Oleh; Umi Dep. Kaderisasi & da'wah
Disebuah sudut ruang tunggu Cairo International Airport. Seorang wanita muda terpelajar bernama Alya, sedang menunggu pesawat yang akan membawanya pulang ke Indonesia. Tiba-tiba, datang seorang ibu menyapa,”Assalammualaikum, anti Indonisiy?” Tanya ibu itu. “Na’am ummi,” jawab Alya sambil tersenyum. Si ibu pun tersenyum lega. “Alhamdulillah, boleh ibu duduk di dekatmu nak?” “Oh, silakan ibu,” ujar Alya sambil berdiri mempersilakan ibu itu untuk duduk di sampingnya. “Ibu mau ke Indonesia juga?” Tanya Alya membuka pembicaraan. “Iya nak, ibu habis nengok anak-anak ibu yang kuliah di sini. Mereka minta ibu untuk datang, karena anak ibu dapat beasiswa. Alhamdulillah.” jelas ibu itu panjang lebar. Alya terdiam, kagum sekali dengan anak-anak ibu ini. “Maaf bu, nama saya Alya Khoirunnisa, ibu?”kata Alya sambil mengulurkan tangannya “Eh ya, ya, sudah cerita ngalor ngidul kita belum kenalan. Ibu Parmi nak.” jawab bu Parmi.
Entah kenapa, Alya merasa sudah mengenal bu Parmi sejak lama, Alya sudah merasa dekat dengan bu Parmi. Mereka pun saling berbagi cerita. Sesekali Alya tertawa kecil mendengar cerita bu Parmi yang lucu. Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan mereka naiki ternyata mengalami delay (penundaan) hingga dua jam.
“Wah bu, dua jam lumayan juga ya. Kita ke café aja yuk bu, isi perut dulu.” ajak Alya. “Tapi ibu nda tau rumah makan deket sini nak Alya.” bu Parmi menyahut sambil kebingungan. “Tenang bu, kan ada Alya.”Alya tersenyum manis dan membimbing bu Parmi keluar dari ruang tunggu menuju café.
“Bu, kalo boleh tau, putra ibu ada berapa?” tanya Alya sambil menunggu makanan yang telah mereka pesan. “Semua ada lima nak Alya. Alhamdulillah semua laki-laki.” “Ooo…., trus kalo yang kuliah disini itu anak ibu yang ke berapa?” tanya Alya ingin tahu. “Yang kedua dan ketiga. Alhamdulillah nak, dua-duanya dapat beasiswa. Dulu, mereka mondok di pesantren Gontor. Yang ke empat dan kelima sekarang juga masih mondok. Yang keempat di pesantren Tebuireng, yang kelima di pesantren Gontor. InsyaAllah, mo ngikut mas nya juga kuliah disini,” jelas bu Parmi panjang lebar. Sesaat mereka terdiam. Alya menatap makanan yang telah terhidang di depannya. “Ayo bu, kita makan dulu,”ajak Alya.
“Kalo yang pertama bu?” tanya Alya lagi. “Sing mbarep, karena keterbatasan fisiknya, jadi nda bisa lanjut kuliah nak. Sekarang masih ngangon sapi di kampung.” kata bu Parmi sambil menikmati makanan. Alya tercenung, ah, kasihan sekali, ucap Alya dalam hati. Tak sadar, Alya menatap bu Parmi agak lama. “Ibu pasti bangga dengan anak-anak ibu yah, apa lagi yang bisa kuliah di Al-Azhar Mesir. Ga gampang lo bu, dapet beasiswa di universitas itu.” Bu Parmi menghentikan makannya dan menatap Alya, lama dan dalam.
“Yah, ibu sudah biasa mendengar itu nak Alya. Tapi, sebenarnya ibu paling bangga dengan anak ibu sing mbarep. Sejak bapaknya meninggal, anak ibu yang pertama itu yang menggantikan posisi bapaknya. Anak ibu memang cacat, waktu kecil terkena polio, hingga kakinya mengecil, jadi kalo jalan nda seimbang, agak pincang. Tapi tekadnya luar biasa nak.
Dengan peninggalan bapak yang tak seberapa, anak ibu mulai ngangon sapi orang. Kebetulan, ada tetangga ibu yang mempunyai sapi, jadi dia menawarkan diri untuk ngangon sapi. Anak ibu itu sangat rajin, setiap pagi, sapi-sapi itu di bawa untuk mencari rumput. Agak siang baru pulang. Alhamdulillah, karena ketelatenannya, sapi-sapi itu pun gemuk-gemuk. Tetangga ibu jadi senang. Anak ibu pun diberi hadiah dua ekor anak sapi jantan dan betina.
Alhamdulillah, karena ketekunan dan kerja kerasnya, sapi itu berkembang nak. Nah, dari situlah anak ibu bisa membiayai kebutuhan sehari-hari dan sekolah adik-adiknya. Ibu sempat mengingatkannya untuk melanjutkan sekolah lagi, tapi dia nda mau.” bu Parmi berhenti sejenak, menghela napas.
“Pernah suatu hari ibu bertanya padanya, kamu kok nda mau lanjut sekolah toh. Hidup kita sudah cukup le. Anak ibu tersenyum, katanya, bu’e, saya sudah mendapatkan pendidikan yang luar biasa, saya sudah “sekolah” bu, namanya “sekolah kehidupan”, biarlah adik-adik yang sekolah, biar saya yang cari nafkah, saya lebih bangga kalo adik-adik bisa kuliah setinggi-tingginya.” Mata bu Parmi mulai berkaca-kaca.
“ Anak ibu sing mbarep, sungguh luar biasa nak Alya. Kebesaran hatinya terkadang membuat ibu menangis. Alhamdulillah, semua adik-adiknya menghargai kerja keras mas nya, jadi mereka pun tidak menyia-nyiakan waktu, mereka belajar dengan sungguh-sungguh, sampai akhirnya mereka dapat beasiswa.” bu Parmi menarik napas sejenak. Mata Alya berkaca-kaca, dadanya sesak. Subhanallah…..
“Jadi, kalo nak Alya tanya pada ibu, ibu paling bangga dengan anak ibu sing mbarep, dengan fisiknya yang terbatas, mampu bekerja keras, mampu membiayai kebutuhan keluarga dan mampu membiayai adik-adiknya sekolah. Nda pernah terlintas di benak ibu, kalo anak-anak ibu bisa kuliah nak, apalagi sampai keluar negeri. Juga ibu nda pernah membayangkan bisa numpak pesawat. Yah, semua ini karunia Allah nak, karunia Allah yang disampaikan melalui anak ibu sing mbarep.”
Tidak sepatah katapun bisa terucap dari mulut Alya. Alya hanya bisa terdiam dan memandang bu Parmi dengan air mata haru.
10/05/10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar