah beribadah dari Allah sesungguhnya adalah atas dasar iman -lihat yang kalimat ‘Hai orang-orang yang beriman‘– bukan karena besar dan banyaknya pahala yang disediakan. Sebab, pahala itu rahasia dan hak prerogatif Allah yang tentunya sesuai dengan tingkat kesukaran dan kepayahan ibadah tersebut. Rasulullah saw. bersabda, “Pahala itu ditentukan oleh tingkat kesukaran dan kepayahan seseorang menjalankan ibadah tersebut.”
Dalam konteks ini, hadits yang seharusnya memotivasi orang yang beriman dalam berpuasa yang paling tinggi adalah karena balasan ampunan ‘maghfirah‘ yang disediakan oleh Allah swt. Bukan balasan yang sifatnya rinci seperti yang terjadi pada hadits-hadits lemah atau palsu seputar puasa, karena tidak ada yang lebih tinggi dari ampunan Allah baik dalam konteks shiyam (puasa) maupun qiyam (shalat malam) di bulan Ramadhan. Rasulullah bersabda tentang shiyam, “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharapkan ridha Allah, maka sungguh ia telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu”. (Muttafaqun Alaih). Dengan redaksi yang sama, Rasulullah bersabda juga tentang qiyam di bulan Ramadhan, “Barangsiapa yang shalat malam (qiyam) di bulan Ramadhan karena iman dan semata mengharapkan ridha Allah, maka sungguh ia telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (Muttafaqun Alaih). Demikian juga doa yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah di bulan puasa adalah “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” Ampunan Allahlah yang menjadi kunci dan syarat utama seseorang dimasukkan ke dalam surga.
Yang juga menarik untuk ditadabburi adalah ibadah puasa merupakan ibadah kolektif para umat terdahulu sebelum Islam; ‘sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian‘. Hal ini menunjukkan bahwa secara historis, puasa merupakan sarana peningkatan kualitas iman seseorang di hadapan Allah yang telah berlangsung sekian lama dalam seluruh ajaran agama samawi-Nya. Puasalah yang telah mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan sisi kebaikan umat terdahulu yang kemudian dikekalkan syariat ini bagi umat akhir zaman. Prof. Mutawalli Sya’rawi menyimpulkan bahwa syariat puasa telah lama menjadi ‘rukun ta’abbudi‘ pondasi penghambaan kepada Allah dan merupakan instrumen utama dalam pembinaan umat terdahulu. Dalam bahasa Rasulullah saw. seperti termaktub dalam haditsnya, “Puasa adalah benteng. Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa pada hari tersebut, maka janganlah ia berkata kotor atau berbuat jahat. Jika ada seseorang yang mencaci atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia mengatakan (dengan sadar): ‘Aku sedang berpuasa’.” (Bukhari Muslim)
Ungkapan ‘agar kalian menjadi orang yang bertakwa‘ pada petikan terakhir ayat pertama dari ayat puasa merupakan harapan sekaligus jaminan Allah bagi ‘orang-orang yang beriman‘ dalam seluruh aspek dan dimensinya secara totalitas. Sebab, mereka akan beralih meningkat menuju level berikutnya, yaitu pribadi yang muttaqin yang tiada balasan lain bagi mereka melainkan surga Allah tanpa ‘syarat‘ karena mereka telah berhasil melalui ujian-ujian perintah dan larangan ketika mereka berada pada level mukmin. Allah swt. berfirman tentang orang-orang yang bertakwa, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di dalam surga dan kenikmatan.” (Ath-Thur: 17). “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di taman-taman surga dan di mata air-mata air.” (Adz-Dzariyat: 15). “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di tempat yang aman, yaitu di dalam taman-taman dan mata air-mata air.” (Ad-Dukhan: 51-52)
Itulah hakikat kewajiban puasa yang tersebut pada ayat pertama dari ayatush shiyam: perintah puasa adalah ditujukan untuk orang yang beriman. Berpuasa hanya akan mampu dijalankan dengan baik dan benar oleh orang-orang yang benar-benar beriman. Motivasi menjalankan amaliah Ramadhan juga karena iman. Orang-orang beriman yang sukses akan diangkat oleh Allah menuju derajat yang paling tinggi di hadapan-Nya, yaitu muttaqin. Semoga kita termasuk yang akan mendapatkan predikat muttaqin setelah sukses menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisaban. Baca Selengkapnya...
Ramadhan adalah ” الشهر كله “, bulan segala kebaikan: bulan ampunan, bulan tarbiyah (pembinaan), bulan dzikir dan doa, bulan Al-Qur’an, bulan kesabaran, bulan dakwah dan jihad. Masih banyak lagi makna-makna lain bulan Ramadhan yang memberikan tambahan kebaikan dan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan dunia dan akhirat kaum beriman. Seluruh kebaikan dan keutamaan itu, dalam bahasa Rasulullah, diistilahkan dengan ‘syahrun mubarak‘. Ini seperti yang tersebut dalam sebuah haditsnya, “Akan datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan mubarak. Allah mewajibkan di dalamnya berpuasa. Pada bulan itu dibukakan untuk kalian pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka, setan-setan dibelenggu, serta pada salah satu malamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu lailatul qadar. Barangsiapa yang terhalang untuk mendapatkan kebaikan di bulan itu, maka ia telah terhalang selamanya.” (Ahmad dan Nasa’i)
Mubarak dalam konteks Ramadhan artinya ‘ziyadatul khairat‘, bertambahnya pahala yang dijanjikan oleh Allah bagi para pemburu kebaikan dan semakin sempitnya ruang dan peluang dosa dan kemaksiatan di sepanjang bulan tersebut. Sungguh satu kesempatan yang tiada duanya dalam setahun perjalanan kehidupan manusia.
Ayat di atas yang mengawali pembicaraan tentang puasa Ramadhan jika dicermati secara redaksional mengisyaratkan beberapa hal, di antaranya: pertama, hanya ayat puasa yang diawali dengan seruan ‘Hai orang-orang yang beriman’. Sungguh bukti kedekatan dan sentuhan Allah terhadap hambaNya yang beriman dengan mewajibkan mereka berpuasa, tentu tidak lain adalah untuk meningkatkan derajat mereka menuju pribadi yang bertakwa ‘La’allakum tattaqun‘.
Ibnu Mas’ud ra merumuskan sebuah kaidah dalam memahami ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan ‘Hai orang-orang yang beriman’, “Jika kalian mendengar atau membaca ayat Al-Qur’an yang diawali dengan seruan ‘hai orang-orang yang beriman‘, maka perhatikanlah dengan seksama; karena setelah seruan itu tidak lain adalah sebuah kebaikan yang Allah perintahkan, atau sebuah keburukan yang Allah larang.” Keduanya, perintah dan larangan, diperuntukkan untuk kebaikan orang-orang yang beriman. Memang hanya orang yang beriman yang mampu berpuasa dengan baik dan benar.
Kedua, bentuk perintah puasa dalam ayat di atas merupakan bentuk perintah tidak langsung dengan redaksi yang pasif: ‘telah diwajibkan atas kalian berpuasa‘. Berbeda dengan perintah ibadah yang lainnya yang menggunakan perintah langsung, misalnya shalat dan zakat: ‘Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat‘. Demikian juga haji: ‘Dan sempurnakanlah haji dan umrah kalian karena Allah‘. Redaksi sedemikian ini memang untuk menguji sensitifitas orang-orang yang beriman bahwa bentuk perintah apapun dan dengan redaksi bagaimanapun pada prinsipnya merupakan sebuah perintah yang harus dijalankan dengan penuh rasa ‘iman‘ tanpa ada bantahan sedikitpun, kecuali pada tataran teknis aplikasinya.
Ketiga, motivasi utama dalam menjalankan perintah beribadah dari Allah sesungguhnya adalah atas dasar iman -lihat yang kalimat ‘Hai orang-orang yang beriman‘– bukan karena besar dan banyaknya pahala yang disediakan. Sebab, pahala itu rahasia dan hak prerogatif Allah yang tentunya sesuai dengan tingkat kesukaran dan kepayahan ibadah tersebut. Rasulullah saw. bersabda, “Pahala itu ditentukan oleh tingkat kesukaran dan kepayahan seseorang menjalankan ibadah tersebut.”
Dalam konteks ini, hadits yang seharusnya memotivasi orang yang beriman dalam berpuasa yang paling tinggi adalah karena balasan ampunan ‘maghfirah‘ yang disediakan oleh Allah swt. Bukan balasan yang sifatnya rinci seperti yang terjadi pada hadits-hadits lemah atau palsu seputar puasa, karena tidak ada yang lebih tinggi dari ampunan Allah baik dalam konteks shiyam (puasa) maupun qiyam (shalat malam) di bulan Ramadhan. Rasulullah bersabda tentang shiyam, “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharapkan ridha Allah, maka sungguh ia telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu”. (Muttafaqun Alaih). Dengan redaksi yang sama, Rasulullah bersabda juga tentang qiyam di bulan Ramadhan, “Barangsiapa yang shalat malam (qiyam) di bulan Ramadhan karena iman dan semata mengharapkan ridha Allah, maka sungguh ia telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (Muttafaqun Alaih). Demikian juga doa yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah di bulan puasa adalah “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” Ampunan Allahlah yang menjadi kunci dan syarat utama seseorang dimasukkan ke dalam surga.
Yang juga menarik untuk ditadabburi adalah ibadah puasa merupakan ibadah kolektif para umat terdahulu sebelum Islam; ‘sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian‘. Hal ini menunjukkan bahwa secara historis, puasa merupakan sarana peningkatan kualitas iman seseorang di hadapan Allah yang telah berlangsung sekian lama dalam seluruh ajaran agama samawi-Nya. Puasalah yang telah mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan sisi kebaikan umat terdahulu yang kemudian dikekalkan syariat ini bagi umat akhir zaman. Prof. Mutawalli Sya’rawi menyimpulkan bahwa syariat puasa telah lama menjadi ‘rukun ta’abbudi‘ pondasi penghambaan kepada Allah dan merupakan instrumen utama dalam pembinaan umat terdahulu. Dalam bahasa Rasulullah saw. seperti termaktub dalam haditsnya, “Puasa adalah benteng. Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa pada hari tersebut, maka janganlah ia berkata kotor atau berbuat jahat. Jika ada seseorang yang mencaci atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia mengatakan (dengan sadar): ‘Aku sedang berpuasa’.” (Bukhari Muslim)
Ungkapan ‘agar kalian menjadi orang yang bertakwa‘ pada petikan terakhir ayat pertama dari ayat puasa merupakan harapan sekaligus jaminan Allah bagi ‘orang-orang yang beriman‘ dalam seluruh aspek dan dimensinya secara totalitas. Sebab, mereka akan beralih meningkat menuju level berikutnya, yaitu pribadi yang muttaqin yang tiada balasan lain bagi mereka melainkan surga Allah tanpa ‘syarat‘ karena mereka telah berhasil melalui ujian-ujian perintah dan larangan ketika mereka berada pada level mukmin. Allah swt. berfirman tentang orang-orang yang bertakwa, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di dalam surga dan kenikmatan.” (Ath-Thur: 17). “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di taman-taman surga dan di mata air-mata air.” (Adz-Dzariyat: 15). “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di tempat yang aman, yaitu di dalam taman-taman dan mata air-mata air.” (Ad-Dukhan: 51-52)
Itulah hakikat kewajiban puasa yang tersebut pada ayat pertama dari ayatush shiyam: perintah puasa adalah ditujukan untuk orang yang beriman. Berpuasa hanya akan mampu dijalankan dengan baik dan benar oleh orang-orang yang benar-benar beriman. Motivasi menjalankan amaliah Ramadhan juga karena iman. Orang-orang beriman yang sukses akan diangkat oleh Allah menuju derajat yang paling tinggi di hadapan-Nya, yaitu muttaqin. Semoga kita termasuk yang akan mendapatkan predikat muttaqin setelah sukses menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisaban. Baca Selengkapnya...
Sebaik-Baik Manusia
Ternyata, derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana dirinya punya nilai mamfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Khairunnas anfa’uhum linnas", "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak mamfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini seakan-akan mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah sejauh mana nilai mamfaat diri ini? Istilah Emha Ainun Nadjib-nya, tanyakanlah pada diri ini apakah kita ini manusia wajib, sunat, mubah, makruh, atau malah manusia haram? Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai jikalau keberadannya sangat dirindukan, sangat bermamfat, perilakunya membuat hati orang di sekitarnya tercuri. Tanda-tanda yang nampak dari seorang manusia wajib, diantaranya dia seorang pemalu, jarang mengganggu orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku kesehariannya lebih banyak kebaikannya. Ucapannya senantiasa terpelihara, ia hemat betul kata-katanya, sehingga lebih banyak berbuat daripada berbicara. Sedikit kesalahannya, tidak suka mencampuri yang bukan urusannya, dan sangat nikmat kalau berbuat kebaikan. Hari-harinya tidak lepas dari menjaga silaturahmi, sikapnya penuh wibawa, penyabar, selalu berterima kasih, penyantun, lemah lembut, bisa menahan dan mengendalikan diri, serta penuh kasih sayang.
Bukan kebiasaan bagi yang akhlaknya baik itu perilaku melaknat, memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap tergesa-gesa, dengki, bakhil, ataupun menghasut. Justru ia selalu berwajah cerah, ramah tamah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan marahnya pun karena Allah SWT, subhanallaah, demikian indah hidupnya. Karenanya, siapapun di dekatnya pastilah akan tercuri hatinya. Kata-katanya akan senantiasa terngiang-ngiang. Keramahannya pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yang sedang membara. Jikalau saja orang yang berakhlak mulia ini tidak ada, maka siapapun akan merasa kehilangan, akan terasa ada sesuatu yang kosong di rongga qolbu ini. Orang yang wajib, adanya pasti penuh mamfaat. Begitulah kurang lebih perwujudan akhlak yang baik, dan ternyata ia hanya akan lahir dari semburat kepribadian yang baik pula.
Orang yang sunah, keberadaannya bermamfaat, tetapi kalau pun tidak ada tidak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum dari lubuk hati yang paling dalam. Karena hati akan tersentuh oleh hati lagi. Seperti halnya kalau kita berjumpa dengan orang yang berhati tulus, perilakunya benar-benar akan meresap masuk ke rongga qolbu siapapun.
Orang yang mubah, ada tidak adanya tidak berpengaruh. Di kantor kerja atau bolos sama saja. Seorang pemuda yang ketika ada di rumah keadaan menjadi berantakan, dan kalau tidak adapun tetap berantakan. Inilah pemuda yang mubah. Ada dan tiadanya tidak membawa mamfaat, tidak juga membawa mudharat.
Adapun orang yang makruh, keberadannya justru membawa mudharat. Kalau dia tidak ada, tidak berpengaruh. Artinya kalau dia datang ke suatu tempat maka orang merasa bosan atau tidak senang. Misalnya, ada seorang ayah sebelum pulang dari kantor suasana rumah sangat tenang, tetapi ketika klakson dibunyikan tanda sang ayah sudah datang, anak-anak malah lari ke tetangga, ibu cemas, dan pembantu pun sangat gelisah. Inilah seorang ayah yang keberadaannya menimbulkan masalah. Lain lagi dengan orang bertipe haram, keberadaannya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Jika dia pergi ke kantor, perlengkapan kantor pada hilang, maka ketika orang ini dipecat semua karyawan yang ada malah mensyukurinya.
Masya Allah, tidak ada salahnya kita merenung sejenak, tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat mamfaat tidak dengan kehadiran kita? Adanya kita di masyarakat sebagai manusia apa, wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram? Kenapa tiap kita masuk ruangan teman-teman malah pada menjauhi, apakah karena perilaku sombong kita?
Kepada ibu-ibu, hendaknya tanyakan pada diri masing-masing, apakah anak-anak kita sudah merasa bangga punya ibu seperti kita? Punya mamfaat tidak kita ini? Bagi ayah cobalah mengukur diri, saya ini seorang ayah atau gladiator? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada para mubaligh, harus bertanya, benarkah kita menyampaikan kebenaran atau hanya mencari penghargaan dan popularitas saja? Baca Selengkapnya...
Bukan kebiasaan bagi yang akhlaknya baik itu perilaku melaknat, memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap tergesa-gesa, dengki, bakhil, ataupun menghasut. Justru ia selalu berwajah cerah, ramah tamah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan marahnya pun karena Allah SWT, subhanallaah, demikian indah hidupnya. Karenanya, siapapun di dekatnya pastilah akan tercuri hatinya. Kata-katanya akan senantiasa terngiang-ngiang. Keramahannya pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yang sedang membara. Jikalau saja orang yang berakhlak mulia ini tidak ada, maka siapapun akan merasa kehilangan, akan terasa ada sesuatu yang kosong di rongga qolbu ini. Orang yang wajib, adanya pasti penuh mamfaat. Begitulah kurang lebih perwujudan akhlak yang baik, dan ternyata ia hanya akan lahir dari semburat kepribadian yang baik pula.
Orang yang sunah, keberadaannya bermamfaat, tetapi kalau pun tidak ada tidak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum dari lubuk hati yang paling dalam. Karena hati akan tersentuh oleh hati lagi. Seperti halnya kalau kita berjumpa dengan orang yang berhati tulus, perilakunya benar-benar akan meresap masuk ke rongga qolbu siapapun.
Orang yang mubah, ada tidak adanya tidak berpengaruh. Di kantor kerja atau bolos sama saja. Seorang pemuda yang ketika ada di rumah keadaan menjadi berantakan, dan kalau tidak adapun tetap berantakan. Inilah pemuda yang mubah. Ada dan tiadanya tidak membawa mamfaat, tidak juga membawa mudharat.
Adapun orang yang makruh, keberadannya justru membawa mudharat. Kalau dia tidak ada, tidak berpengaruh. Artinya kalau dia datang ke suatu tempat maka orang merasa bosan atau tidak senang. Misalnya, ada seorang ayah sebelum pulang dari kantor suasana rumah sangat tenang, tetapi ketika klakson dibunyikan tanda sang ayah sudah datang, anak-anak malah lari ke tetangga, ibu cemas, dan pembantu pun sangat gelisah. Inilah seorang ayah yang keberadaannya menimbulkan masalah. Lain lagi dengan orang bertipe haram, keberadaannya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Jika dia pergi ke kantor, perlengkapan kantor pada hilang, maka ketika orang ini dipecat semua karyawan yang ada malah mensyukurinya.
Masya Allah, tidak ada salahnya kita merenung sejenak, tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan orang tua atau hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat mamfaat tidak dengan kehadiran kita? Adanya kita di masyarakat sebagai manusia apa, wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram? Kenapa tiap kita masuk ruangan teman-teman malah pada menjauhi, apakah karena perilaku sombong kita?
Kepada ibu-ibu, hendaknya tanyakan pada diri masing-masing, apakah anak-anak kita sudah merasa bangga punya ibu seperti kita? Punya mamfaat tidak kita ini? Bagi ayah cobalah mengukur diri, saya ini seorang ayah atau gladiator? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada para mubaligh, harus bertanya, benarkah kita menyampaikan kebenaran atau hanya mencari penghargaan dan popularitas saja? Baca Selengkapnya...
AGAR RAMADHAN PENUH RAHMAT, BERKAH, DAN BERMAKNA
Tak terasa hampir seminggu lagi kita memasuki bulan suci Ramadhan. Banyak hikmah yang bisa kita petik di bulan suci dan mulia ini, yang semuanya mengarah pada peningkatan makna kehidupan, peningkatan nilai diri, maqam spiritual, dan pembeningan jiwa dan nurani.
Kewajiban puasa ini bukan sesuatu yang baru dalam tradisi keagamaan manusia. Puasa telah Allah wajibkan kepada kaum beragama sebelum datangnya Nabi Muhammad Saw. Ini jelas terlihat dalam firman Allah berikut, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah:183) Ayat ini menegaskan tujuan final dari disyariatkannya puasa, yakni
tergapainya takwa. Namun, perlu diingat bahwa ketakwaan yang Allah janjikan itu bukanlah sesuatu yang gratis dan cuma-cuma diberikan kepada siapa saja yang berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari "rahim" Ramadhan adalah mereka yang lulus dalam ujian-ujian yang berlangsung pada bulan diklat itu.
Tak heran kiranya jika Rasulullah bersabda, "Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkn apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus" (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah). Mereka yang berpuasa, namun tidak melakukan pengendapan makna spiritual puasa, akan kehilangan kesempatan untuk meraih kandungan hakiki puasa itu.
Lalu apa yang mesti kita lakukan? Beberapa hal berikut ini mungkin akan bisa membantu menjadikan puasa kita penuh rahmah, berkah, dan bermakna:
Pertama, mempersiapkan persepsi yang benar tentang Ramadhan.
Bergairah dan tidaknya seseorang melakukan pekerjaan dan aktivitas, sangat korelatif dengan sejauh mana persepsi yang dia miliki tentang pekerjaan itu. Hal ini juga bisa menimpa kita, saat kita tidak memiliki persepsi yang bernar tentang puasa.
Oleh karena itulah, setiap kali Ramadhan menjelang Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya untuk memberikan persepsi yang benar tentang Ramadhan itu. Rasulullah bersabda,
"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah mengunjungimu
pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan
doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang yang sengsara adalah orang yang tidak mendapat rahmat Allah di bulan ini." (HR. Ath-Thabrani) .
Ini Rasulullah sampaikan agar para sahabat - dan tentu saja kita semua -
bersiap-siap menyambut kedatangan bulan suci ini dengan hati berbunga.
Maka menurut Rasulullah, sungguh tidak beruntung manusia yang melewatkan Ramadhan ini dengan sia-sia. Berlalu tanpa kenangan dan tanpa makna apa-apa.
Persepsi yang benar akan mendorong kita untuk tidak terjebak dalam
kesia-siaan di bulan Ramadhan. Saat kita tahu bahwa Ramadhan bulan ampunan, maka kita akan meminta ampunan pada Sang Maha Pengampun. Jika kita tahu bulan ini bertabur rahmat, kita akan berlomba dengan antusias untuk menggapainya. Jika pintu surga dibuka, kita akan berlari kencang untuk memasukinya. Jika pintu neraka ditutup kita tidak akan mau mendekatinya sehingga dia akan menganga.
Kedua, membekali diri dengan ilmu yang cukup dan memadai.
Untuk memasuki puasa, kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa itu. Tentang rukun yang wajib kita lakukan, syarat-syaratnya, hal yang boleh dan membatalkan, dan apa saja yang dianjurkan.
Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan senantiasa menjadi panduan pada saat kita puasa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk meningkatkan kwalitas ketakwaan kita serta akan mampu melahirkan puasa yang berbobot dan berisi. Sebagaimana yang Rasulullah sabdakan,
"Barang siapa yang puasa Ramadhan dan mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka itu akan menjadi pelebur dosa yang dilakukan sebelumnya." (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi).
Agar puasa kita bertabur rahmat, penuh berkah, dan bermakna, sejak awal kita harus siap mengisi puasa dari dimensi lahir dan batinnya. Puasa merupakan "sekolah moralitas dan etika", tempat berlatih orang-orang mukmin. Latihan bertarung membekap hawa nafsunya, berlatih memompa kesabarannya, berlatih mengokohkan sikap amanah. Berlatih meningkatkan semangat baja dan kemauan.
Berlatih menjernihkan otak dan akal pikiran.
Puasa akan melahirkan pandangan yang tajam. Sebab, perut yang selalu penuh makanan akan mematikan pikiran, meluberkan hikmah, dan meloyokan anggota badan.
Puasa melatih kaum muslimin untuk disiplin dan tepat waktu, melahirkan
perasaan kesatuan kaum muslimin, menumbuhkan rasa kasing sayang,
solidaritas, simpati, dan empati terhadap sesama.
Tak kalah pentingnya yang harus kita tekankan dalam puasa adalah dimensi batinnya. Dimana kita mampu menjadikan anggota badan kita puasa untuk tidak melakukan hal-hal yang Allah murkai.
Dimensi ini akan dicapai, kala mata kita puasa untuk tidak melihat hal-hal
yang haram, telinga tidak untuk menguping hal-hal yang melalaikan kita dari Allah, mulut kita puasa untuk tidak mengatakan perkataan dusta dan sia-sia. Kaki kita tidak melangkah ke tempat-tempat bertabur maksiat dan kekejian,tangan kita tidak pernah menyentuh harta haram.
Pikiran kita bersih dari sesuatu yang menggelapkan hati. Dalam pikiran dan hati tidak bersarang ketakaburan, kedengkian, kebencian pada sesama, angkara, rakus dan tamak serta keangkuhan.
Sahabat Rasulullah, Jabir bin Abdullah berkata, "Jika kamu berpuasa, maka hendaknya puasa pula pendengar dan lisanmu dari dusta dan sosa-dosa. Tinggalkanlah menyakiti tetangga dan hendaknya kamu bersikap tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu (saat tidak berpuasa) sama dengan hari kamu berpuasa."
"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan dia mengamalkannya maka Allah tidak menghajatkan dari orang itu untuk tidak makan dan tidak
minum." (HR. Bukhari dan Ahmad dan lainnya)
Mari kita jadikan puasa ini sebagai langkah awal untuk membangun gugusan amal ke depan. Baca Selengkapnya...
Kewajiban puasa ini bukan sesuatu yang baru dalam tradisi keagamaan manusia. Puasa telah Allah wajibkan kepada kaum beragama sebelum datangnya Nabi Muhammad Saw. Ini jelas terlihat dalam firman Allah berikut, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah:183) Ayat ini menegaskan tujuan final dari disyariatkannya puasa, yakni
tergapainya takwa. Namun, perlu diingat bahwa ketakwaan yang Allah janjikan itu bukanlah sesuatu yang gratis dan cuma-cuma diberikan kepada siapa saja yang berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari "rahim" Ramadhan adalah mereka yang lulus dalam ujian-ujian yang berlangsung pada bulan diklat itu.
Tak heran kiranya jika Rasulullah bersabda, "Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkn apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus" (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah). Mereka yang berpuasa, namun tidak melakukan pengendapan makna spiritual puasa, akan kehilangan kesempatan untuk meraih kandungan hakiki puasa itu.
Lalu apa yang mesti kita lakukan? Beberapa hal berikut ini mungkin akan bisa membantu menjadikan puasa kita penuh rahmah, berkah, dan bermakna:
Pertama, mempersiapkan persepsi yang benar tentang Ramadhan.
Bergairah dan tidaknya seseorang melakukan pekerjaan dan aktivitas, sangat korelatif dengan sejauh mana persepsi yang dia miliki tentang pekerjaan itu. Hal ini juga bisa menimpa kita, saat kita tidak memiliki persepsi yang bernar tentang puasa.
Oleh karena itulah, setiap kali Ramadhan menjelang Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya untuk memberikan persepsi yang benar tentang Ramadhan itu. Rasulullah bersabda,
"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah mengunjungimu
pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan
doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang yang sengsara adalah orang yang tidak mendapat rahmat Allah di bulan ini." (HR. Ath-Thabrani) .
Ini Rasulullah sampaikan agar para sahabat - dan tentu saja kita semua -
bersiap-siap menyambut kedatangan bulan suci ini dengan hati berbunga.
Maka menurut Rasulullah, sungguh tidak beruntung manusia yang melewatkan Ramadhan ini dengan sia-sia. Berlalu tanpa kenangan dan tanpa makna apa-apa.
Persepsi yang benar akan mendorong kita untuk tidak terjebak dalam
kesia-siaan di bulan Ramadhan. Saat kita tahu bahwa Ramadhan bulan ampunan, maka kita akan meminta ampunan pada Sang Maha Pengampun. Jika kita tahu bulan ini bertabur rahmat, kita akan berlomba dengan antusias untuk menggapainya. Jika pintu surga dibuka, kita akan berlari kencang untuk memasukinya. Jika pintu neraka ditutup kita tidak akan mau mendekatinya sehingga dia akan menganga.
Kedua, membekali diri dengan ilmu yang cukup dan memadai.
Untuk memasuki puasa, kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa itu. Tentang rukun yang wajib kita lakukan, syarat-syaratnya, hal yang boleh dan membatalkan, dan apa saja yang dianjurkan.
Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan senantiasa menjadi panduan pada saat kita puasa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk meningkatkan kwalitas ketakwaan kita serta akan mampu melahirkan puasa yang berbobot dan berisi. Sebagaimana yang Rasulullah sabdakan,
"Barang siapa yang puasa Ramadhan dan mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka itu akan menjadi pelebur dosa yang dilakukan sebelumnya." (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi).
Agar puasa kita bertabur rahmat, penuh berkah, dan bermakna, sejak awal kita harus siap mengisi puasa dari dimensi lahir dan batinnya. Puasa merupakan "sekolah moralitas dan etika", tempat berlatih orang-orang mukmin. Latihan bertarung membekap hawa nafsunya, berlatih memompa kesabarannya, berlatih mengokohkan sikap amanah. Berlatih meningkatkan semangat baja dan kemauan.
Berlatih menjernihkan otak dan akal pikiran.
Puasa akan melahirkan pandangan yang tajam. Sebab, perut yang selalu penuh makanan akan mematikan pikiran, meluberkan hikmah, dan meloyokan anggota badan.
Puasa melatih kaum muslimin untuk disiplin dan tepat waktu, melahirkan
perasaan kesatuan kaum muslimin, menumbuhkan rasa kasing sayang,
solidaritas, simpati, dan empati terhadap sesama.
Tak kalah pentingnya yang harus kita tekankan dalam puasa adalah dimensi batinnya. Dimana kita mampu menjadikan anggota badan kita puasa untuk tidak melakukan hal-hal yang Allah murkai.
Dimensi ini akan dicapai, kala mata kita puasa untuk tidak melihat hal-hal
yang haram, telinga tidak untuk menguping hal-hal yang melalaikan kita dari Allah, mulut kita puasa untuk tidak mengatakan perkataan dusta dan sia-sia. Kaki kita tidak melangkah ke tempat-tempat bertabur maksiat dan kekejian,tangan kita tidak pernah menyentuh harta haram.
Pikiran kita bersih dari sesuatu yang menggelapkan hati. Dalam pikiran dan hati tidak bersarang ketakaburan, kedengkian, kebencian pada sesama, angkara, rakus dan tamak serta keangkuhan.
Sahabat Rasulullah, Jabir bin Abdullah berkata, "Jika kamu berpuasa, maka hendaknya puasa pula pendengar dan lisanmu dari dusta dan sosa-dosa. Tinggalkanlah menyakiti tetangga dan hendaknya kamu bersikap tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu (saat tidak berpuasa) sama dengan hari kamu berpuasa."
"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan dia mengamalkannya maka Allah tidak menghajatkan dari orang itu untuk tidak makan dan tidak
minum." (HR. Bukhari dan Ahmad dan lainnya)
Mari kita jadikan puasa ini sebagai langkah awal untuk membangun gugusan amal ke depan. Baca Selengkapnya...
03/06/10
Bundaran HI Ramai Demo Kutuk Israel
Kamis, 03/06/2010 09:59 WIB
Tragedi Freedom Flotilla
Bundaran HI Ramai Demo Kutuk Israel
Jakarta - Aksi mengutuk tindakan Israel yang menyerang kapal relawan kemanusiaan terus dilakukan. Bundaran HI kembali menjadi pusat aksi mengecam itu.
Aksi dilakukan 100 orang dari Persatuan Umat Islam (PUI) yang di ikuti oleh DPP Pemuda PUI, Himpunan Mahasiswa (HIMA PUI), Himpunan Pelajar (HIJAR PUI). Mereka mengelilingi Bundaran HI, Jl Thamrin, Kamis (3/6/2010) pukul 09.45 WIB dengan menabuh drum dan membawa bendera Palestina.
Mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan 'Kami Pernah Mengalahkan Penjajah', 'Kami Tunggu Israel di Indonesia', Israel = Teroris', dan 'Israel Go To Hell'.
Mereka mengadakan doa bersama untuk keselamatan rakyat Palestina dan relawan.
Koordinator aksi, Kana Kurniawan, mendesak PBB memberikan tindakan tegas bagi pemerintahan Israel.
"Kami meminta PBB menyeret PM Israel Benjamin Netanyahu ke pengadilan internasional," teriak Kana.
Aksi tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas. Sekitar 4 polisi berjaga-jaga di sekitar lokasi. By; Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Baca Selengkapnya...
Tragedi Freedom Flotilla
Bundaran HI Ramai Demo Kutuk Israel
Jakarta - Aksi mengutuk tindakan Israel yang menyerang kapal relawan kemanusiaan terus dilakukan. Bundaran HI kembali menjadi pusat aksi mengecam itu.
Aksi dilakukan 100 orang dari Persatuan Umat Islam (PUI) yang di ikuti oleh DPP Pemuda PUI, Himpunan Mahasiswa (HIMA PUI), Himpunan Pelajar (HIJAR PUI). Mereka mengelilingi Bundaran HI, Jl Thamrin, Kamis (3/6/2010) pukul 09.45 WIB dengan menabuh drum dan membawa bendera Palestina.
Mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan 'Kami Pernah Mengalahkan Penjajah', 'Kami Tunggu Israel di Indonesia', Israel = Teroris', dan 'Israel Go To Hell'.
Mereka mengadakan doa bersama untuk keselamatan rakyat Palestina dan relawan.
Koordinator aksi, Kana Kurniawan, mendesak PBB memberikan tindakan tegas bagi pemerintahan Israel.
"Kami meminta PBB menyeret PM Israel Benjamin Netanyahu ke pengadilan internasional," teriak Kana.
Aksi tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas. Sekitar 4 polisi berjaga-jaga di sekitar lokasi. By; Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Baca Selengkapnya...
01/06/10
Freedom for Palestine
Assalamu`alaikum Wr.Wb.
Sejarah hitam Israel terhadap Palestina telah menjadi kekejian setelah era komunis dan nazi Jerman. Israel terang-terangan melakukan pembantaian terhadap warga Palestina yang tidak berdosa; mengisolasi hingga kelaparan, merobohkan rumah tinggal dan fasilitas warga hingga mengusirnya dari tanah haknya. Dewan Keamanan PBB sebagai lembaga pemelihara perdamaian tertinggi dunia tidak bernyali dan seolah mengabaikan atas kebrutalan Negara Yahudi itu. Bahkan Negara-negara Arab seakan menutup mata atas genosida saudaranya warga Palestina selama puluhan tahun hingga ribuan nyawa melayang oleh kebengisan Israel.
Kini, ketika para relawan kemanusiaan Internasional hendak mengirim bantuan terhadap Palestian, diserang dengan pasukan khusus Israel (Vivanews, 31/5). Ada sedikitnya 20 relawan tewas dan puluhan lainnya terluka. Padahal mereka murni melakukan misi kemanusiaan terhadap warga Palestina.
Atas dasar itulah, kami PP Pemuda PUI mendesak pemerintah dan DPR RI segera bertindak tegas terkait kebrutalan tentara Israel menyerbu kapal misi kemanusiaan,Mavi Marmara. Diantaranya:
1. Mendesak OKI dan Negara-negara Arab harus memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel
2. Mendesak Dewan Keamanan PBB mengadili Israel ke mahkamah Internasional karena pelanggaran HAM
3.Mendesak Dewan Keamanan PBB memberikan sanksi kepada Israel
4.Mendesak PBB untuk menekan Israel membuka blokade terhadap Gaza
5. Dunia Islam harus bersatu melawan hegemoni dan memberikan bantuan terhadap Palestina
Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan semoga bermafaat bagi kedamaian di dunia dan khususnya di kawasan Timur-Tengah.
Wassalamu`alaik Wr.Wb.
Freedom for Palestine
Jakarta, 31 Mei 2010
By: Kana Kurniawan (Ketua Dep.Kajian Strategis PP PUI, 081324458804) Baca Selengkapnya...
Sejarah hitam Israel terhadap Palestina telah menjadi kekejian setelah era komunis dan nazi Jerman. Israel terang-terangan melakukan pembantaian terhadap warga Palestina yang tidak berdosa; mengisolasi hingga kelaparan, merobohkan rumah tinggal dan fasilitas warga hingga mengusirnya dari tanah haknya. Dewan Keamanan PBB sebagai lembaga pemelihara perdamaian tertinggi dunia tidak bernyali dan seolah mengabaikan atas kebrutalan Negara Yahudi itu. Bahkan Negara-negara Arab seakan menutup mata atas genosida saudaranya warga Palestina selama puluhan tahun hingga ribuan nyawa melayang oleh kebengisan Israel.
Kini, ketika para relawan kemanusiaan Internasional hendak mengirim bantuan terhadap Palestian, diserang dengan pasukan khusus Israel (Vivanews, 31/5). Ada sedikitnya 20 relawan tewas dan puluhan lainnya terluka. Padahal mereka murni melakukan misi kemanusiaan terhadap warga Palestina.
Atas dasar itulah, kami PP Pemuda PUI mendesak pemerintah dan DPR RI segera bertindak tegas terkait kebrutalan tentara Israel menyerbu kapal misi kemanusiaan,Mavi Marmara. Diantaranya:
1. Mendesak OKI dan Negara-negara Arab harus memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel
2. Mendesak Dewan Keamanan PBB mengadili Israel ke mahkamah Internasional karena pelanggaran HAM
3.Mendesak Dewan Keamanan PBB memberikan sanksi kepada Israel
4.Mendesak PBB untuk menekan Israel membuka blokade terhadap Gaza
5. Dunia Islam harus bersatu melawan hegemoni dan memberikan bantuan terhadap Palestina
Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan semoga bermafaat bagi kedamaian di dunia dan khususnya di kawasan Timur-Tengah.
Wassalamu`alaik Wr.Wb.
Freedom for Palestine
Jakarta, 31 Mei 2010
By: Kana Kurniawan (Ketua Dep.Kajian Strategis PP PUI, 081324458804) Baca Selengkapnya...
Aksi Solidaritas Palestina Di HI Makin Bertambah
Keprihatinan atas tragedi penyerangan tentara Israel terhadap rombongan Misi Kemanusiaan mengunakan Kapal Mavi Marmara di Perairan Gaza makin bertambah. Sedikitnya 200 mahasiswa dari Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UI dan UNJ mengelar aksi unjuk rasa di Bunderan HI Jakarta, Selasa (1/6/2010). Mereka mengecam aksi brutal tentara Israel yang menyebabkan korban jiwa. "Pemerintah Indonesia harus tegas menghadapi tindakan Israel terhadap kondisi WNI di Kapal Mavi Marmara. Dukung secara konkret atas kemerdekaan Palestina," tegas Koordinator Aksi Ikhwan dalam orasinya.
Sementara itu Ketua Umum PP Pemuda Persatuan Umat Islam (PPUI) Iman Budiman dalam orasinya mendesak Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan negara-negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. "Tragedi ini menjadi sejarah hitam kekejian setelah era komunis dan nazi Jerman. Oleh karena itu Dewan Keamanan PBB harus mengadili Israel ke mahkamah internasional karena melanggar HAM," tegasnya.
Mereka juga menghimbau kepada dunia Islam bersatu melawan hegemoni dan memberikan bantuan kepada Palestina. "PBB harus buka blokade terhadap Gaza. Ini untuk masuknya bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina," kata Iman.
Iman menambahkan, DK PBB sebagai lembaga pemelihara perdamaian tertinggi di dunia tidak boleh mengabaikan aksi brutal Israel terhadap Palestina. "Sampai saat ini DK PBB masih belum bernyali dan cuek atas penindasan Israel terhadap Palestina. Ini tidak boleh terjadi lagi," pungkasnya.[wid] Utama | Nasional Written by Redaksi Seruu.Com on Tuesday, 01 June 2010 14:19Aksi
Baca Selengkapnya...
Sementara itu Ketua Umum PP Pemuda Persatuan Umat Islam (PPUI) Iman Budiman dalam orasinya mendesak Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan negara-negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. "Tragedi ini menjadi sejarah hitam kekejian setelah era komunis dan nazi Jerman. Oleh karena itu Dewan Keamanan PBB harus mengadili Israel ke mahkamah internasional karena melanggar HAM," tegasnya.
Mereka juga menghimbau kepada dunia Islam bersatu melawan hegemoni dan memberikan bantuan kepada Palestina. "PBB harus buka blokade terhadap Gaza. Ini untuk masuknya bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina," kata Iman.
Iman menambahkan, DK PBB sebagai lembaga pemelihara perdamaian tertinggi di dunia tidak boleh mengabaikan aksi brutal Israel terhadap Palestina. "Sampai saat ini DK PBB masih belum bernyali dan cuek atas penindasan Israel terhadap Palestina. Ini tidak boleh terjadi lagi," pungkasnya.[wid] Utama | Nasional Written by Redaksi Seruu.Com on Tuesday, 01 June 2010 14:19Aksi
Baca Selengkapnya...
10/05/10
Memahami Filosofi Doa
Ketika doa dianalogikan sebagai senjata orang-orang mukminsepertinya hal itu tidaklah salah dan tidak juga berlebihan. Bahkan seharusnya kelebihan ini dipergunakan oleh ummat islam sebaik-baiknya. Sebab, di balik doa ada makna yang luar biasa dahsyatnya. Ia bisa membalikan keadaan seratus delapan puluh derajat, melahirkan perubahan pada sikap si pendoa,merubah nasibnya, merubah kondisi dan keadaan yang selama ini menggelisahkan atau menyulitkan dan seterusnya. Ia kan menjadi lebih sempurna dan efektif jika mereka yang memanjatkan doa itu mengerti makna, hakekat, piqh, dan filosofis doa itu. Suatu perubahan deratis itu mungkin sekali terjadi dalam bilangan menit, jam, hari atau barang kalibulan dan tahun. Semua tergantung dari pemahaman dan keyakinan seseorang.
Jika filosofi doa dapat ditangkap oleh setiap pendoa, maka sama sekali bukan mustahil jika hal itu akan membawaperubahan pada pribadi dan sikapnya. Satu poin diantaranya adalah orang yang berdoa dan paham bahwa dia berdoa,itu berarti dia tahu pasisi diasebagai hamba, sedangkan disana ada tuhan yang disembah dan punya kemampuan yang luar biasa. Maha mendengar, maha melihat, maha mengetahui, maha penguasa atas segala sesuatu.
Namun semua itu akan berdampak minimal jika hal itu tidak digunakan, atau jarang digunakan atau sama sekali tidak pernah digunakan. Sama seperti nasib beberapa Negara eks uni soviet yang dinegaranya disimpan bom nuklir. Mereka tidak bisa dan tidak diperbolehkan menggunakannya, namun Negara tersebut tetap ditakuti barat karena bisa jadi bom ini disalh gunakan.
Dimana letak kekuatan dio itu? Kekuatanya ada pada kekuatan tuhan. Sebab dalam doa tuhan dilibatkan, bahkan disandarkan. Tuhan menjadi penjamin dan pembeking semua. Sedangkan tuham memiliki semua yang diperlukan manusia, bahkan lebih yang mereka bayangkan.
Dilain pihak, Tuhan dengan segala sifat dan ke Mahaan-NYA berjanji untuk ikut terlibat jika di panggil dan dilibatkan. Disini makna "panggilah AKU niscaya AKU akan memenuhinya". Dan Tuhan tidak akan mengingkari janjiNYA.
Keimanan yang mutlak dengan konsef doa yang sebagai mana yang dijelaskan didalam Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih merupakan dasar yang baik untuk dampak psikologis semua ini. Untuk itu, jika hal ini belum di miliki seseorang, maka sebaiknya seseorang itu membaca terlebih dahulu bku-buku dan kitab-kitab yang mengupas soal piqhdoa dan filosofisnya. Atau paling tidak, renungkanlah ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan. Semoga bermamfaat. (M. Iqbal, Dep Kaderisasi dan da'wah)
Baca Selengkapnya...
Jika filosofi doa dapat ditangkap oleh setiap pendoa, maka sama sekali bukan mustahil jika hal itu akan membawaperubahan pada pribadi dan sikapnya. Satu poin diantaranya adalah orang yang berdoa dan paham bahwa dia berdoa,itu berarti dia tahu pasisi diasebagai hamba, sedangkan disana ada tuhan yang disembah dan punya kemampuan yang luar biasa. Maha mendengar, maha melihat, maha mengetahui, maha penguasa atas segala sesuatu.
Namun semua itu akan berdampak minimal jika hal itu tidak digunakan, atau jarang digunakan atau sama sekali tidak pernah digunakan. Sama seperti nasib beberapa Negara eks uni soviet yang dinegaranya disimpan bom nuklir. Mereka tidak bisa dan tidak diperbolehkan menggunakannya, namun Negara tersebut tetap ditakuti barat karena bisa jadi bom ini disalh gunakan.
Dimana letak kekuatan dio itu? Kekuatanya ada pada kekuatan tuhan. Sebab dalam doa tuhan dilibatkan, bahkan disandarkan. Tuhan menjadi penjamin dan pembeking semua. Sedangkan tuham memiliki semua yang diperlukan manusia, bahkan lebih yang mereka bayangkan.
Dilain pihak, Tuhan dengan segala sifat dan ke Mahaan-NYA berjanji untuk ikut terlibat jika di panggil dan dilibatkan. Disini makna "panggilah AKU niscaya AKU akan memenuhinya". Dan Tuhan tidak akan mengingkari janjiNYA.
Keimanan yang mutlak dengan konsef doa yang sebagai mana yang dijelaskan didalam Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih merupakan dasar yang baik untuk dampak psikologis semua ini. Untuk itu, jika hal ini belum di miliki seseorang, maka sebaiknya seseorang itu membaca terlebih dahulu bku-buku dan kitab-kitab yang mengupas soal piqhdoa dan filosofisnya. Atau paling tidak, renungkanlah ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan. Semoga bermamfaat. (M. Iqbal, Dep Kaderisasi dan da'wah)
Baca Selengkapnya...
TIGA ASPEK PENTING DALAM PENGORGANISASIAN
Pengorganisasian mengandung pengertian sebagai proses penetapan struktur peran-peran melalui penentuan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dan bagian-bagiannya, pengelompokkan aktivitas-aktivitas, penugasan kelompok-kelompok aktivitas kepada manajer-manajer, pendelegasian wewenang untuk melaksanakannya, pengkoordinasian hubungan-hubungan wewenang dan informasi, baik horisontal maupun vertikal dalam struktur organisasi. Agar keberadaan organisasi menjadi berarti bagi SDM internalnya dan juga masyarakat di lingkungannya, maka peran organisasi haruslah mencakup tiga hal berikut. Pertama, harus memiliki tujuan yang dapat dibuktikan. Kedua, konsep kewenangan beserta aktivitas yang terlibat harus jelas. Ketiga, memiliki batasan kebijakan organisasi yang jelas dan dapat dimengerti oleh seluruh SDM-nya. Pada tataran implementasinya, ketiga hal tersebut tercermin pada aspek struktur, tugas dan wewenang serta hubungan anggota.
1. Aspek Struktur
Implementasi syariah pada aspek ini terutama pada alokasi SDM yang berkorelasi dengan faktor profesionalisme serta aqad (perjanjian) pekerjaan/tugas.
Selain memerintahkan bekerja, Islam juga memberikan tuntunan kepada setiap Muslim agar dalam bekerja di bidang apapun haruslah mempunyai sikap yang profesional. Dalam buku Program Peningkatan Kontrol Diri, SEM Institute (2000), dinyatakan bahwa Profesionalime menurut pandangan Islam dicirikan oleh tiga hal, yakni (1) kafa`ah, yaitu adanya keahlian dan kecakapan dalam bidang pekerjaan yang dilakukan; (2) himmatul ‘amal, yakni memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi; dan (3) amanah, yakni terpercaya dan bertanggungjawab dalam menjalankan berbagai tugas dan kewajibannya serta tidak berkhianat terhadap jabatan yang didudukinya.
Untuk mewujudkan SDM muslim yang profesional, Islam telah memberikan tuntunan yang yang sangat jelas. Kafa’ah atau keahlian dan kecakapan diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman; (2) Himmatu al-‘amal atau etos kerja yang tinggi diraih dengan jalan menjadikan motivasi ibadah sebagai pendorong utama di samping motivasi penghargaan (reward) dan hukuman (punishment); serta (3) Amanah atau sifat terpercaya dan bertanggungjawab diperoleh dengan menjadikan tauhid sebagai unsur pendorong dan pengontrol utama tingkah laku.
2. Aspek Tugas dan Wewenang
Implementasi syariah pada aspek ini terutama ditekankan pada kejelasan tugas dan wewenang masing-masing bidang yang diterima oleh para SDM pelaksana berdasarkan kesanggupan dan kemampuan masing-masing sesuai dengan aqad pekerjaan tersebut.
3. Aspek Hubungan Anggota
Implementasi syariah pada aspek ini dapat dilihat pada penetapan budaya organisasi bahwa setiap interaksi antar SDM adalah hubungan muamalah yang selalu mengacu pada amar ma’ruf dan nahi munkar.
Interaksi antar anggota organisasi haruslah terjaga dalam suasana kebersamaan team (together everyone achieve more). Hal ini dimaksudkan agar tetap kondusif dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Suatu tim dimana seluruh anggotanya bersinergi dalam kesamaan visi, misi dan tujuan organisasi. Suasana tersebut dapat diringkas dalam formula three in one (3 in 1), yakni kebersamaan seluruh anggota dalam kesatuan bingkai thinking-afkar (ide/pemikiran), feeling-masyair (perasaan) dan rule of game-nidzam (aturan bermain). Tentu saja interaksi yang terjadi berada dalam koridor amar ma’ruf dan nahi munkar.
Guna memastikan bahwa tujuan organisasi di semua tingkat dan rencana yang didesain untuk mencapainya, sedang dilaksanakan dan terjaga harmoninya, maka. dibutuhkan tiga pilar harmoni organisasi, yaitu:
• Ketaqwaan individu.
Seluruh personel SDM organisasi dipastikan dan dibina agar menjadi SDM yang bertaqwa.
• Kontrol anggota.
Dengan suasana organisasi yang mencerminkan formula TEAM, maka proses keberlangsungan organisasi selalu akan mendapatkan pengawalan dari para SDM-nya agar sesuai dengan arah yang telah ditetapkan.
• Penerapan (supremasi) aturan.
Organisasi ditegakkan dengan aturan main yang jelas dan transparan serta –tentu saja – tidak bertentangan dengan syariah.
Insyaallah by; (maruf saefullah)
Baca Selengkapnya...
1. Aspek Struktur
Implementasi syariah pada aspek ini terutama pada alokasi SDM yang berkorelasi dengan faktor profesionalisme serta aqad (perjanjian) pekerjaan/tugas.
Selain memerintahkan bekerja, Islam juga memberikan tuntunan kepada setiap Muslim agar dalam bekerja di bidang apapun haruslah mempunyai sikap yang profesional. Dalam buku Program Peningkatan Kontrol Diri, SEM Institute (2000), dinyatakan bahwa Profesionalime menurut pandangan Islam dicirikan oleh tiga hal, yakni (1) kafa`ah, yaitu adanya keahlian dan kecakapan dalam bidang pekerjaan yang dilakukan; (2) himmatul ‘amal, yakni memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi; dan (3) amanah, yakni terpercaya dan bertanggungjawab dalam menjalankan berbagai tugas dan kewajibannya serta tidak berkhianat terhadap jabatan yang didudukinya.
Untuk mewujudkan SDM muslim yang profesional, Islam telah memberikan tuntunan yang yang sangat jelas. Kafa’ah atau keahlian dan kecakapan diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman; (2) Himmatu al-‘amal atau etos kerja yang tinggi diraih dengan jalan menjadikan motivasi ibadah sebagai pendorong utama di samping motivasi penghargaan (reward) dan hukuman (punishment); serta (3) Amanah atau sifat terpercaya dan bertanggungjawab diperoleh dengan menjadikan tauhid sebagai unsur pendorong dan pengontrol utama tingkah laku.
2. Aspek Tugas dan Wewenang
Implementasi syariah pada aspek ini terutama ditekankan pada kejelasan tugas dan wewenang masing-masing bidang yang diterima oleh para SDM pelaksana berdasarkan kesanggupan dan kemampuan masing-masing sesuai dengan aqad pekerjaan tersebut.
3. Aspek Hubungan Anggota
Implementasi syariah pada aspek ini dapat dilihat pada penetapan budaya organisasi bahwa setiap interaksi antar SDM adalah hubungan muamalah yang selalu mengacu pada amar ma’ruf dan nahi munkar.
Interaksi antar anggota organisasi haruslah terjaga dalam suasana kebersamaan team (together everyone achieve more). Hal ini dimaksudkan agar tetap kondusif dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Suatu tim dimana seluruh anggotanya bersinergi dalam kesamaan visi, misi dan tujuan organisasi. Suasana tersebut dapat diringkas dalam formula three in one (3 in 1), yakni kebersamaan seluruh anggota dalam kesatuan bingkai thinking-afkar (ide/pemikiran), feeling-masyair (perasaan) dan rule of game-nidzam (aturan bermain). Tentu saja interaksi yang terjadi berada dalam koridor amar ma’ruf dan nahi munkar.
Guna memastikan bahwa tujuan organisasi di semua tingkat dan rencana yang didesain untuk mencapainya, sedang dilaksanakan dan terjaga harmoninya, maka. dibutuhkan tiga pilar harmoni organisasi, yaitu:
• Ketaqwaan individu.
Seluruh personel SDM organisasi dipastikan dan dibina agar menjadi SDM yang bertaqwa.
• Kontrol anggota.
Dengan suasana organisasi yang mencerminkan formula TEAM, maka proses keberlangsungan organisasi selalu akan mendapatkan pengawalan dari para SDM-nya agar sesuai dengan arah yang telah ditetapkan.
• Penerapan (supremasi) aturan.
Organisasi ditegakkan dengan aturan main yang jelas dan transparan serta –tentu saja – tidak bertentangan dengan syariah.
Insyaallah by; (maruf saefullah)
Baca Selengkapnya...
INDAHNYA MENAHAN MARAH
Oleh; Samlawi
"Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskannya (melampiaskannya), maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi)
Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja ditanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan ma’nawiyah (keimananan) seseorang.
Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyelurusi lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada.
Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan dengan cara menumpahkan darah. Na’udzubillah.
Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi S.A.W. dengan maksud ingin meminta sesuatu pada beliau. Beliau memberinya, lalu bersabda, "Aku berbuat baik padamu." Badwi itu berkata, "Pemberianmu tidak bagus." Para sahabat merasa tersinggung, lalu mengerumuninya dengan kemarahan. Namun, Nabi memberi isyarat agar mereka bersabar.
Kemudian, Nabi S.A.W. pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa barang tambahan untuk diberikan ke Badwi. Nabi bersabda pada Badwi itu, "Aku berbuat baik padamu?" Badwi itu berkata, "Ya, semoga Allah membalas kebaikan Tuan, keluarga dan kerabat."
Keesokan harinya, Rasulullah S.A.W. bersabda kepada para sahabat, "Nah, kalau pada waktu Badwi itu berkata yang sekasar engkau dengar, kemudian engkau tidak bersabar lalu membunuhnya. Maka, ia pasti masuk neraka. Namun, karena saya bina dengan baik, maka ia selamat."
