10/05/10

Memahami Filosofi Doa

Ketika doa dianalogikan sebagai senjata orang-orang mukminsepertinya hal itu tidaklah salah dan tidak juga berlebihan. Bahkan seharusnya kelebihan ini dipergunakan oleh ummat islam sebaik-baiknya. Sebab, di balik doa ada makna yang luar biasa dahsyatnya. Ia bisa membalikan keadaan seratus delapan puluh derajat, melahirkan perubahan pada sikap si pendoa,merubah nasibnya, merubah kondisi dan keadaan yang selama ini menggelisahkan atau menyulitkan dan seterusnya. Ia kan menjadi lebih sempurna dan efektif jika mereka yang memanjatkan doa itu mengerti makna, hakekat, piqh, dan filosofis doa itu. Suatu perubahan deratis itu mungkin sekali terjadi dalam bilangan menit, jam, hari atau barang kalibulan dan tahun. Semua tergantung dari pemahaman dan keyakinan seseorang.
Jika filosofi doa dapat ditangkap oleh setiap pendoa, maka sama sekali bukan mustahil jika hal itu akan membawaperubahan pada pribadi dan sikapnya. Satu poin diantaranya adalah orang yang berdoa dan paham bahwa dia berdoa,itu berarti dia tahu pasisi diasebagai hamba, sedangkan disana ada tuhan yang disembah dan punya kemampuan yang luar biasa. Maha mendengar, maha melihat, maha mengetahui, maha penguasa atas segala sesuatu.
Namun semua itu akan berdampak minimal jika hal itu tidak digunakan, atau jarang digunakan atau sama sekali tidak pernah digunakan. Sama seperti nasib beberapa Negara eks uni soviet yang dinegaranya disimpan bom nuklir. Mereka tidak bisa dan tidak diperbolehkan menggunakannya, namun Negara tersebut tetap ditakuti barat karena bisa jadi bom ini disalh gunakan.
Dimana letak kekuatan dio itu? Kekuatanya ada pada kekuatan tuhan. Sebab dalam doa tuhan dilibatkan, bahkan disandarkan. Tuhan menjadi penjamin dan pembeking semua. Sedangkan tuham memiliki semua yang diperlukan manusia, bahkan lebih yang mereka bayangkan.
Dilain pihak, Tuhan dengan segala sifat dan ke Mahaan-NYA berjanji untuk ikut terlibat jika di panggil dan dilibatkan. Disini makna "panggilah AKU niscaya AKU akan memenuhinya". Dan Tuhan tidak akan mengingkari janjiNYA.
Keimanan yang mutlak dengan konsef doa yang sebagai mana yang dijelaskan didalam Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih merupakan dasar yang baik untuk dampak psikologis semua ini. Untuk itu, jika hal ini belum di miliki seseorang, maka sebaiknya seseorang itu membaca terlebih dahulu bku-buku dan kitab-kitab yang mengupas soal piqhdoa dan filosofisnya. Atau paling tidak, renungkanlah ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan. Semoga bermamfaat. (M. Iqbal, Dep Kaderisasi dan da'wah)
Baca Selengkapnya...

TIGA ASPEK PENTING DALAM PENGORGANISASIAN

Pengorganisasian mengandung pengertian sebagai proses penetapan struktur peran-peran melalui penentuan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dan bagian-bagiannya, pengelompokkan aktivitas-aktivitas, penugasan kelompok-kelompok aktivitas kepada manajer-manajer, pendelegasian wewenang untuk melaksanakannya, pengkoordinasian hubungan-hubungan wewenang dan informasi, baik horisontal maupun vertikal dalam struktur organisasi. Agar keberadaan organisasi menjadi berarti bagi SDM internalnya dan juga masyarakat di lingkungannya, maka peran organisasi haruslah mencakup tiga hal berikut. Pertama, harus memiliki tujuan yang dapat dibuktikan. Kedua, konsep kewenangan beserta aktivitas yang terlibat harus jelas. Ketiga, memiliki batasan kebijakan organisasi yang jelas dan dapat dimengerti oleh seluruh SDM-nya. Pada tataran implementasinya, ketiga hal tersebut tercermin pada aspek struktur, tugas dan wewenang serta hubungan anggota. 