Beberapa hari setelah itu, si Badwi mau diperintah untuk melaksanakan tugas penting yang berat sekalipun. Dia juga turut dalam medan jihad dan melaksanakan tugasnya dengan taat dan ridha.
Rasulullah S.A.W. memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak panik menghadapi kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah karakternya. Kalau pun saat itu, dilakukan hukuman terhadap si Badwi, tentu hal itu bukan kezhaliman. Namun, Rasulullah S.A.W. tidak berbuat demikian. Beliau tetap sabar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah, beliau S.A.W. ingin menunjukkan pada kita bahwa kesabaran dan lapang dada lebih tinggi nilainya daripada harta benda apa pun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang bertumpuk yang dipakai untuk suguhan unta yang ngamuk. Tentu saja, unta yang telah mendapatkan kebutuhannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan bisa digunakan untuk menempuh perjalan jauh.
Adakalanya, Rasulullah S.A.W. juga marah. Namun, marahnya tidak melampaui batas kemuliaan. Itu pun ia lakukan bukan karena masalah pribadi. Melainkan, karena kehormatan agama Allah.
Rasulullah S.A.W. bersabda, "Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa), dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam)." (HR. Bukhari)
Sabdanya pula, "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor." (HR. Turmudzi).
Seorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya berontak, dan mampu menahan diri di kala mendapat ejekan. Maka, orang seperti inilah yang diharapkan menghasilkan kebaikan dan kebajikan bagi dirinya maupun masyarakatnya.
Seorang hakim yang tidak mampu menahan marahnya, tidak akan mampu memutuskan perkara dengan adil. Dan, seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa memunculkan permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil pasangannya.
Bagi orang yang imannya telah tumbuh dengan suburnya dalam dadanya. Maka, tumbuh pula sifat-sifat jiwa besarnya. Subur pula rasa kesadarannya dan kemurahan hatinya. Kesabarannya pun bertambah besar dalam menghadapi sesuatu masalah. Tidak mudah memarahi seseorang yang bersalah dengan begitu saja, sekalipun telah menjadi haknya.
Orang yang demikian, akan mampu menguasai dirinya, menahan amarahnya, mengekang lidahnya dari pembicaraan yang tidak patut. Wajib baginya, melatih diri dengan cara membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit hati. Seperti, ujub dan takabur, riya, sum’ah, dusta, pengadu domba dan lain sebagainya. Dan menyertainya dengan amalan-amalan ibadah dan ketaatan kepada Allah, demi meningkatkan derajat yang tinggi di sisi Allah S.W.T.
Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah S.A.W. bersabda, "Apakah tiada lebih baik saya beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan mengangkat derajat seseorang?" Para sahabat menjawab, "Baik, ya Rasulullah." Rasulullah saw bersabda, "Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau." (HR. Thabrani).
Sabdanya pula, "Bahwasanya seorang hamba apabila mengutuk kepada sesuatu, naiklah kutukan itu ke langit. Lalu, dikunci pintu langit-langit itu buatnya. Kemudian, turunlah kutukan itu ke bumi, lalu dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian, berkeliaranlah ia kekanan dan kekiri. Maka, apabila tidak mendapat tempat baru, ia pergi kepada yang dilaknat. Bila layak dilaknat (artinya kalau benar ia berhak mendapat laknat), tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang yang mengutuk (kembali ke alamat si pengutuk)." (HR. Abu Dawud).
(Referensi dari berbagai sumber)
Baca Selengkapnya...
"Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskannya (melampiaskannya), maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi)
Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja ditanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan ma’nawiyah (keimananan) seseorang.
Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyelurusi lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada.
Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan dengan cara menumpahkan darah. Na’udzubillah.
Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi S.A.W. dengan maksud ingin meminta sesuatu pada beliau. Beliau memberinya, lalu bersabda, "Aku berbuat baik padamu." Badwi itu berkata, "Pemberianmu tidak bagus." Para sahabat merasa tersinggung, lalu mengerumuninya dengan kemarahan. Namun, Nabi memberi isyarat agar mereka bersabar.
Kemudian, Nabi S.A.W. pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa barang tambahan untuk diberikan ke Badwi. Nabi bersabda pada Badwi itu, "Aku berbuat baik padamu?" Badwi itu berkata, "Ya, semoga Allah membalas kebaikan Tuan, keluarga dan kerabat."
Keesokan harinya, Rasulullah S.A.W. bersabda kepada para sahabat, "Nah, kalau pada waktu Badwi itu berkata yang sekasar engkau dengar, kemudian engkau tidak bersabar lalu membunuhnya. Maka, ia pasti masuk neraka. Namun, karena saya bina dengan baik, maka ia selamat."
Beberapa hari setelah itu, si Badwi mau diperintah untuk melaksanakan tugas penting yang berat sekalipun. Dia juga turut dalam medan jihad dan melaksanakan tugasnya dengan taat dan ridha.
Rasulullah S.A.W. memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak panik menghadapi kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah karakternya. Kalau pun saat itu, dilakukan hukuman terhadap si Badwi, tentu hal itu bukan kezhaliman. Namun, Rasulullah S.A.W. tidak berbuat demikian. Beliau tetap sabar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah, beliau S.A.W. ingin menunjukkan pada kita bahwa kesabaran dan lapang dada lebih tinggi nilainya daripada harta benda apa pun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang bertumpuk yang dipakai untuk suguhan unta yang ngamuk. Tentu saja, unta yang telah mendapatkan kebutuhannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan bisa digunakan untuk menempuh perjalan jauh.
Adakalanya, Rasulullah S.A.W. juga marah. Namun, marahnya tidak melampaui batas kemuliaan. Itu pun ia lakukan bukan karena masalah pribadi. Melainkan, karena kehormatan agama Allah.
Rasulullah S.A.W. bersabda, "Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa), dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam)." (HR. Bukhari)
Sabdanya pula, "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor." (HR. Turmudzi).
Seorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya berontak, dan mampu menahan diri di kala mendapat ejekan. Maka, orang seperti inilah yang diharapkan menghasilkan kebaikan dan kebajikan bagi dirinya maupun masyarakatnya.
Seorang hakim yang tidak mampu menahan marahnya, tidak akan mampu memutuskan perkara dengan adil. Dan, seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa memunculkan permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil pasangannya.
Bagi orang yang imannya telah tumbuh dengan suburnya dalam dadanya. Maka, tumbuh pula sifat-sifat jiwa besarnya. Subur pula rasa kesadarannya dan kemurahan hatinya. Kesabarannya pun bertambah besar dalam menghadapi sesuatu masalah. Tidak mudah memarahi seseorang yang bersalah dengan begitu saja, sekalipun telah menjadi haknya.
Orang yang demikian, akan mampu menguasai dirinya, menahan amarahnya, mengekang lidahnya dari pembicaraan yang tidak patut. Wajib baginya, melatih diri dengan cara membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit hati. Seperti, ujub dan takabur, riya, sum’ah, dusta, pengadu domba dan lain sebagainya. Dan menyertainya dengan amalan-amalan ibadah dan ketaatan kepada Allah, demi meningkatkan derajat yang tinggi di sisi Allah S.W.T.
Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah S.A.W. bersabda, "Apakah tiada lebih baik saya beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan mengangkat derajat seseorang?" Para sahabat menjawab, "Baik, ya Rasulullah." Rasulullah saw bersabda, "Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau." (HR. Thabrani).
Sabdanya pula, "Bahwasanya seorang hamba apabila mengutuk kepada sesuatu, naiklah kutukan itu ke langit. Lalu, dikunci pintu langit-langit itu buatnya. Kemudian, turunlah kutukan itu ke bumi, lalu dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian, berkeliaranlah ia kekanan dan kekiri. Maka, apabila tidak mendapat tempat baru, ia pergi kepada yang dilaknat. Bila layak dilaknat (artinya kalau benar ia berhak mendapat laknat), tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang yang mengutuk (kembali ke alamat si pengutuk)." (HR. Abu Dawud).
(Referensi dari berbagai sumber)
Baca Selengkapnya...
Pancaran Pribadi Bersih hati
Yakinlah bahwa jikalau hati kita jernih, bening, dan tulus maka wajah juga akan enak dipandang, akan ada suatu kesan tersendiri yang lain dari yang lain. Mungkin wajahnya tidak cakep, tidak jelita, mungkin kultinya hitam, mungkin hidungnya tidak begitu mancung, mungkin alisnya kurang begitu simetris, mungkin di wajahnya ada kekurangan, katakanlah ada cacatnya tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kalau hatinya bening, jernih, dan tulus ia akan senantiasa memancarkan sinar keindahan, kesejukan dan kenyamanan.
Orang yang hatinya bersih akan tercermin pula dari kerapihan dan kebersihan di lingkungan sekitarnya. Kita sepakat bahwa kumal, kusut, kotor, dan bau adalah perilaku yang tidak kita sukai. Kenapa sih tidak kita sisir rambut kita dengan rapi, padahal bisa lebih rapih dan lebih tertib ?! Bukan tidak boleh punya rambut bermode, tapi yang lebih penting adalah bagaimana ketika orang lain melihat penampilan kita pikirannya tidak menjadi jelek.
Ketika suatu waktu lewat di depan Taman Kota, terlihat ada sekelompok pemuda dengan potongan rambut landak gaa Duran-Duran, Punk, dan ada juga yang dicat pirang. Tentu saja ini akan membuat orang lain berpikir jelek tentang mereka.
Maka pastikan rambut kita selalu tersisir rapih. Pada kaum laki-laki, tidak usah diperbudak oleh mode. Intinya, kalau orang lain melihat penampilan kita, orang itu menjadi cerah, tentram, senang, dan merasa aman. Tidak usah pula centil dengan menempelkan segala atribut, gambar tempel, atau juga tanda jasa supaya orang lain tahu siapa kita. Buat apa? Semuanya harus wajar, proporsional, dan tidak berlebih-lebihan.
Bagi seorang wanita yang memiliki hati bersih akan terpancar pula dari penampilannya yang tidak over acting, tidak berdandan mencolok, semuanya serba wajar dan proporsional. Hal ini menjadikan orang yang melihatnya juga menjadi enak, wajar dan normal, walaupun tidak dipungkiri bahwa setiap orang punya standard penilaian yang berbeda-beda. Namun yang terpenting adalah penilaian menururt ALLAH S.W.T. Kalau orang-orang yang berpenyakit hati kadang-kadang penilaiannya selalu negatif, walau sebenarnya kita sudah melakukan yang terbaik.
Pancaran bersih hati lainnya akan tampak terealisasikan pula dari struktur bibir atau senyuman. Pastilah kita akan enak kalau melihat orang lain senyum kepada kita dengan tulus, wajar dan proporsional. Dan senyum itu bukanlah perkara mengangkat ujung bibir -- itu perkara tipu-menipu -- tapi yang paling penting adalah keinginan dari dalam diri untuk membahagiakan orang yang ada di sekitar kita, minimal dengan sesungging senyuman. Dan tentu saja dilanjutkan dengan sapaan tulus, ucapan salam "Assalaamu'alaikum", menyembul dari hati yang ikhlas, insyaallah ini akan membuat suasana menjadi lebih enak, tentram, dan menyenangkan.
Suatu yang patut kita renungkan, saat duduk di mesjid sewaktu shalat berjemaah atau juga acara majelis taklim, kadangkala kita suka enggan menyapa orang di samping kita, sepertinya ada tabir atau benteng yang kokoh menghalang. Padahal yakin sama-sama umat Islam, yakin sama-sama mau sujud kepada ALLAH. Kalau kita ada dalam kondisi seperti ini seharusnya tidak usah berat untuk menyapa duluan. Kenapa kita ini ingin disapa lebih dulu? Etikanya memang, yang muda kepada yang tua, yang berdiri kepada yang duduk, yang datang kepada yang diam. Namun sebaiknya mumpung kita punya kesempatan, lebih baik kita duluan yang menyapa.
Kalau kita sebagai bapak, saat pulang kerja ke rumah cobalah terbarkan salam, "Assalaamu'alaikum anak-anakku sekalian!" dibarengi senyuman ramah dan belaian sayang, daripada marah-marah, "Anak-anak diam, Bapak lagi capek! Seharian Bapak membanting tulang memeras keringat, tiada lain hanya untuk menghidupi kalian tahu?".
Wah, kalau begini pastilah anak-anak tidak akan merasa aman.
Juga para bos, pimpinan, direktur, manager, ketua kelas, wali kelas, atau siapa saja yang jadi atasan, jangan sampai seperti monster. Apa itu monster? Yaitu makhluk yang kehadirannya ditakuti. Kalau kita datang orang jadi tegang, panik, jantung berdebar-debar kencang, dibarengi badan yang berguncang hebat, ini berarti ada yang salah dalam diri kita. Maka, sudah seharusnya sapaan kita itu tidak hanya mengoreksi, mengkritik, tapi juga berupa penghargaan, pujian, ucapan-ucapan doa yang tidak harus ada hubungannya dengan masalah pekerjaan. Artinya kalau orang lain bertemu kita, haruslah orang lain itu merasa aman.
Kalau mau bicara, sapaan kita juga harus aman, harus bersih dari membuat orang lain terluka. Pokoknya kalau orang lain datang, orang itu harus merasa aman. Ini ciri-ciri orang yang pengelolaan Qalbunya sudah bagus. Kata-kata, lirikan mata, sikap diri kita harus kita atur sedemikian rupa sehingga mampu memberikan kebahagiaan bagi orang lain, sebab hati tidak bisa disentuh kecuali oleh hati lagi.
Cobalah Bapak-bapak dan Ibu-ibu, anak-anak kita harus merasa aman dekat denga kita. Jangan sampai ketika dekat kita, mereka merasa ketakutan, tidak aman, hingga akhirnya mereka mencari rasa aman dengan orang-orang di luar kita, yang belum tentu berperilaku baik. Para guru jangan sampai membuat panik para muridnya. Ketika lonceng tanda masuk berdentang, haruslah murid merasa bahagia. Itu sukses. Jangan sampai sebalikna, ketika kita masuk semua menjadi panik.
Sudah seharusnya menjadi cita-cita jauh di lubuk hati kita yang terdalam untuk menekadkan diri menjadi seorang pribadi bersih hati yang selalu dicintai dan dinanti kehadirannya. Karena sungguh akan sangat berbahagia bagi orang-orang yang sikapnya, tingkah lakunya, membuat orang disekitarnya merasa aman. Karena perilaku kita adalah juga cerminan kondisi Qalbu kita. Qalbu yang bening, maka tingkah lakunya akan bening menyenangkan pula. Hal ini tiada lain buah dari pengelolaan Qolbu yang benar, Insyaallah (dari Berbagai Sumber) oleh; Sapari
Baca Selengkapnya...
Orang yang hatinya bersih akan tercermin pula dari kerapihan dan kebersihan di lingkungan sekitarnya. Kita sepakat bahwa kumal, kusut, kotor, dan bau adalah perilaku yang tidak kita sukai. Kenapa sih tidak kita sisir rambut kita dengan rapi, padahal bisa lebih rapih dan lebih tertib ?! Bukan tidak boleh punya rambut bermode, tapi yang lebih penting adalah bagaimana ketika orang lain melihat penampilan kita pikirannya tidak menjadi jelek.
Ketika suatu waktu lewat di depan Taman Kota, terlihat ada sekelompok pemuda dengan potongan rambut landak gaa Duran-Duran, Punk, dan ada juga yang dicat pirang. Tentu saja ini akan membuat orang lain berpikir jelek tentang mereka.
Maka pastikan rambut kita selalu tersisir rapih. Pada kaum laki-laki, tidak usah diperbudak oleh mode. Intinya, kalau orang lain melihat penampilan kita, orang itu menjadi cerah, tentram, senang, dan merasa aman. Tidak usah pula centil dengan menempelkan segala atribut, gambar tempel, atau juga tanda jasa supaya orang lain tahu siapa kita. Buat apa? Semuanya harus wajar, proporsional, dan tidak berlebih-lebihan.
Bagi seorang wanita yang memiliki hati bersih akan terpancar pula dari penampilannya yang tidak over acting, tidak berdandan mencolok, semuanya serba wajar dan proporsional. Hal ini menjadikan orang yang melihatnya juga menjadi enak, wajar dan normal, walaupun tidak dipungkiri bahwa setiap orang punya standard penilaian yang berbeda-beda. Namun yang terpenting adalah penilaian menururt ALLAH S.W.T. Kalau orang-orang yang berpenyakit hati kadang-kadang penilaiannya selalu negatif, walau sebenarnya kita sudah melakukan yang terbaik.
Pancaran bersih hati lainnya akan tampak terealisasikan pula dari struktur bibir atau senyuman. Pastilah kita akan enak kalau melihat orang lain senyum kepada kita dengan tulus, wajar dan proporsional. Dan senyum itu bukanlah perkara mengangkat ujung bibir -- itu perkara tipu-menipu -- tapi yang paling penting adalah keinginan dari dalam diri untuk membahagiakan orang yang ada di sekitar kita, minimal dengan sesungging senyuman. Dan tentu saja dilanjutkan dengan sapaan tulus, ucapan salam "Assalaamu'alaikum", menyembul dari hati yang ikhlas, insyaallah ini akan membuat suasana menjadi lebih enak, tentram, dan menyenangkan.
Suatu yang patut kita renungkan, saat duduk di mesjid sewaktu shalat berjemaah atau juga acara majelis taklim, kadangkala kita suka enggan menyapa orang di samping kita, sepertinya ada tabir atau benteng yang kokoh menghalang. Padahal yakin sama-sama umat Islam, yakin sama-sama mau sujud kepada ALLAH. Kalau kita ada dalam kondisi seperti ini seharusnya tidak usah berat untuk menyapa duluan. Kenapa kita ini ingin disapa lebih dulu? Etikanya memang, yang muda kepada yang tua, yang berdiri kepada yang duduk, yang datang kepada yang diam. Namun sebaiknya mumpung kita punya kesempatan, lebih baik kita duluan yang menyapa.
Kalau kita sebagai bapak, saat pulang kerja ke rumah cobalah terbarkan salam, "Assalaamu'alaikum anak-anakku sekalian!" dibarengi senyuman ramah dan belaian sayang, daripada marah-marah, "Anak-anak diam, Bapak lagi capek! Seharian Bapak membanting tulang memeras keringat, tiada lain hanya untuk menghidupi kalian tahu?".
Wah, kalau begini pastilah anak-anak tidak akan merasa aman.
Juga para bos, pimpinan, direktur, manager, ketua kelas, wali kelas, atau siapa saja yang jadi atasan, jangan sampai seperti monster. Apa itu monster? Yaitu makhluk yang kehadirannya ditakuti. Kalau kita datang orang jadi tegang, panik, jantung berdebar-debar kencang, dibarengi badan yang berguncang hebat, ini berarti ada yang salah dalam diri kita. Maka, sudah seharusnya sapaan kita itu tidak hanya mengoreksi, mengkritik, tapi juga berupa penghargaan, pujian, ucapan-ucapan doa yang tidak harus ada hubungannya dengan masalah pekerjaan. Artinya kalau orang lain bertemu kita, haruslah orang lain itu merasa aman.
Kalau mau bicara, sapaan kita juga harus aman, harus bersih dari membuat orang lain terluka. Pokoknya kalau orang lain datang, orang itu harus merasa aman. Ini ciri-ciri orang yang pengelolaan Qalbunya sudah bagus. Kata-kata, lirikan mata, sikap diri kita harus kita atur sedemikian rupa sehingga mampu memberikan kebahagiaan bagi orang lain, sebab hati tidak bisa disentuh kecuali oleh hati lagi.
Cobalah Bapak-bapak dan Ibu-ibu, anak-anak kita harus merasa aman dekat denga kita. Jangan sampai ketika dekat kita, mereka merasa ketakutan, tidak aman, hingga akhirnya mereka mencari rasa aman dengan orang-orang di luar kita, yang belum tentu berperilaku baik. Para guru jangan sampai membuat panik para muridnya. Ketika lonceng tanda masuk berdentang, haruslah murid merasa bahagia. Itu sukses. Jangan sampai sebalikna, ketika kita masuk semua menjadi panik.
Sudah seharusnya menjadi cita-cita jauh di lubuk hati kita yang terdalam untuk menekadkan diri menjadi seorang pribadi bersih hati yang selalu dicintai dan dinanti kehadirannya. Karena sungguh akan sangat berbahagia bagi orang-orang yang sikapnya, tingkah lakunya, membuat orang disekitarnya merasa aman. Karena perilaku kita adalah juga cerminan kondisi Qalbu kita. Qalbu yang bening, maka tingkah lakunya akan bening menyenangkan pula. Hal ini tiada lain buah dari pengelolaan Qolbu yang benar, Insyaallah (dari Berbagai Sumber) oleh; Sapari
Baca Selengkapnya...
Kisah Sang Penjudi
Oleh; Endri S.
seorang penjudi ingin bertaubat dari kebiasaan judinya. Setiap kali ingin mengakhiri itu, nafsunya selalu menggoda, sehingga ia kembali bermain judi.
suatu ketika penjudi bertemu seorang yang bijak. Ia lalu bertanya bagaimana cara menghilangkan kebiasaannya itu. Orang bijak ini pun memberi nasehat agar si penjudi segera bertaubat, dan mengerjakan hal-hal baik. Orang bijak itupun berpesan agar menjauhi teman-temannya yang suka berjudi.
Seminggu berlalu. Si penjudi masih bisa menahan keinginan untuk tidak berjudi. Namun, menjelang minggu kedua, hatinya mulai resah. Tangannya mulai gatal untuk membanting kartu. Untuk mengalihkan keinginan itu, ia pun mondar mandir di rumahnya. Ia tahan kuat-kuat keinginan untuk berjudi lagi. Tetapi akhirnya nafsu mengalahkan hatinya. Ia bergegas ke tempat judi dan bermain sampai pagi.
Keesokan harinya, ia sadar dan menangis karena usahanya selama ini gagal. Namun nasi belum menjadi bubur. Ia kemudian bertekad lagi untuk tidak berjudi.
Keesokan harinya, saat keluar rumah, si penjudi bertemu dengan kawan lama yang sudah berhenti bermain judi. Si penjudi menceritakan niatnya untuk berhenti, namun tetap tak bisa. Kawan lamanya inipun berkata,
"Kamu masih ada kesempatan untuk berhenti berjudi."
"Bagaimana caranya?"
"Begini, kita lempar koin ini, bila yang keluar tanda gambar, maka kamu bisa berhenti berjudi, namun bila keluar tanda angka maka selamanya tak bisa berhenti berjudi."
Maka dilemparlah koin itu dan ternyata keluar tanda gambar. Si penjudi tertawa riang. Kali ini ia yakin bisa berhenti berjudi. Kemudian ia pun shalat dan berdzikir, sampai akhirnya ia tak berjudi lagi
Peran sugesti dalam diri kita sangatlah besar. Maka mulailah mensugesti diri sendiri untuk meraih apa yang kita cita-citakan.
Kisah penjudi diatas menjadi pelajaran berharga bahwa apapun bisa menjadi sugesti kita. Apa pun bisa menjadi tenaga pendorong untuk bergerak dan berjuang. Maka, Allah memberi sugesti pada umat-Nya dengan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dengan harapan kita bisa giat beribadah, giat beramal saleh. Begitu juga sebaliknya, Allah mensugesti kita dengan neraka agar manusia ciut nyalinya untuk berbuat kejahatan.
Baca Selengkapnya...
seorang penjudi ingin bertaubat dari kebiasaan judinya. Setiap kali ingin mengakhiri itu, nafsunya selalu menggoda, sehingga ia kembali bermain judi.
suatu ketika penjudi bertemu seorang yang bijak. Ia lalu bertanya bagaimana cara menghilangkan kebiasaannya itu. Orang bijak ini pun memberi nasehat agar si penjudi segera bertaubat, dan mengerjakan hal-hal baik. Orang bijak itupun berpesan agar menjauhi teman-temannya yang suka berjudi.
Seminggu berlalu. Si penjudi masih bisa menahan keinginan untuk tidak berjudi. Namun, menjelang minggu kedua, hatinya mulai resah. Tangannya mulai gatal untuk membanting kartu. Untuk mengalihkan keinginan itu, ia pun mondar mandir di rumahnya. Ia tahan kuat-kuat keinginan untuk berjudi lagi. Tetapi akhirnya nafsu mengalahkan hatinya. Ia bergegas ke tempat judi dan bermain sampai pagi.
Keesokan harinya, ia sadar dan menangis karena usahanya selama ini gagal. Namun nasi belum menjadi bubur. Ia kemudian bertekad lagi untuk tidak berjudi.
Keesokan harinya, saat keluar rumah, si penjudi bertemu dengan kawan lama yang sudah berhenti bermain judi. Si penjudi menceritakan niatnya untuk berhenti, namun tetap tak bisa. Kawan lamanya inipun berkata,
"Kamu masih ada kesempatan untuk berhenti berjudi."
"Bagaimana caranya?"
"Begini, kita lempar koin ini, bila yang keluar tanda gambar, maka kamu bisa berhenti berjudi, namun bila keluar tanda angka maka selamanya tak bisa berhenti berjudi."
Maka dilemparlah koin itu dan ternyata keluar tanda gambar. Si penjudi tertawa riang. Kali ini ia yakin bisa berhenti berjudi. Kemudian ia pun shalat dan berdzikir, sampai akhirnya ia tak berjudi lagi
Peran sugesti dalam diri kita sangatlah besar. Maka mulailah mensugesti diri sendiri untuk meraih apa yang kita cita-citakan.
Kisah penjudi diatas menjadi pelajaran berharga bahwa apapun bisa menjadi sugesti kita. Apa pun bisa menjadi tenaga pendorong untuk bergerak dan berjuang. Maka, Allah memberi sugesti pada umat-Nya dengan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dengan harapan kita bisa giat beribadah, giat beramal saleh. Begitu juga sebaliknya, Allah mensugesti kita dengan neraka agar manusia ciut nyalinya untuk berbuat kejahatan.
Baca Selengkapnya...
Kisah Mutivasi
Oleh; Hilal
Ada pohon rindang. Di bawahnya dua orang yang sedang beristirahat. Tampaknya mereka ayah dan anak. Sang ayah seorang pedagang. Mereka kelelahan sehabis berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon itu. Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya...." katanya mengusik ambang sadar ayahnya."Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah dan bisa membawa dagangan kita ke kota?
"Sepertinya," lanjut sang bocah,"aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini." Jari tangannya tampak menggores-gores seuatu di atas tanah. Lalu, ia kembali melanjutkan, "Bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?"
Sang Ayah yang awalnya mengantuk kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih dari tanah yang sebelumnya dikais-kais anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang kecil di tangan sang pedagang yang besar. Setelah itu, ia pun berujar kepada anaknya.
"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandaglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini dulu berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol juga dari benih ini. Dan, kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah juga berasal dari tempat yang sama."
Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah, Nak.. Benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia ahanya membutuhkan angin, air dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada merekah semualah benih ini berterima kasih karena telah melatihnya menjadi makhluk yang besar."
"Suatu saat nanti kamu akan besar, Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar karena bisa jadi itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."
Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanyapun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.
Sahabat, pedagang itu benar. Jangan pernah merasa malu, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar dan mampu menggapai semua impian, harapan, dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?
Sahabat, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghunjam itu berasal. Namun, akankah Allah Swt membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?
Begitu pun kita. Akankah Allah Swt membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan? Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin 'masalah', derasnya air 'ujian' serta teriknya matahari 'persoalan'?
Tidak sahabat. Karena Allah Maha Tahu bahwa setiap hambaNya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah tak akan pernah lupa dengan itu semua.
JANGAN PERNAH BERKECIL HATI. SEMUA KEBERHASILAN DAN KESUKSESAN ITU TELAH ADA DALAM DIRIMU, SAHABAT....!
Baca Selengkapnya...
Ada pohon rindang. Di bawahnya dua orang yang sedang beristirahat. Tampaknya mereka ayah dan anak. Sang ayah seorang pedagang. Mereka kelelahan sehabis berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon itu. Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya...." katanya mengusik ambang sadar ayahnya."Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah dan bisa membawa dagangan kita ke kota?
"Sepertinya," lanjut sang bocah,"aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini." Jari tangannya tampak menggores-gores seuatu di atas tanah. Lalu, ia kembali melanjutkan, "Bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?"
Sang Ayah yang awalnya mengantuk kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih dari tanah yang sebelumnya dikais-kais anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang kecil di tangan sang pedagang yang besar. Setelah itu, ia pun berujar kepada anaknya.
"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandaglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini dulu berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol juga dari benih ini. Dan, kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah juga berasal dari tempat yang sama."
Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah, Nak.. Benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia ahanya membutuhkan angin, air dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada merekah semualah benih ini berterima kasih karena telah melatihnya menjadi makhluk yang besar."
"Suatu saat nanti kamu akan besar, Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar karena bisa jadi itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."
Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanyapun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.
Sahabat, pedagang itu benar. Jangan pernah merasa malu, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar dan mampu menggapai semua impian, harapan, dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?
Sahabat, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghunjam itu berasal. Namun, akankah Allah Swt membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?
Begitu pun kita. Akankah Allah Swt membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan? Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin 'masalah', derasnya air 'ujian' serta teriknya matahari 'persoalan'?
Tidak sahabat. Karena Allah Maha Tahu bahwa setiap hambaNya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah tak akan pernah lupa dengan itu semua.
JANGAN PERNAH BERKECIL HATI. SEMUA KEBERHASILAN DAN KESUKSESAN ITU TELAH ADA DALAM DIRIMU, SAHABAT....!
Baca Selengkapnya...
Hadapi Semua Persoalan & Jadilah Pemenang Sejati
oleh; Naila
Al-Balkhi adalah seorang yang terkenal dengan keshalihannya. Suatu hari, dia berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tak lupa dia memohon diri kepada sahabat karibnya yang terkenal zuhud, yakni Ibrahim bin Adham.
Tak berapa lama Al-Balkhi pergi berdagang, tiba-tiba ada kabar bahwa ia sudah kembali. Hal ini menimbulkan keheranan bagi Ibrahim bin Adham, gerangan apa yang membuat Al-Balkhi yang baru beberapa hari pergi sudah kembali. Ibrahim bin Adham yang ketika itu berada di masjid, lalu menghampiri Al-Balkhi seraya bertanya ,"Hai Balkhi, mengapa secepat ini kau kembali?"
Tak berapa lama Al-Balkhi pergi berdagang, tiba-tiba ada kabar bahwa ia sudah kembali. Hal ini menimbulkan keheranan bagi Ibrahim bin Adham, gerangan apa yang membuat Al-Balkhi yang baru beberapa hari pergi sudah kembali. Ibrahim bin Adham yang ketika itu berada di masjid, lalu menghampiri Al-Balkhi seraya bertanya ,"Hai Balkhi, mengapa secepat ini kau kembali?"
Al-Balkhi dengan tenang menjawab ;
"Dalam perjalanan aku melihat suatu keanehan. Hal itulah yang membuat diriku untuk memutuskan segera membatalkan perjalanan. Ketika aku beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak, aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Melihat itu, aku bergumam dan bertanya-tanya dalam hati, bagaimanakah kiranya burung ini bisa bertahan hidup sementara ia berada di tempat yang begitu jauh dari teman-temannya. Dengan matanya yang tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa. Tak lama kemudian ada seekor burung lain yang bersusah payah menghampirinya sambil membawa perbekalan makanan untuk burung yang cacat itu. Seharian penuh aku terus memperhatikan burung itu, ternyata ia tak pernah kekurangan makanan karena berulang kali dikirim makanan oleh temannya yang sehat.
Itu semua membuatku merasa cukup untuk menarik sebuah kesimpulan bahwa Sang Pemberi rezeki telah memberi karunia seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Dan dengan kemurahan-Nya, Dia telah mencukupkan rezeki baginya. Kalau begitu dalam keyakinanku, Dia tentu akan mencukupi rezekiku sekalipun aku tidak bekerja! Kemudian akupun memutuskan untuk segera pulang saat itu juga."
Mendengar penuturan Al-Balkhi, Ibrahim bin Adham menanggapi
,"Wahai Al-Balkhi sahabatku, mengapa serendah itu pemikiranmu? Mengapa kau rela menyamakan derajatmu dengan seekor burung yang pincang lagi buta? Mengapa kau mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup atas belas kasihan dan bantuan makhluk lain? Mengapa engkau tidak mencontoh perilaku burung yang satu lagi, yang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dan kebutuhan sahabatnya yang memang tak mampu bekerja! Apakah engkau tidak tahu bahwa tangan diatas lebih baik dari pada tangan di bawah?"
Mendengar berondongan pertanyaan yang sangat mendasar itu, sadarlah Al-Balkhi akan kekhilafannya. Serta merta ia bangkit dan mencium tangan Ibrahim bin Adham seraya berkata ,"Wahai Ibrahim, ternyata engkaulah guru kami yang baik."
Kemudian ia mohon diri untuk berangkat melanjutkan usaha dagangnya.
( sumber : Sabili No.19 Th.IX)
"Berhasil atau gagal adalah sebuah pilihan, karena hanya orang yang bersangkutan yang memutuskan, apakah ia mau berhasil atau gagal dalam hidupnya"
Baca Selengkapnya...
Al-Balkhi adalah seorang yang terkenal dengan keshalihannya. Suatu hari, dia berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tak lupa dia memohon diri kepada sahabat karibnya yang terkenal zuhud, yakni Ibrahim bin Adham.
Tak berapa lama Al-Balkhi pergi berdagang, tiba-tiba ada kabar bahwa ia sudah kembali. Hal ini menimbulkan keheranan bagi Ibrahim bin Adham, gerangan apa yang membuat Al-Balkhi yang baru beberapa hari pergi sudah kembali. Ibrahim bin Adham yang ketika itu berada di masjid, lalu menghampiri Al-Balkhi seraya bertanya ,"Hai Balkhi, mengapa secepat ini kau kembali?"
Tak berapa lama Al-Balkhi pergi berdagang, tiba-tiba ada kabar bahwa ia sudah kembali. Hal ini menimbulkan keheranan bagi Ibrahim bin Adham, gerangan apa yang membuat Al-Balkhi yang baru beberapa hari pergi sudah kembali. Ibrahim bin Adham yang ketika itu berada di masjid, lalu menghampiri Al-Balkhi seraya bertanya ,"Hai Balkhi, mengapa secepat ini kau kembali?"
Al-Balkhi dengan tenang menjawab ;
"Dalam perjalanan aku melihat suatu keanehan. Hal itulah yang membuat diriku untuk memutuskan segera membatalkan perjalanan. Ketika aku beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak, aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Melihat itu, aku bergumam dan bertanya-tanya dalam hati, bagaimanakah kiranya burung ini bisa bertahan hidup sementara ia berada di tempat yang begitu jauh dari teman-temannya. Dengan matanya yang tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa. Tak lama kemudian ada seekor burung lain yang bersusah payah menghampirinya sambil membawa perbekalan makanan untuk burung yang cacat itu. Seharian penuh aku terus memperhatikan burung itu, ternyata ia tak pernah kekurangan makanan karena berulang kali dikirim makanan oleh temannya yang sehat.
Itu semua membuatku merasa cukup untuk menarik sebuah kesimpulan bahwa Sang Pemberi rezeki telah memberi karunia seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Dan dengan kemurahan-Nya, Dia telah mencukupkan rezeki baginya. Kalau begitu dalam keyakinanku, Dia tentu akan mencukupi rezekiku sekalipun aku tidak bekerja! Kemudian akupun memutuskan untuk segera pulang saat itu juga."
Mendengar penuturan Al-Balkhi, Ibrahim bin Adham menanggapi
,"Wahai Al-Balkhi sahabatku, mengapa serendah itu pemikiranmu? Mengapa kau rela menyamakan derajatmu dengan seekor burung yang pincang lagi buta? Mengapa kau mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup atas belas kasihan dan bantuan makhluk lain? Mengapa engkau tidak mencontoh perilaku burung yang satu lagi, yang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dan kebutuhan sahabatnya yang memang tak mampu bekerja! Apakah engkau tidak tahu bahwa tangan diatas lebih baik dari pada tangan di bawah?"
Mendengar berondongan pertanyaan yang sangat mendasar itu, sadarlah Al-Balkhi akan kekhilafannya. Serta merta ia bangkit dan mencium tangan Ibrahim bin Adham seraya berkata ,"Wahai Ibrahim, ternyata engkaulah guru kami yang baik."
Kemudian ia mohon diri untuk berangkat melanjutkan usaha dagangnya.