1. Aspek Struktur

Implementasi syariah pada aspek ini terutama pada alokasi SDM yang berkorelasi dengan faktor profesionalisme serta aqad (perjanjian) pekerjaan/tugas.
Selain memerintahkan bekerja, Islam juga memberikan tuntunan kepada setiap Muslim agar dalam bekerja di bidang apapun haruslah mempunyai sikap yang profesional. Dalam buku Program Peningkatan Kontrol Diri, SEM Institute (2000), dinyatakan bahwa Profesionalime menurut pandangan Islam dicirikan oleh tiga hal, yakni (1) kafa`ah, yaitu adanya keahlian dan kecakapan dalam bidang pekerjaan yang dilakukan; (2) himmatul ‘amal, yakni memiliki semangat atau etos kerja yang tinggi; dan (3) amanah, yakni terpercaya dan bertanggungjawab dalam menjalankan berbagai tugas dan kewajibannya serta tidak berkhianat terhadap jabatan yang didudukinya.
Untuk mewujudkan SDM muslim yang profesional, Islam telah memberikan tuntunan yang yang sangat jelas. Kafa’ah atau keahlian dan kecakapan diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman; (2) Himmatu al-‘amal atau etos kerja yang tinggi diraih dengan jalan menjadikan motivasi ibadah sebagai pendorong utama di samping motivasi penghargaan (reward) dan hukuman (punishment); serta (3) Amanah atau sifat terpercaya dan bertanggungjawab diperoleh dengan menjadikan tauhid sebagai unsur pendorong dan pengontrol utama tingkah laku.

2. Aspek Tugas dan Wewenang

Implementasi syariah pada aspek ini terutama ditekankan pada kejelasan tugas dan wewenang masing-masing bidang yang diterima oleh para SDM pelaksana berdasarkan kesanggupan dan kemampuan masing-masing sesuai dengan aqad pekerjaan tersebut.

3. Aspek Hubungan Anggota

Implementasi syariah pada aspek ini dapat dilihat pada penetapan budaya organisasi bahwa setiap interaksi antar SDM adalah hubungan muamalah yang selalu mengacu pada amar ma’ruf dan nahi munkar.
Interaksi antar anggota organisasi haruslah terjaga dalam suasana kebersamaan team (together everyone achieve more). Hal ini dimaksudkan agar tetap kondusif dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Suatu tim dimana seluruh anggotanya bersinergi dalam kesamaan visi, misi dan tujuan organisasi. Suasana tersebut dapat diringkas dalam formula three in one (3 in 1), yakni kebersamaan seluruh anggota dalam kesatuan bingkai thinking-afkar (ide/pemikiran), feeling-masyair (perasaan) dan rule of game-nidzam (aturan bermain). Tentu saja interaksi yang terjadi berada dalam koridor amar ma’ruf dan nahi munkar.
Guna memastikan bahwa tujuan organisasi di semua tingkat dan rencana yang didesain untuk mencapainya, sedang dilaksanakan dan terjaga harmoninya, maka. dibutuhkan tiga pilar harmoni organisasi, yaitu:
• Ketaqwaan individu.
Seluruh personel SDM organisasi dipastikan dan dibina agar menjadi SDM yang bertaqwa.
• Kontrol anggota.
Dengan suasana organisasi yang mencerminkan formula TEAM, maka proses keberlangsungan organisasi selalu akan mendapatkan pengawalan dari para SDM-nya agar sesuai dengan arah yang telah ditetapkan.
• Penerapan (supremasi) aturan.
Organisasi ditegakkan dengan aturan main yang jelas dan transparan serta –tentu saja – tidak bertentangan dengan syariah.
 

Insyaallah by; (maruf saefullah)
Baca Selengkapnya...

INDAHNYA MENAHAN MARAH

Oleh; Samlawi
"Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskannya (melampiaskannya), maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi)

Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja ditanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan ma’nawiyah (keimananan) seseorang.
Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyelurusi lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada.


Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan dengan cara menumpahkan darah. Na’udzubillah.

Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi S.A.W. dengan maksud ingin meminta sesuatu pada beliau. Beliau memberinya, lalu bersabda, "Aku berbuat baik padamu." Badwi itu berkata, "Pemberianmu tidak bagus." Para sahabat merasa tersinggung, lalu mengerumuninya dengan kemarahan. Namun, Nabi memberi isyarat agar mereka bersabar.
Kemudian, Nabi S.A.W. pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa barang tambahan untuk diberikan ke Badwi. Nabi bersabda pada Badwi itu, "Aku berbuat baik padamu?" Badwi itu berkata, "Ya, semoga Allah membalas kebaikan Tuan, keluarga dan kerabat."
Keesokan harinya, Rasulullah S.A.W. bersabda kepada para sahabat, "Nah, kalau pada waktu Badwi itu berkata yang sekasar engkau dengar, kemudian engkau tidak bersabar lalu membunuhnya. Maka, ia pasti masuk neraka. Namun, karena saya bina dengan baik, maka ia selamat."

Beberapa hari setelah itu, si Badwi mau diperintah untuk melaksanakan tugas penting yang berat sekalipun. Dia juga turut dalam medan jihad dan melaksanakan tugasnya dengan taat dan ridha.

Rasulullah S.A.W. memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak panik menghadapi kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah karakternya. Kalau pun saat itu, dilakukan hukuman terhadap si Badwi, tentu hal itu bukan kezhaliman. Namun, Rasulullah S.A.W. tidak berbuat demikian. Beliau tetap sabar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah, beliau S.A.W. ingin menunjukkan pada kita bahwa kesabaran dan lapang dada lebih tinggi nilainya daripada harta benda apa pun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang bertumpuk yang dipakai untuk suguhan unta yang ngamuk. Tentu saja, unta yang telah mendapatkan kebutuhannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan bisa digunakan untuk menempuh perjalan jauh.

Adakalanya, Rasulullah S.A.W. juga marah. Namun, marahnya tidak melampaui batas kemuliaan. Itu pun ia lakukan bukan karena masalah pribadi. Melainkan, karena kehormatan agama Allah.
Rasulullah S.A.W. bersabda, "Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa), dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam)." (HR. Bukhari)

Sabdanya pula, "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor." (HR. Turmudzi).

Seorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya berontak, dan mampu menahan diri di kala mendapat ejekan. Maka, orang seperti inilah yang diharapkan menghasilkan kebaikan dan kebajikan bagi dirinya maupun masyarakatnya.

Seorang hakim yang tidak mampu menahan marahnya, tidak akan mampu memutuskan perkara dengan adil. Dan, seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa memunculkan permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil pasangannya.

Bagi orang yang imannya telah tumbuh dengan suburnya dalam dadanya. Maka, tumbuh pula sifat-sifat jiwa besarnya. Subur pula rasa kesadarannya dan kemurahan hatinya. Kesabarannya pun bertambah besar dalam menghadapi sesuatu masalah. Tidak mudah memarahi seseorang yang bersalah dengan begitu saja, sekalipun telah menjadi haknya.

Orang yang demikian, akan mampu menguasai dirinya, menahan amarahnya, mengekang lidahnya dari pembicaraan yang tidak patut. Wajib baginya, melatih diri dengan cara membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit hati. Seperti, ujub dan takabur, riya, sum’ah, dusta, pengadu domba dan lain sebagainya. Dan menyertainya dengan amalan-amalan ibadah dan ketaatan kepada Allah, demi meningkatkan derajat yang tinggi di sisi Allah S.W.T.

Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah S.A.W. bersabda, "Apakah tiada lebih baik saya beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan mengangkat derajat seseorang?" Para sahabat menjawab, "Baik, ya Rasulullah." Rasulullah saw bersabda, "Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau." (HR. Thabrani).

Sabdanya pula, "Bahwasanya seorang hamba apabila mengutuk kepada sesuatu, naiklah kutukan itu ke langit. Lalu, dikunci pintu langit-langit itu buatnya. Kemudian, turunlah kutukan itu ke bumi, lalu dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian, berkeliaranlah ia kekanan dan kekiri. Maka, apabila tidak mendapat tempat baru, ia pergi kepada yang dilaknat. Bila layak dilaknat (artinya kalau benar ia berhak mendapat laknat), tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang yang mengutuk (kembali ke alamat si pengutuk)." (HR. Abu Dawud).
(Referensi dari berbagai sumber)

Baca Selengkapnya...

Pancaran Pribadi Bersih hati

Yakinlah bahwa jikalau hati kita jernih, bening, dan tulus maka wajah juga akan enak dipandang, akan ada suatu kesan tersendiri yang lain dari yang lain. Mungkin wajahnya tidak cakep, tidak jelita, mungkin kultinya hitam, mungkin hidungnya tidak begitu mancung, mungkin alisnya kurang begitu simetris, mungkin di wajahnya ada kekurangan, katakanlah ada cacatnya tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kalau hatinya bening, jernih, dan tulus ia akan senantiasa memancarkan sinar keindahan, kesejukan dan kenyamanan.
Orang yang hatinya bersih akan tercermin pula dari kerapihan dan kebersihan di lingkungan sekitarnya. Kita sepakat bahwa kumal, kusut, kotor, dan bau adalah perilaku yang tidak kita sukai. Kenapa sih tidak kita sisir rambut kita dengan rapi, padahal bisa lebih rapih dan lebih tertib ?! Bukan tidak boleh punya rambut bermode, tapi yang lebih penting adalah bagaimana ketika orang lain melihat penampilan kita pikirannya tidak menjadi jelek.