( sumber : Sabili No.19 Th.IX)
"Berhasil atau gagal adalah sebuah pilihan, karena hanya orang yang bersangkutan yang memutuskan, apakah ia mau berhasil atau gagal dalam hidupnya"
Baca Selengkapnya...
JIWA YANG TULUS
Oleh; Umi Dep. Kaderisasi & da'wah
Disebuah sudut ruang tunggu Cairo International Airport. Seorang wanita muda terpelajar bernama Alya, sedang menunggu pesawat yang akan membawanya pulang ke Indonesia. Tiba-tiba, datang seorang ibu menyapa,”Assalammualaikum, anti Indonisiy?” Tanya ibu itu. “Na’am ummi,” jawab Alya sambil tersenyum. Si ibu pun tersenyum lega. “Alhamdulillah, boleh ibu duduk di dekatmu nak?” “Oh, silakan ibu,” ujar Alya sambil berdiri mempersilakan ibu itu untuk duduk di sampingnya. “Ibu mau ke Indonesia juga?” Tanya Alya membuka pembicaraan. “Iya nak, ibu habis nengok anak-anak ibu yang kuliah di sini. Mereka minta ibu untuk datang, karena anak ibu dapat beasiswa. Alhamdulillah.” jelas ibu itu panjang lebar. Alya terdiam, kagum sekali dengan anak-anak ibu ini. “Maaf bu, nama saya Alya Khoirunnisa, ibu?”kata Alya sambil mengulurkan tangannya “Eh ya, ya, sudah cerita ngalor ngidul kita belum kenalan. Ibu Parmi nak.” jawab bu Parmi.
Entah kenapa, Alya merasa sudah mengenal bu Parmi sejak lama, Alya sudah merasa dekat dengan bu Parmi. Mereka pun saling berbagi cerita. Sesekali Alya tertawa kecil mendengar cerita bu Parmi yang lucu. Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan mereka naiki ternyata mengalami delay (penundaan) hingga dua jam.
“Wah bu, dua jam lumayan juga ya. Kita ke café aja yuk bu, isi perut dulu.” ajak Alya. “Tapi ibu nda tau rumah makan deket sini nak Alya.” bu Parmi menyahut sambil kebingungan. “Tenang bu, kan ada Alya.”Alya tersenyum manis dan membimbing bu Parmi keluar dari ruang tunggu menuju café.
“Bu, kalo boleh tau, putra ibu ada berapa?” tanya Alya sambil menunggu makanan yang telah mereka pesan. “Semua ada lima nak Alya. Alhamdulillah semua laki-laki.” “Ooo…., trus kalo yang kuliah disini itu anak ibu yang ke berapa?” tanya Alya ingin tahu. “Yang kedua dan ketiga. Alhamdulillah nak, dua-duanya dapat beasiswa. Dulu, mereka mondok di pesantren Gontor. Yang ke empat dan kelima sekarang juga masih mondok. Yang keempat di pesantren Tebuireng, yang kelima di pesantren Gontor. InsyaAllah, mo ngikut mas nya juga kuliah disini,” jelas bu Parmi panjang lebar. Sesaat mereka terdiam. Alya menatap makanan yang telah terhidang di depannya. “Ayo bu, kita makan dulu,”ajak Alya.
“Kalo yang pertama bu?” tanya Alya lagi. “Sing mbarep, karena keterbatasan fisiknya, jadi nda bisa lanjut kuliah nak. Sekarang masih ngangon sapi di kampung.” kata bu Parmi sambil menikmati makanan. Alya tercenung, ah, kasihan sekali, ucap Alya dalam hati. Tak sadar, Alya menatap bu Parmi agak lama. “Ibu pasti bangga dengan anak-anak ibu yah, apa lagi yang bisa kuliah di Al-Azhar Mesir. Ga gampang lo bu, dapet beasiswa di universitas itu.” Bu Parmi menghentikan makannya dan menatap Alya, lama dan dalam.
“Yah, ibu sudah biasa mendengar itu nak Alya. Tapi, sebenarnya ibu paling bangga dengan anak ibu sing mbarep. Sejak bapaknya meninggal, anak ibu yang pertama itu yang menggantikan posisi bapaknya. Anak ibu memang cacat, waktu kecil terkena polio, hingga kakinya mengecil, jadi kalo jalan nda seimbang, agak pincang. Tapi tekadnya luar biasa nak.
Dengan peninggalan bapak yang tak seberapa, anak ibu mulai ngangon sapi orang. Kebetulan, ada tetangga ibu yang mempunyai sapi, jadi dia menawarkan diri untuk ngangon sapi. Anak ibu itu sangat rajin, setiap pagi, sapi-sapi itu di bawa untuk mencari rumput. Agak siang baru pulang. Alhamdulillah, karena ketelatenannya, sapi-sapi itu pun gemuk-gemuk. Tetangga ibu jadi senang. Anak ibu pun diberi hadiah dua ekor anak sapi jantan dan betina.
Alhamdulillah, karena ketekunan dan kerja kerasnya, sapi itu berkembang nak. Nah, dari situlah anak ibu bisa membiayai kebutuhan sehari-hari dan sekolah adik-adiknya. Ibu sempat mengingatkannya untuk melanjutkan sekolah lagi, tapi dia nda mau.” bu Parmi berhenti sejenak, menghela napas.
“Pernah suatu hari ibu bertanya padanya, kamu kok nda mau lanjut sekolah toh. Hidup kita sudah cukup le. Anak ibu tersenyum, katanya, bu’e, saya sudah mendapatkan pendidikan yang luar biasa, saya sudah “sekolah” bu, namanya “sekolah kehidupan”, biarlah adik-adik yang sekolah, biar saya yang cari nafkah, saya lebih bangga kalo adik-adik bisa kuliah setinggi-tingginya.” Mata bu Parmi mulai berkaca-kaca.
“ Anak ibu sing mbarep, sungguh luar biasa nak Alya. Kebesaran hatinya terkadang membuat ibu menangis. Alhamdulillah, semua adik-adiknya menghargai kerja keras mas nya, jadi mereka pun tidak menyia-nyiakan waktu, mereka belajar dengan sungguh-sungguh, sampai akhirnya mereka dapat beasiswa.” bu Parmi menarik napas sejenak. Mata Alya berkaca-kaca, dadanya sesak. Subhanallah…..
“Jadi, kalo nak Alya tanya pada ibu, ibu paling bangga dengan anak ibu sing mbarep, dengan fisiknya yang terbatas, mampu bekerja keras, mampu membiayai kebutuhan keluarga dan mampu membiayai adik-adiknya sekolah. Nda pernah terlintas di benak ibu, kalo anak-anak ibu bisa kuliah nak, apalagi sampai keluar negeri. Juga ibu nda pernah membayangkan bisa numpak pesawat. Yah, semua ini karunia Allah nak, karunia Allah yang disampaikan melalui anak ibu sing mbarep.”
Tidak sepatah katapun bisa terucap dari mulut Alya. Alya hanya bisa terdiam dan memandang bu Parmi dengan air mata haru.
Baca Selengkapnya...
Disebuah sudut ruang tunggu Cairo International Airport. Seorang wanita muda terpelajar bernama Alya, sedang menunggu pesawat yang akan membawanya pulang ke Indonesia. Tiba-tiba, datang seorang ibu menyapa,”Assalammualaikum, anti Indonisiy?” Tanya ibu itu. “Na’am ummi,” jawab Alya sambil tersenyum. Si ibu pun tersenyum lega. “Alhamdulillah, boleh ibu duduk di dekatmu nak?” “Oh, silakan ibu,” ujar Alya sambil berdiri mempersilakan ibu itu untuk duduk di sampingnya. “Ibu mau ke Indonesia juga?” Tanya Alya membuka pembicaraan. “Iya nak, ibu habis nengok anak-anak ibu yang kuliah di sini. Mereka minta ibu untuk datang, karena anak ibu dapat beasiswa. Alhamdulillah.” jelas ibu itu panjang lebar. Alya terdiam, kagum sekali dengan anak-anak ibu ini. “Maaf bu, nama saya Alya Khoirunnisa, ibu?”kata Alya sambil mengulurkan tangannya “Eh ya, ya, sudah cerita ngalor ngidul kita belum kenalan. Ibu Parmi nak.” jawab bu Parmi.
Entah kenapa, Alya merasa sudah mengenal bu Parmi sejak lama, Alya sudah merasa dekat dengan bu Parmi. Mereka pun saling berbagi cerita. Sesekali Alya tertawa kecil mendengar cerita bu Parmi yang lucu. Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan mereka naiki ternyata mengalami delay (penundaan) hingga dua jam.
“Wah bu, dua jam lumayan juga ya. Kita ke café aja yuk bu, isi perut dulu.” ajak Alya. “Tapi ibu nda tau rumah makan deket sini nak Alya.” bu Parmi menyahut sambil kebingungan. “Tenang bu, kan ada Alya.”Alya tersenyum manis dan membimbing bu Parmi keluar dari ruang tunggu menuju café.
“Bu, kalo boleh tau, putra ibu ada berapa?” tanya Alya sambil menunggu makanan yang telah mereka pesan. “Semua ada lima nak Alya. Alhamdulillah semua laki-laki.” “Ooo…., trus kalo yang kuliah disini itu anak ibu yang ke berapa?” tanya Alya ingin tahu. “Yang kedua dan ketiga. Alhamdulillah nak, dua-duanya dapat beasiswa. Dulu, mereka mondok di pesantren Gontor. Yang ke empat dan kelima sekarang juga masih mondok. Yang keempat di pesantren Tebuireng, yang kelima di pesantren Gontor. InsyaAllah, mo ngikut mas nya juga kuliah disini,” jelas bu Parmi panjang lebar. Sesaat mereka terdiam. Alya menatap makanan yang telah terhidang di depannya. “Ayo bu, kita makan dulu,”ajak Alya.
“Kalo yang pertama bu?” tanya Alya lagi. “Sing mbarep, karena keterbatasan fisiknya, jadi nda bisa lanjut kuliah nak. Sekarang masih ngangon sapi di kampung.” kata bu Parmi sambil menikmati makanan. Alya tercenung, ah, kasihan sekali, ucap Alya dalam hati. Tak sadar, Alya menatap bu Parmi agak lama. “Ibu pasti bangga dengan anak-anak ibu yah, apa lagi yang bisa kuliah di Al-Azhar Mesir. Ga gampang lo bu, dapet beasiswa di universitas itu.” Bu Parmi menghentikan makannya dan menatap Alya, lama dan dalam.
“Yah, ibu sudah biasa mendengar itu nak Alya. Tapi, sebenarnya ibu paling bangga dengan anak ibu sing mbarep. Sejak bapaknya meninggal, anak ibu yang pertama itu yang menggantikan posisi bapaknya. Anak ibu memang cacat, waktu kecil terkena polio, hingga kakinya mengecil, jadi kalo jalan nda seimbang, agak pincang. Tapi tekadnya luar biasa nak.
Dengan peninggalan bapak yang tak seberapa, anak ibu mulai ngangon sapi orang. Kebetulan, ada tetangga ibu yang mempunyai sapi, jadi dia menawarkan diri untuk ngangon sapi. Anak ibu itu sangat rajin, setiap pagi, sapi-sapi itu di bawa untuk mencari rumput. Agak siang baru pulang. Alhamdulillah, karena ketelatenannya, sapi-sapi itu pun gemuk-gemuk. Tetangga ibu jadi senang. Anak ibu pun diberi hadiah dua ekor anak sapi jantan dan betina.
Alhamdulillah, karena ketekunan dan kerja kerasnya, sapi itu berkembang nak. Nah, dari situlah anak ibu bisa membiayai kebutuhan sehari-hari dan sekolah adik-adiknya. Ibu sempat mengingatkannya untuk melanjutkan sekolah lagi, tapi dia nda mau.” bu Parmi berhenti sejenak, menghela napas.
“Pernah suatu hari ibu bertanya padanya, kamu kok nda mau lanjut sekolah toh. Hidup kita sudah cukup le. Anak ibu tersenyum, katanya, bu’e, saya sudah mendapatkan pendidikan yang luar biasa, saya sudah “sekolah” bu, namanya “sekolah kehidupan”, biarlah adik-adik yang sekolah, biar saya yang cari nafkah, saya lebih bangga kalo adik-adik bisa kuliah setinggi-tingginya.” Mata bu Parmi mulai berkaca-kaca.
“ Anak ibu sing mbarep, sungguh luar biasa nak Alya. Kebesaran hatinya terkadang membuat ibu menangis. Alhamdulillah, semua adik-adiknya menghargai kerja keras mas nya, jadi mereka pun tidak menyia-nyiakan waktu, mereka belajar dengan sungguh-sungguh, sampai akhirnya mereka dapat beasiswa.” bu Parmi menarik napas sejenak. Mata Alya berkaca-kaca, dadanya sesak. Subhanallah…..
“Jadi, kalo nak Alya tanya pada ibu, ibu paling bangga dengan anak ibu sing mbarep, dengan fisiknya yang terbatas, mampu bekerja keras, mampu membiayai kebutuhan keluarga dan mampu membiayai adik-adiknya sekolah. Nda pernah terlintas di benak ibu, kalo anak-anak ibu bisa kuliah nak, apalagi sampai keluar negeri. Juga ibu nda pernah membayangkan bisa numpak pesawat. Yah, semua ini karunia Allah nak, karunia Allah yang disampaikan melalui anak ibu sing mbarep.”
Tidak sepatah katapun bisa terucap dari mulut Alya. Alya hanya bisa terdiam dan memandang bu Parmi dengan air mata haru.
Baca Selengkapnya...
HIDUP ADALAH ANUGRAH
Oleh; Ratih......
Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadis itu kalau gadisnya sudah bisa melihat dunia. Suatu hari ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadis itu. Yang akhirnyasi gadis bisa melihat segala hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia, Apakah engkau mau menikah denganku?”. Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya. Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik kedua mata yg telah aku berikan kepadamu”.
Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.
• Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
• Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu, ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
• Sebelum engkau mengeluh tentang orang tuamu, ingatlah akan seorang anak yang menangis kepada Allah untuk meminta kesembuhan atas penyakit orang tuanya.
• Ketika engkau lelah dan mengeluh tentang sekolahmu, ingatlah akan anak-anak yang menginginkan untuk melanjutkan sekolah, namun tidak memiliki biaya untuk itu.
• Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke alam kubur dengan masih menyertakan dosanya.
• Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu, pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Allah swt karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.
Hidup adalah anugerah, syukurilah, jalanilah, nikmatilah dan isilah hidup ini dengan sesuatu yg bermanfaat untuk umat manusia.
NIKMATILAH dan BERI YANG TERBAIK DI SETIAP DETIK DALAM HIDUPMU, KARENA ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI untuk waktumu selanjutnya !!!
Baca Selengkapnya...
Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadis itu kalau gadisnya sudah bisa melihat dunia. Suatu hari ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadis itu. Yang akhirnyasi gadis bisa melihat segala hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia, Apakah engkau mau menikah denganku?”. Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya. Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik kedua mata yg telah aku berikan kepadamu”.
Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.
• Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
• Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu, ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
• Sebelum engkau mengeluh tentang orang tuamu, ingatlah akan seorang anak yang menangis kepada Allah untuk meminta kesembuhan atas penyakit orang tuanya.
• Ketika engkau lelah dan mengeluh tentang sekolahmu, ingatlah akan anak-anak yang menginginkan untuk melanjutkan sekolah, namun tidak memiliki biaya untuk itu.
• Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke alam kubur dengan masih menyertakan dosanya.
• Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu, pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Allah swt karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.
Hidup adalah anugerah, syukurilah, jalanilah, nikmatilah dan isilah hidup ini dengan sesuatu yg bermanfaat untuk umat manusia.
NIKMATILAH dan BERI YANG TERBAIK DI SETIAP DETIK DALAM HIDUPMU, KARENA ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI untuk waktumu selanjutnya !!!
Baca Selengkapnya...
KEPADA ANAK PEREMPUAN KU
Oleh; Nadiah HIMA PUI,,
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang halus perasaannya sedemikian halus, hingga dapat kaurasakan derita orang-orang yang terlunta di lorong-lorong peradaban dan dapat kau jelang mereka dengan penuh kasih sayang karena mereka adalah bagian dari dirimu juga, perempuan. Semoga DIA menjadikanmu manusia yang tajam pemikirannya sedemikian tajam, hingga dapat kau pecahkan buih-buih kebencian yang meracuni pengetahuan dan jernihlah muara sejernih hulunya karena abadinya nilai-nilai kesempurnaan tak dapat digantungkan kepada apa pun lagi selain kepada bening cintamu, perempuan.
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang kuat sendirian sedemikian kuat, hingga ketika kau telah mampu hidup tanpa bergantung kau pun mampu memilih untuk seutuhnya tergantung kepada siapa pun yang dihadirkanNYA untukmu karena kau sadar bahwa kau memang tercipta untuk dinikahi, perempuan.
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang tinggi martabatnya sedemikian tinggi, hingga dapat kau rendahkan hatimu serendah-rendahnya dan tangguhlah azab bagi mereka yang belum ridho mengesakanNYA sungguh esalah sucimu hanya dengan DIA sebagai saksi karena kenyataanmu memanglah tersembunyi, perempuan.
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang dapat menahan pandangan sedemikian tahan, hingga ingatanmu kepadaNYA mampu menghanguskan setiap nafsu yang menyerang dari dalam dan luar dirimu dan menjadi cahaya lah wajahmu bagi pencari kebenaran serta hanya cadar hitam lah rupamu bagi pencari pembenaran karena hanya DIA lah yang kau jumpa dan hanya wajah NYA yang kau damba setiap kau temukan dirimu dalam cinta
dan..........
DIA lah hijab dihadapan siapa pun kau berada.
Baca Selengkapnya...
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang halus perasaannya sedemikian halus, hingga dapat kaurasakan derita orang-orang yang terlunta di lorong-lorong peradaban dan dapat kau jelang mereka dengan penuh kasih sayang karena mereka adalah bagian dari dirimu juga, perempuan. Semoga DIA menjadikanmu manusia yang tajam pemikirannya sedemikian tajam, hingga dapat kau pecahkan buih-buih kebencian yang meracuni pengetahuan dan jernihlah muara sejernih hulunya karena abadinya nilai-nilai kesempurnaan tak dapat digantungkan kepada apa pun lagi selain kepada bening cintamu, perempuan.
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang kuat sendirian sedemikian kuat, hingga ketika kau telah mampu hidup tanpa bergantung kau pun mampu memilih untuk seutuhnya tergantung kepada siapa pun yang dihadirkanNYA untukmu karena kau sadar bahwa kau memang tercipta untuk dinikahi, perempuan.