Ketika suatu waktu lewat di depan Taman Kota, terlihat ada sekelompok pemuda dengan potongan rambut landak gaa Duran-Duran, Punk, dan ada juga yang dicat pirang. Tentu saja ini akan membuat orang lain berpikir jelek tentang mereka.

Maka pastikan rambut kita selalu tersisir rapih. Pada kaum laki-laki, tidak usah diperbudak oleh mode. Intinya, kalau orang lain melihat penampilan kita, orang itu menjadi cerah, tentram, senang, dan merasa aman. Tidak usah pula centil dengan menempelkan segala atribut, gambar tempel, atau juga tanda jasa supaya orang lain tahu siapa kita. Buat apa? Semuanya harus wajar, proporsional, dan tidak berlebih-lebihan.

Bagi seorang wanita yang memiliki hati bersih akan terpancar pula dari penampilannya yang tidak over acting, tidak berdandan mencolok, semuanya serba wajar dan proporsional. Hal ini menjadikan orang yang melihatnya juga menjadi enak, wajar dan normal, walaupun tidak dipungkiri bahwa setiap orang punya standard penilaian yang berbeda-beda. Namun yang terpenting adalah penilaian menururt ALLAH S.W.T. Kalau orang-orang yang berpenyakit hati kadang-kadang penilaiannya selalu negatif, walau sebenarnya kita sudah melakukan yang terbaik.

Pancaran bersih hati lainnya akan tampak terealisasikan pula dari struktur bibir atau senyuman. Pastilah kita akan enak kalau melihat orang lain senyum kepada kita dengan tulus, wajar dan proporsional. Dan senyum itu bukanlah perkara mengangkat ujung bibir -- itu perkara tipu-menipu -- tapi yang paling penting adalah keinginan dari dalam diri untuk membahagiakan orang yang ada di sekitar kita, minimal dengan sesungging senyuman. Dan tentu saja dilanjutkan dengan sapaan tulus, ucapan salam "Assalaamu'alaikum", menyembul dari hati yang ikhlas, insyaallah ini akan membuat suasana menjadi lebih enak, tentram, dan menyenangkan.

Suatu yang patut kita renungkan, saat duduk di mesjid sewaktu shalat berjemaah atau juga acara majelis taklim, kadangkala kita suka enggan menyapa orang di samping kita, sepertinya ada tabir atau benteng yang kokoh menghalang. Padahal yakin sama-sama umat Islam, yakin sama-sama mau sujud kepada ALLAH. Kalau kita ada dalam kondisi seperti ini seharusnya tidak usah berat untuk menyapa duluan. Kenapa kita ini ingin disapa lebih dulu? Etikanya memang, yang muda kepada yang tua, yang berdiri kepada yang duduk, yang datang kepada yang diam. Namun sebaiknya mumpung kita punya kesempatan, lebih baik kita duluan yang menyapa.

Kalau kita sebagai bapak, saat pulang kerja ke rumah cobalah terbarkan salam, "Assalaamu'alaikum anak-anakku sekalian!" dibarengi senyuman ramah dan belaian sayang, daripada marah-marah, "Anak-anak diam, Bapak lagi capek! Seharian Bapak membanting tulang memeras keringat, tiada lain hanya untuk menghidupi kalian tahu?".
Wah, kalau begini pastilah anak-anak tidak akan merasa aman.

Juga para bos, pimpinan, direktur, manager, ketua kelas, wali kelas, atau siapa saja yang jadi atasan, jangan sampai seperti monster. Apa itu monster? Yaitu makhluk yang kehadirannya ditakuti. Kalau kita datang orang jadi tegang, panik, jantung berdebar-debar kencang, dibarengi badan yang berguncang hebat, ini berarti ada yang salah dalam diri kita. Maka, sudah seharusnya sapaan kita itu tidak hanya mengoreksi, mengkritik, tapi juga berupa penghargaan, pujian, ucapan-ucapan doa yang tidak harus ada hubungannya dengan masalah pekerjaan. Artinya kalau orang lain bertemu kita, haruslah orang lain itu merasa aman.