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang tinggi martabatnya sedemikian tinggi, hingga dapat kau rendahkan hatimu serendah-rendahnya dan tangguhlah azab bagi mereka yang belum ridho mengesakanNYA sungguh esalah sucimu hanya dengan DIA sebagai saksi karena kenyataanmu memanglah tersembunyi, perempuan.
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang dapat menahan pandangan sedemikian tahan, hingga ingatanmu kepadaNYA mampu menghanguskan setiap nafsu yang menyerang dari dalam dan luar dirimu dan menjadi cahaya lah wajahmu bagi pencari kebenaran serta hanya cadar hitam lah rupamu bagi pencari pembenaran karena hanya DIA lah yang kau jumpa dan hanya wajah NYA yang kau damba setiap kau temukan dirimu dalam cinta
dan..........
DIA lah hijab dihadapan siapa pun kau berada.
Baca Selengkapnya...
(PUISI) MAAFKAN IBU ANAK KU
Oleh Putri
saat pulas tidurmu kucium lembut pipi mungilmu dan kuusap rambutmu
sungguh anakku, ibu mencintaimu
Maafkan ibu, anakku ketika tadi siang
engkau kubentak karena adik baru tidur dalam pelukanku
sedangkan badanku penat bukan main lantas engkau menjauh
sambil tetap memandangku
Maafkan ibu, anakku ketika jari ibu
meninggalkan bekas merah di pahamu
hanya karena engkau makan sembari bermain-main
lalu nasimu tumpah ke lantai tapi engkau tak menangis,
hanya mata beningmu menatapku dengan takut-takut
Maafkan ibu, anakku yang menolak bercerita saat engkau ingin mendengar kisah
yang bisa membuatmu tertawa gembiraatau menitikkan air mata,
hanya karena ibu sedang lelah....
atau ibu sedang sibuk dengan pekerjaan lainnya
Maafkan ibu, anakku yang tidak lebih awal menjumpaimu untuk sekedar
duduk dan bermain bersama hanya karena ibu ingin
melakukan sesuatu untuk diri ibu...
anakku,
betapa ibu merasa bersalah
begitu ibu tahu engkau sangat dan sangat rindu duduk dipangkuanku
Maafkan ibu, anakku yang marah kepadamu
hanya karena kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahanmu...
ibu marah hanya karena ibu letih mengerjakan pekerjaan seorang ibu
Maafkan ibu, anakku
terkadang ibu ingin bisa membagi tubuhku agar segala keinginanmu terpenuhi...
sedang sebagian tubuhku yang lain mengerjakan tugas dan pekerjaan yang lain lagi..
Maafkan ibu, anakku
yang tidak mampu memberikan seluruh waktuku untukmu...
andai engkau tahu sayangku...
betapa ibu sangat mencintaimu,
betapa ibu terkadang bisa begitu ketakutan akan kehilanganmu,
betapa ibu bisa tertawa hanya karena tingkahmu,
betapa ibu bisa menangis tatkala melihatmu kecewa,
betapa ibu khawatir ketika engkau sakit..
Anakku,
sungguh ibu tak mengharap apa-apa
tatkala ibu berjuang menghadirkanmu ke dunia,
mendengar engkau sehat... itu saja telah mampu
menghilangkan seluruh derita
Sering ibu bertanya,
marahkah engkau pada ibu yang telah
marah kepadamu..
gelengan kepalamu membuat ibu lega,
walau tetap tak akan mampu menghapus rasa sesal dihatiku
Sungguh anakku,
cinta ibu padamu hanya Tuhan yang tahu...
tak pernah seseorang bisa mengukur dalamnya
cinta seorang ibu pada anaknya,
sampai ia kelak menjadi seorang ibu.
Maafkan ibu, anakku...
yang tak mampu menjadi ibu sebagaimana
seharusnya seorang ibu yang sempurna
Anakku...
ridha ibu adalah milikmu
agar kelak engkau mudah memasuki surga-Nya
(hanya itu mungkin, yang mampu ibu berikan untukmu, duhai permata hatiku......)
Baca Selengkapnya...
saat pulas tidurmu kucium lembut pipi mungilmu dan kuusap rambutmu
sungguh anakku, ibu mencintaimu
Maafkan ibu, anakku ketika tadi siang
engkau kubentak karena adik baru tidur dalam pelukanku
sedangkan badanku penat bukan main lantas engkau menjauh
sambil tetap memandangku
Maafkan ibu, anakku ketika jari ibu
meninggalkan bekas merah di pahamu
hanya karena engkau makan sembari bermain-main
lalu nasimu tumpah ke lantai tapi engkau tak menangis,
hanya mata beningmu menatapku dengan takut-takut
Maafkan ibu, anakku yang menolak bercerita saat engkau ingin mendengar kisah
yang bisa membuatmu tertawa gembiraatau menitikkan air mata,
hanya karena ibu sedang lelah....
atau ibu sedang sibuk dengan pekerjaan lainnya
Maafkan ibu, anakku yang tidak lebih awal menjumpaimu untuk sekedar
duduk dan bermain bersama hanya karena ibu ingin
melakukan sesuatu untuk diri ibu...
anakku,
betapa ibu merasa bersalah
begitu ibu tahu engkau sangat dan sangat rindu duduk dipangkuanku
Maafkan ibu, anakku yang marah kepadamu
hanya karena kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahanmu...
ibu marah hanya karena ibu letih mengerjakan pekerjaan seorang ibu
Maafkan ibu, anakku
terkadang ibu ingin bisa membagi tubuhku agar segala keinginanmu terpenuhi...
sedang sebagian tubuhku yang lain mengerjakan tugas dan pekerjaan yang lain lagi..
Maafkan ibu, anakku
yang tidak mampu memberikan seluruh waktuku untukmu...
andai engkau tahu sayangku...
betapa ibu sangat mencintaimu,
betapa ibu terkadang bisa begitu ketakutan akan kehilanganmu,
betapa ibu bisa tertawa hanya karena tingkahmu,
betapa ibu bisa menangis tatkala melihatmu kecewa,
betapa ibu khawatir ketika engkau sakit..
Anakku,
sungguh ibu tak mengharap apa-apa
tatkala ibu berjuang menghadirkanmu ke dunia,
mendengar engkau sehat... itu saja telah mampu
menghilangkan seluruh derita
Sering ibu bertanya,
marahkah engkau pada ibu yang telah
marah kepadamu..
gelengan kepalamu membuat ibu lega,
walau tetap tak akan mampu menghapus rasa sesal dihatiku
Sungguh anakku,
cinta ibu padamu hanya Tuhan yang tahu...
tak pernah seseorang bisa mengukur dalamnya
cinta seorang ibu pada anaknya,
sampai ia kelak menjadi seorang ibu.
Maafkan ibu, anakku...
yang tak mampu menjadi ibu sebagaimana
seharusnya seorang ibu yang sempurna
Anakku...
ridha ibu adalah milikmu
agar kelak engkau mudah memasuki surga-Nya
(hanya itu mungkin, yang mampu ibu berikan untukmu, duhai permata hatiku......)
Baca Selengkapnya...
KISAH WANITA ZUHUD
Oleh; Nurhayati
Dikisahkan;''''
ada seorang perempuan yang gemar memamerkan dandanannya di depan kaum lelaki. Ia mati. Hingga suatu malam di antara saudaranya ada yang bermimpi melihat dirinya di hadirkan kehadapan Allah dengan mengenakan busana yang sangat tipis. Saat itu angin bertiup menerpa busananya, tersingkaplah busananya. Allah berpaling tidak sudi memperhatikannya. Allah berfirman:”Seret dia ke NERAKA ………………!!! Sesungguhnya perempuan itu termasuk orang yang suka memamerkan dandanannya sewaktu di dunia. Ketika suami rabi’ah Adawiyah mati, beberapa waktu kemudian Hasan Al Basri dan kawan kawannya datang menghadap Rabi’ah. Mereka meminta izin di perkenankan masuk, mereka di perkenankan masuk. Rabi’ah segera mengenakan cadarnya, dan mengambil tempat duduk di balik tabir.
Hasan AlBasri mewakili kawan kawannya mengutarakan maksud kedatangannya. Ia berkata : ”Suamimu telah tiada, sekarang Kau sendirian. Kalau kmu menghendaki silahkan memilih salah seorang dari kami. Mereka ini orang orang yang ahli zuhud”.
Jawab Rabi’ah Adawiyah:”ya, aku suka saja mendapat kemuliyaan ini. Namun aku hendak menguji kalian, siapa yang paling ‘alim(pandai) diantara kalian itulah yang menjadi suamiku”.
Hasan Al Basri dan kawan kawannya menyanggupi. Kemudian Rabi’ah Adawiyah bertanya: ”Jawablah empat pertanyaanku ini kalau bisa aku siap di peristri oleh kamu”.
Hasan Al Basri berkata :”Silahkan bertanya, kalau Allah memberi pertolongan aku mampu menjawab tentu aku jawab”.
“Bagaimana pendapatmu kalau aku mati kelak, kematianku dalam muslim (husnul khatimah) atau dalam keadaan kafir(suul khatimah)”. kata Rabi’ah bertanya.
Jawab Hasan Al basri : ”Yang kau tanyakan itu hal yang ghaib, mana aku tahu. . ”.
“Bagaimana pendapatmu, kalau nanti aku sudah di masukkan kedalam kubur dan mungkar-nakir bertanya kepadaku, apakah aku sanggup menjawab atau tidak. . ”
“Itu persoalan ghaib lagi”. Jawab Hasan Al Basri.
“Kalau seluruh manusia di giring di MAUQIF (padang mahsyar) pada hari kiamat kelak, dan buku buku catatan amal yang dilakukan oleh malaikat HAFAZHAH beterbangan dari tempat penyimpanannya di bawah ‘arsy. Kemudian buku buku catatan itu di berikan kepada pemiliknya. Sebagian ada yang melalui tangan kanan saat menerima dan sebagian lagi ada yang lewat tangan kiri dalam menerimanya. Apakah aku termasuk orang yang menerimanya dengan tangan kanan atau tangan kiri. . ?, tanya Rabi’ah.
“Lagi lagi yang kau tanyakan hal yang ghaib”, jawab Hasan Al Basri.
Tanya Rabi’ah sekali lagi:”Manakala pada hari kiamat terdengar pengumuman bahwa, sebagian manusia masuk surga dan sebagian yang lain masuk neraka, apakah aku termasuk ahli syurga atau ahli neraka. . ?”.
“Pertanyaanmu yang ini juga termasuk persoalan yang ghaib”, jawab Hasan Al basri.
Rabi’ah berkata :”Bagaimana orang yang mempunyai perhatian kuat terhadap empat persoalan itu masih sempat mamikirkan nikah. . ?”.
Coba perhatikanlah kisah dialog tersebut. Betapa besar perasaan takut Rabi’ah Adawiyah terhadap persoalan itu. Kendati ia seorang sholehah. namun masih diikuti perasaan takut yang luar biasa jika akhir hayatnya tidak baik.
Diceritakan bahwa, Rabi’ah Adawiyah itu mempunyai tingkah laku yang berubah ubah. Suatu ketika perasaan cintanya kepada Allah begitu berat, hingga ia tidak sempat lagi berbuat apa-apa. Diwaktu lain ia kelihatan tenang nampak seperti tidak ada masalah, dan lain waktu ia kelihatan sangat takut dan cemas.
Suaminya menceritakan, suatu hari aku duduk sambil menikmati makanan. Sementara ia duduk di sampingku dalam keadaan termenung lantaran di hantui peristiwa kiamat.
Aku berkata :”Biarkan aku sendirian menikmati makanan ini”.
Ia menjawab aku dan dirimu itu bukanlah termasuk orang yang dibuat susah dalam menyantap makanan, lantaran mengingat akherat”. Lebih lanjut Ia berkata:”Demi Allah, sesungguhnya bukanlah aku mencintaimu seperti kecintaannya orang yang bersuami
istri pada umumnya. hanyalah kecintaanku padamu sebagaimana kecintaan orang yang bersahabat”.
Kalau Rabi’ah Adawiyah memasak makanan, Ia berkata:”Majikanku, makanlah masakan itu. Karena tidak patut bagi badanku kecuali membaca tasbih saja”. (yang di maksud majikan adalah suami dari Rabi’ah Adawiyah sendiri).
Hingga suatu hari Rabi’ah berkata pada suaminya:”Tinggalkan diriku, silahkan kamu menikah lagi”. Hal itu dikatakan ketika suaminya masih hidup. Maka Aku (suaminya)pun menikah lagi dengan tiga orang perempuan. Saat itu Rabi’ah masih setia melayani keperluan suaminya, termasuk memasakkan makanan. Suatu hari Rabi’ah Adawiyah memasakkan daging untuk suaminya, Ia berkata:”Tinggalkanlah diriku dengan membawa kekuatan yang baru menujuistri-istrimu yang lain”.
Dikisahkan bahwa Rabi’ah Adawiyah juga mempunyai sahabat sahabat yang lain dari bangsa jin, yang sanggup mendatangkan apa saja yang di kehendakinya. Wali perempuan ini dalam kehidupannya dikenal pula mempunyai berbagai kekeramatan hingga wafatnya. Di antara kekeramatannya adalah bahwa pada suatu malam ada pencuri masuk menjarahi isi rumahnya. Ia sendiri masih terlelap tidur. Ketika pencuri itu hendak keluar dengan menjinjing barang-barang yang telah di kemasi, mendadak pintu rumahnya hilang semua. Pencuri itu lalu duduk disamping pintu yang di pandang semula belum lenyap. Tiba tiba saat itu terdengar suara halus menyapanya:”Letaakkan barang -barang yanga kau kemasi. Keluarlah dari pintu ini”.
Ia pun segera meletakkan barang-barang yang telah dikemasi. Mendadak pintu itu kelihatan lagi. Begitu ia melihat pintu maka ia segera menyambar lagi barang-barang hasil curian tadi. Tiba-tiba pintu itu hilang lagi seketika ia letakkan lagi barang hasil jarahannya. Pintu kelihatan lagi. Ia mengambil kembali barang haasil jarahannya. Pintu hilang lagi. Dan begitu seterusnya.
Tiba-tiba terdengar lagi suara lembut menyapa :”Kalau Rabi’ah adawiyah tertidur, Tetapi Allah tidak tertidur dan tidak pula terserang rasa kantuk”, maka ia pun sadar. barang barang yang di kemasinya pun Ia tinggalkan, lalu ia pun keluar melalui pintu tadi.
Baca Selengkapnya...
Dikisahkan;''''
ada seorang perempuan yang gemar memamerkan dandanannya di depan kaum lelaki. Ia mati. Hingga suatu malam di antara saudaranya ada yang bermimpi melihat dirinya di hadirkan kehadapan Allah dengan mengenakan busana yang sangat tipis. Saat itu angin bertiup menerpa busananya, tersingkaplah busananya. Allah berpaling tidak sudi memperhatikannya. Allah berfirman:”Seret dia ke NERAKA ………………!!! Sesungguhnya perempuan itu termasuk orang yang suka memamerkan dandanannya sewaktu di dunia. Ketika suami rabi’ah Adawiyah mati, beberapa waktu kemudian Hasan Al Basri dan kawan kawannya datang menghadap Rabi’ah. Mereka meminta izin di perkenankan masuk, mereka di perkenankan masuk. Rabi’ah segera mengenakan cadarnya, dan mengambil tempat duduk di balik tabir.
Hasan AlBasri mewakili kawan kawannya mengutarakan maksud kedatangannya. Ia berkata : ”Suamimu telah tiada, sekarang Kau sendirian. Kalau kmu menghendaki silahkan memilih salah seorang dari kami. Mereka ini orang orang yang ahli zuhud”.
Jawab Rabi’ah Adawiyah:”ya, aku suka saja mendapat kemuliyaan ini. Namun aku hendak menguji kalian, siapa yang paling ‘alim(pandai) diantara kalian itulah yang menjadi suamiku”.
Hasan Al Basri dan kawan kawannya menyanggupi. Kemudian Rabi’ah Adawiyah bertanya: ”Jawablah empat pertanyaanku ini kalau bisa aku siap di peristri oleh kamu”.
Hasan Al Basri berkata :”Silahkan bertanya, kalau Allah memberi pertolongan aku mampu menjawab tentu aku jawab”.
“Bagaimana pendapatmu kalau aku mati kelak, kematianku dalam muslim (husnul khatimah) atau dalam keadaan kafir(suul khatimah)”. kata Rabi’ah bertanya.
Jawab Hasan Al basri : ”Yang kau tanyakan itu hal yang ghaib, mana aku tahu. . ”.
“Bagaimana pendapatmu, kalau nanti aku sudah di masukkan kedalam kubur dan mungkar-nakir bertanya kepadaku, apakah aku sanggup menjawab atau tidak. . ”
“Itu persoalan ghaib lagi”. Jawab Hasan Al Basri.
“Kalau seluruh manusia di giring di MAUQIF (padang mahsyar) pada hari kiamat kelak, dan buku buku catatan amal yang dilakukan oleh malaikat HAFAZHAH beterbangan dari tempat penyimpanannya di bawah ‘arsy. Kemudian buku buku catatan itu di berikan kepada pemiliknya. Sebagian ada yang melalui tangan kanan saat menerima dan sebagian lagi ada yang lewat tangan kiri dalam menerimanya. Apakah aku termasuk orang yang menerimanya dengan tangan kanan atau tangan kiri. . ?, tanya Rabi’ah.
“Lagi lagi yang kau tanyakan hal yang ghaib”, jawab Hasan Al Basri.
Tanya Rabi’ah sekali lagi:”Manakala pada hari kiamat terdengar pengumuman bahwa, sebagian manusia masuk surga dan sebagian yang lain masuk neraka, apakah aku termasuk ahli syurga atau ahli neraka. . ?”.
“Pertanyaanmu yang ini juga termasuk persoalan yang ghaib”, jawab Hasan Al basri.
Rabi’ah berkata :”Bagaimana orang yang mempunyai perhatian kuat terhadap empat persoalan itu masih sempat mamikirkan nikah. . ?”.
Coba perhatikanlah kisah dialog tersebut. Betapa besar perasaan takut Rabi’ah Adawiyah terhadap persoalan itu. Kendati ia seorang sholehah. namun masih diikuti perasaan takut yang luar biasa jika akhir hayatnya tidak baik.
Diceritakan bahwa, Rabi’ah Adawiyah itu mempunyai tingkah laku yang berubah ubah. Suatu ketika perasaan cintanya kepada Allah begitu berat, hingga ia tidak sempat lagi berbuat apa-apa. Diwaktu lain ia kelihatan tenang nampak seperti tidak ada masalah, dan lain waktu ia kelihatan sangat takut dan cemas.
Suaminya menceritakan, suatu hari aku duduk sambil menikmati makanan. Sementara ia duduk di sampingku dalam keadaan termenung lantaran di hantui peristiwa kiamat.
Aku berkata :”Biarkan aku sendirian menikmati makanan ini”.
Ia menjawab aku dan dirimu itu bukanlah termasuk orang yang dibuat susah dalam menyantap makanan, lantaran mengingat akherat”. Lebih lanjut Ia berkata:”Demi Allah, sesungguhnya bukanlah aku mencintaimu seperti kecintaannya orang yang bersuami
istri pada umumnya. hanyalah kecintaanku padamu sebagaimana kecintaan orang yang bersahabat”.
Kalau Rabi’ah Adawiyah memasak makanan, Ia berkata:”Majikanku, makanlah masakan itu. Karena tidak patut bagi badanku kecuali membaca tasbih saja”. (yang di maksud majikan adalah suami dari Rabi’ah Adawiyah sendiri).
Hingga suatu hari Rabi’ah berkata pada suaminya:”Tinggalkan diriku, silahkan kamu menikah lagi”. Hal itu dikatakan ketika suaminya masih hidup. Maka Aku (suaminya)pun menikah lagi dengan tiga orang perempuan. Saat itu Rabi’ah masih setia melayani keperluan suaminya, termasuk memasakkan makanan. Suatu hari Rabi’ah Adawiyah memasakkan daging untuk suaminya, Ia berkata:”Tinggalkanlah diriku dengan membawa kekuatan yang baru menujuistri-istrimu yang lain”.
Dikisahkan bahwa Rabi’ah Adawiyah juga mempunyai sahabat sahabat yang lain dari bangsa jin, yang sanggup mendatangkan apa saja yang di kehendakinya. Wali perempuan ini dalam kehidupannya dikenal pula mempunyai berbagai kekeramatan hingga wafatnya. Di antara kekeramatannya adalah bahwa pada suatu malam ada pencuri masuk menjarahi isi rumahnya. Ia sendiri masih terlelap tidur. Ketika pencuri itu hendak keluar dengan menjinjing barang-barang yang telah di kemasi, mendadak pintu rumahnya hilang semua. Pencuri itu lalu duduk disamping pintu yang di pandang semula belum lenyap. Tiba tiba saat itu terdengar suara halus menyapanya:”Letaakkan barang -barang yanga kau kemasi. Keluarlah dari pintu ini”.
Ia pun segera meletakkan barang-barang yang telah dikemasi. Mendadak pintu itu kelihatan lagi. Begitu ia melihat pintu maka ia segera menyambar lagi barang-barang hasil curian tadi. Tiba-tiba pintu itu hilang lagi seketika ia letakkan lagi barang hasil jarahannya. Pintu kelihatan lagi. Ia mengambil kembali barang haasil jarahannya. Pintu hilang lagi. Dan begitu seterusnya.
Tiba-tiba terdengar lagi suara lembut menyapa :”Kalau Rabi’ah adawiyah tertidur, Tetapi Allah tidak tertidur dan tidak pula terserang rasa kantuk”, maka ia pun sadar. barang barang yang di kemasinya pun Ia tinggalkan, lalu ia pun keluar melalui pintu tadi.
Baca Selengkapnya...
02/05/10
Bersatulah, Jangan Seperti Orang-Orang yang Bercerai-Berai
dakwatuna.com – Segala Puji hanya bagi Allah Rabb Semesta Alam. Shalawat dan Salam untuk Nabi Muhammad SAW.
Paling agungnya nikmat dalam kebersamaan adalah bahwa adanya penyatuan hati dan ikatan hati di antara kita. Dan paling buruknya nikmat dalam suatu hidup kebersamaan adalah perpecahan dan bercerai-berai. Di sana banyak hadits dalam ilmu psikologis dan ilmu jiwa apa saja yang menyebabkan timbulnya perpecahan. Dan mereka telah meletakkan berbagai macam pemecahan untuk itu. Dan ketika kita melihat Al-Qur’an kita menemukan ini dalam suatu ayat. Itulah keadaan Al-Qur’an sebagai suatu mukjizat, ia mendatangkan dari berita yang besar dalam suatu kalimat efektif. Allah SWT menyebutkan dari umat terdahulu yang telah mendahului kita. Mereka adalah kaum Nasrani, mereka mengikuti nabi Isa AS, lalu terjadi masalah besar dalam agama mereka. Itulah yang menyebabkan perpecahan dalam diri mereka. Dan ayat menggambarkan kondisi manusia. Hal ini berulang-ulang, dan menyebabkan pengulangan dalam setiap kejadian, di setiap zaman dan tempat, di setiap pertemuan, dan di setiap kebersamaan, terutama dalam setiap perkumpulan karena Allah SWT. Allah berfirman,
وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ
“Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Kami ini orang-orang Nasrani”, Kami telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.” (QS. Al Maidah: 14)
Inilah pondasi utama dalam setiap kita berkumpul dan bersama. Kenapa Allah SWT menyebutkan ini dalam ayat ini? Agar tidak terjadi hal yang sama. Dan Allah menyebutkan kapan terjadinya.
Dalam suatu kitab dikatakan bahwa di antara orang Nasrani, Allah SWT telah mengambil perjanjian di antara mereka. Mengambil perjanjian di sini maksudnya adalah orang itu mengenal atau mempunyai ilmu terhadap ajaran Allah SWT. Dan dia telah mengetahui tentang kewajiban terhadap Allah SWT serta mengetahui kewajiban dakwah. Dia telah mengetahui tentang sunnah dan kewajiban untuk mengikutinya. Setiap apa yang kau ketahui itu sudah merupakan perjanjian terhadap Allah SWT. Dan di hari kiamat setiap orang akan ditanya tentang apa yang diketahui.
كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
“Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya (neraka), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu?” (QS. Al-Mulk: 8 )
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً
“… Kami tidak akan menyiksa sebelum kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15)
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah” (QS. Muhammad: 19)
Dan siapa yang tidak ikut terhadap Rasul padahal telah jelas kepadanya petunjuk? Barang siapa yang telah jelas kepadanya petunjuk tapi ia tidak komitmen kepada petunjuk tersebut, maka Allah akan menagih perjanjian itu.
Lalu apa yang terjadi? Terjadi bahwa sebagian jiwa manusia: LUPA. Melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Lupa mengandung dua makna dalam Al-Qur’an.
Makna pertama adalah tidak adanya ilmu. Seperti dalam surat Al-Kahfi bahwa sesungguhnya syaitan telah membuatnya lupa (QS. 18: 63). Inilah tidak adanya ilmu. Makna lupa yang kedua adalah meninggalkannya. Inilah yang dimaksud dengan yang di surat Al Maidah ayat 14 di atas. Maka barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang telah diketahuinya, itulah lupa. Seperti dalam suatu ayat,
نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ
“Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula).” (QS. At-Taubah: 67)
Mereka meninggalkan ajaran Allah, mereka meninggalkan ketaatan kepada Allah, dan mereka melalaikan perintah Allah. Kaum Bani Israil, mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Dikatakan dalam suatu ayat:
وَنَسُواْ حَظّاً مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِ
“dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan (hazhzhan) yang telah diperingatkan kepada mereka (dzukkiruu bihi)” (QS. Al-Maidah: 13)
“Hazhzhan”. Apa itu hazhzhan? Hazhzhan artinya adalah sebagian atau bagian kecil. Allah menjelaskan bahwa mereka telah meninggalkan sebagian kecil dari ajaran yang telah diingatkan kepada mereka. Inilah sebab terjadinya persatuan dan di sinilah sebab terjadinya perpecahan. Jadi ketika telah meninggalkan sebagian dari apa yang telah diajarkan kepada mereka, maka di sini sebab timbulnya perpecahan. Terutama dalam masalah-masalah besar yang menyangkut masalah pondasi agama, serta pegangan prinsip agama.
Allah SWT berfirman:
فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ
“… maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka …” (QS. Al-Maidah: 14)
Apa artinya أَغْرَيْنَا ? Apa artinya al-ighra? Al-Ighra artinya mendorong ulang. Artinya bahwa permusuhan menjadi sesuatu yang dia sukai. Maka dia menjadikan perpecahan itu sebagai sesuatu yang dia senangi. Apa sebabnya? Karena mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diingatkan dari Allah SWT kepada mereka. Inilah ringkasan dari seluruh persoalan.
Bukan berarti kita meninggalkan persoalan lain tapi ini masalah utama. Ketika kita ingin istiqamah dan kita ingin persatuan yang kuat dan kebersamaan yang kuat, maka hendaklah kita melihat makna ayat ini dan kita melakukan apa yang dilakukan oleh para sahabat: setiap diperintahkan mereka melaksanakan, setiap dilarang mereka meninggalkannya. Karena itu mereka bersatu. Maka dikatakan mereka seperti satu hati.
Raja orang kafir mengatakan, “Kami telah melihat teman-teman Kisra dan kaisar tapi kami tidak pernah menemukan seperti sahabat Muhammad”. Maka berkata salah seorang panglima di kisaran Qodisiyah bahwa orang-orang Islam telah belajar dari Muhammad. Inilah persatuan yang dibangun di atas pondasi.
Ada pun orang yang pura-pura berbasa-basi, maka Allah SWT akan mengungkap kebasa-basian. Allah SWT tidak memperbaiki orang yang berbuat kerusakan. Dan Allah SWT tidak memberikan janji kepada orang-orang yang berkhianat. Dan sebaliknya, Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang shalih. Dan Allah menunjukkan jalan keluar bagi orang-orang beriman. Dan Allah menjauhkan keburukan dari mereka.
Maka setiap kamu menemukan dalam hati suatu keinginan untuk bersatu maka berarti Allah telah menginginkan kebaikan darinya. Dan kebalikannya – ini juga merupakan kebenaran – jika ada seseorang yang dalam dirinya ingin perpecahan-perpecahan berarti Allah menginginkan keburukan darinya. Karenanya Allah SWT mengingatkan janganlah engkau berpecah belah seperti orang terdahulu berpecah belah.
وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas (al-bayyinat).” (QS. Ali Imran: 105)
Lihatlah makna yang sama antara ذُكِّرُواْ بِهِ (dzukkiru bihi) dengan makna الْبَيِّنَاتُ (al-bayyinat).
Keadilan itu jelas. Kebenaran itu jelas. Pondasi agama jelas. Iman dan seluruh rukun-rukunnya jelas. Tujuan semuanya telah nampak. Semua itu merupakan al-bayyinat. Kepadanya hati orang-orang beriman berkumpul. Dan kepadanya barisan orang-orang shalih berkumpul. Inilah jalannya orang-orang beriman sepanjang sejarah. Kita mohon kepada Allah SWT semoga kita tergolong orang-orang yang bertaqwa. Baca Selengkapnya...
Paling agungnya nikmat dalam kebersamaan adalah bahwa adanya penyatuan hati dan ikatan hati di antara kita. Dan paling buruknya nikmat dalam suatu hidup kebersamaan adalah perpecahan dan bercerai-berai. Di sana banyak hadits dalam ilmu psikologis dan ilmu jiwa apa saja yang menyebabkan timbulnya perpecahan. Dan mereka telah meletakkan berbagai macam pemecahan untuk itu. Dan ketika kita melihat Al-Qur’an kita menemukan ini dalam suatu ayat. Itulah keadaan Al-Qur’an sebagai suatu mukjizat, ia mendatangkan dari berita yang besar dalam suatu kalimat efektif. Allah SWT menyebutkan dari umat terdahulu yang telah mendahului kita. Mereka adalah kaum Nasrani, mereka mengikuti nabi Isa AS, lalu terjadi masalah besar dalam agama mereka. Itulah yang menyebabkan perpecahan dalam diri mereka. Dan ayat menggambarkan kondisi manusia. Hal ini berulang-ulang, dan menyebabkan pengulangan dalam setiap kejadian, di setiap zaman dan tempat, di setiap pertemuan, dan di setiap kebersamaan, terutama dalam setiap perkumpulan karena Allah SWT. Allah berfirman,
وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ
“Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Kami ini orang-orang Nasrani”, Kami telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.” (QS. Al Maidah: 14)
Inilah pondasi utama dalam setiap kita berkumpul dan bersama. Kenapa Allah SWT menyebutkan ini dalam ayat ini? Agar tidak terjadi hal yang sama. Dan Allah menyebutkan kapan terjadinya.
Dalam suatu kitab dikatakan bahwa di antara orang Nasrani, Allah SWT telah mengambil perjanjian di antara mereka. Mengambil perjanjian di sini maksudnya adalah orang itu mengenal atau mempunyai ilmu terhadap ajaran Allah SWT. Dan dia telah mengetahui tentang kewajiban terhadap Allah SWT serta mengetahui kewajiban dakwah. Dia telah mengetahui tentang sunnah dan kewajiban untuk mengikutinya. Setiap apa yang kau ketahui itu sudah merupakan perjanjian terhadap Allah SWT. Dan di hari kiamat setiap orang akan ditanya tentang apa yang diketahui.
كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
“Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya (neraka), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu?” (QS. Al-Mulk: 8 )
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً
“… Kami tidak akan menyiksa sebelum kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15)
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah” (QS. Muhammad: 19)
Dan siapa yang tidak ikut terhadap Rasul padahal telah jelas kepadanya petunjuk? Barang siapa yang telah jelas kepadanya petunjuk tapi ia tidak komitmen kepada petunjuk tersebut, maka Allah akan menagih perjanjian itu.
Lalu apa yang terjadi? Terjadi bahwa sebagian jiwa manusia: LUPA. Melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Lupa mengandung dua makna dalam Al-Qur’an.
Makna pertama adalah tidak adanya ilmu. Seperti dalam surat Al-Kahfi bahwa sesungguhnya syaitan telah membuatnya lupa (QS. 18: 63). Inilah tidak adanya ilmu. Makna lupa yang kedua adalah meninggalkannya. Inilah yang dimaksud dengan yang di surat Al Maidah ayat 14 di atas. Maka barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang telah diketahuinya, itulah lupa. Seperti dalam suatu ayat,
نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ
“Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula).” (QS. At-Taubah: 67)
Mereka meninggalkan ajaran Allah, mereka meninggalkan ketaatan kepada Allah, dan mereka melalaikan perintah Allah. Kaum Bani Israil, mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Dikatakan dalam suatu ayat:
وَنَسُواْ حَظّاً مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِ
“dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan (hazhzhan) yang telah diperingatkan kepada mereka (dzukkiruu bihi)” (QS. Al-Maidah: 13)
“Hazhzhan”. Apa itu hazhzhan? Hazhzhan artinya adalah sebagian atau bagian kecil. Allah menjelaskan bahwa mereka telah meninggalkan sebagian kecil dari ajaran yang telah diingatkan kepada mereka. Inilah sebab terjadinya persatuan dan di sinilah sebab terjadinya perpecahan. Jadi ketika telah meninggalkan sebagian dari apa yang telah diajarkan kepada mereka, maka di sini sebab timbulnya perpecahan. Terutama dalam masalah-masalah besar yang menyangkut masalah pondasi agama, serta pegangan prinsip agama.
Allah SWT berfirman:
فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ
“… maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka …” (QS. Al-Maidah: 14)
Apa artinya أَغْرَيْنَا ? Apa artinya al-ighra? Al-Ighra artinya mendorong ulang. Artinya bahwa permusuhan menjadi sesuatu yang dia sukai. Maka dia menjadikan perpecahan itu sebagai sesuatu yang dia senangi. Apa sebabnya? Karena mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diingatkan dari Allah SWT kepada mereka. Inilah ringkasan dari seluruh persoalan.
Bukan berarti kita meninggalkan persoalan lain tapi ini masalah utama. Ketika kita ingin istiqamah dan kita ingin persatuan yang kuat dan kebersamaan yang kuat, maka hendaklah kita melihat makna ayat ini dan kita melakukan apa yang dilakukan oleh para sahabat: setiap diperintahkan mereka melaksanakan, setiap dilarang mereka meninggalkannya. Karena itu mereka bersatu. Maka dikatakan mereka seperti satu hati.
Raja orang kafir mengatakan, “Kami telah melihat teman-teman Kisra dan kaisar tapi kami tidak pernah menemukan seperti sahabat Muhammad”. Maka berkata salah seorang panglima di kisaran Qodisiyah bahwa orang-orang Islam telah belajar dari Muhammad. Inilah persatuan yang dibangun di atas pondasi.
Ada pun orang yang pura-pura berbasa-basi, maka Allah SWT akan mengungkap kebasa-basian. Allah SWT tidak memperbaiki orang yang berbuat kerusakan. Dan Allah SWT tidak memberikan janji kepada orang-orang yang berkhianat. Dan sebaliknya, Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang shalih. Dan Allah menunjukkan jalan keluar bagi orang-orang beriman. Dan Allah menjauhkan keburukan dari mereka.
Maka setiap kamu menemukan dalam hati suatu keinginan untuk bersatu maka berarti Allah telah menginginkan kebaikan darinya. Dan kebalikannya – ini juga merupakan kebenaran – jika ada seseorang yang dalam dirinya ingin perpecahan-perpecahan berarti Allah menginginkan keburukan darinya. Karenanya Allah SWT mengingatkan janganlah engkau berpecah belah seperti orang terdahulu berpecah belah.
وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas (al-bayyinat).” (QS. Ali Imran: 105)
Lihatlah makna yang sama antara ذُكِّرُواْ بِهِ (dzukkiru bihi) dengan makna الْبَيِّنَاتُ (al-bayyinat).
Keadilan itu jelas. Kebenaran itu jelas. Pondasi agama jelas. Iman dan seluruh rukun-rukunnya jelas. Tujuan semuanya telah nampak. Semua itu merupakan al-bayyinat. Kepadanya hati orang-orang beriman berkumpul. Dan kepadanya barisan orang-orang shalih berkumpul. Inilah jalannya orang-orang beriman sepanjang sejarah. Kita mohon kepada Allah SWT semoga kita tergolong orang-orang yang bertaqwa. Baca Selengkapnya...
Langganan:
Komentar (Atom)




