Kalau mau bicara, sapaan kita juga harus aman, harus bersih dari membuat orang lain terluka. Pokoknya kalau orang lain datang, orang itu harus merasa aman. Ini ciri-ciri orang yang pengelolaan Qalbunya sudah bagus. Kata-kata, lirikan mata, sikap diri kita harus kita atur sedemikian rupa sehingga mampu memberikan kebahagiaan bagi orang lain, sebab hati tidak bisa disentuh kecuali oleh hati lagi.

Cobalah Bapak-bapak dan Ibu-ibu, anak-anak kita harus merasa aman dekat denga kita. Jangan sampai ketika dekat kita, mereka merasa ketakutan, tidak aman, hingga akhirnya mereka mencari rasa aman dengan orang-orang di luar kita, yang belum tentu berperilaku baik. Para guru jangan sampai membuat panik para muridnya. Ketika lonceng tanda masuk berdentang, haruslah murid merasa bahagia. Itu sukses. Jangan sampai sebalikna, ketika kita masuk semua menjadi panik.

Sudah seharusnya menjadi cita-cita jauh di lubuk hati kita yang terdalam untuk menekadkan diri menjadi seorang pribadi bersih hati yang selalu dicintai dan dinanti kehadirannya. Karena sungguh akan sangat berbahagia bagi orang-orang yang sikapnya, tingkah lakunya, membuat orang disekitarnya merasa aman. Karena perilaku kita adalah juga cerminan kondisi Qalbu kita. Qalbu yang bening, maka tingkah lakunya akan bening menyenangkan pula. Hal ini tiada lain buah dari pengelolaan Qolbu yang benar, Insyaallah (dari Berbagai Sumber) oleh; Sapari
Baca Selengkapnya...

Kisah Sang Penjudi

Oleh; Endri S.

seorang penjudi ingin bertaubat dari kebiasaan judinya. Setiap kali ingin mengakhiri itu, nafsunya selalu menggoda, sehingga ia kembali bermain judi.

suatu ketika penjudi bertemu seorang yang bijak. Ia lalu bertanya bagaimana cara menghilangkan kebiasaannya itu. Orang bijak ini pun memberi nasehat agar si penjudi segera bertaubat, dan mengerjakan hal-hal baik. Orang bijak itupun berpesan agar menjauhi teman-temannya yang suka berjudi.

Seminggu berlalu. Si penjudi masih bisa menahan keinginan untuk tidak berjudi. Namun, menjelang minggu kedua, hatinya mulai resah. Tangannya mulai gatal untuk membanting kartu. Untuk mengalihkan keinginan itu, ia pun mondar mandir di rumahnya. Ia tahan kuat-kuat keinginan untuk berjudi lagi. Tetapi akhirnya nafsu mengalahkan hatinya. Ia bergegas ke tempat judi dan bermain sampai pagi.

Keesokan harinya, ia sadar dan menangis karena usahanya selama ini gagal. Namun nasi belum menjadi bubur. Ia kemudian bertekad lagi untuk tidak berjudi.

Keesokan harinya, saat keluar rumah, si penjudi bertemu dengan kawan lama yang sudah berhenti bermain judi. Si penjudi menceritakan niatnya untuk berhenti, namun tetap tak bisa. Kawan lamanya inipun berkata,

"Kamu masih ada kesempatan untuk berhenti berjudi."

"Bagaimana caranya?"

"Begini, kita lempar koin ini, bila yang keluar tanda gambar, maka kamu bisa berhenti berjudi, namun bila keluar tanda angka maka selamanya tak bisa berhenti berjudi."

Maka dilemparlah koin itu dan ternyata keluar tanda gambar. Si penjudi tertawa riang. Kali ini ia yakin bisa berhenti berjudi. Kemudian ia pun shalat dan berdzikir, sampai akhirnya ia tak berjudi lagi

Peran sugesti dalam diri kita sangatlah besar. Maka mulailah mensugesti diri sendiri untuk meraih apa yang kita cita-citakan.

Kisah penjudi diatas menjadi pelajaran berharga bahwa apapun bisa menjadi sugesti kita. Apa pun bisa menjadi tenaga pendorong untuk bergerak dan berjuang. Maka, Allah memberi sugesti pada umat-Nya dengan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dengan harapan kita bisa giat beribadah, giat beramal saleh. Begitu juga sebaliknya, Allah mensugesti kita dengan neraka agar manusia ciut nyalinya untuk berbuat kejahatan.
Baca Selengkapnya...

Kisah Mutivasi

Oleh; Hilal

Ada pohon rindang. Di bawahnya dua orang yang sedang beristirahat. Tampaknya mereka ayah dan anak. Sang ayah seorang pedagang. Mereka kelelahan sehabis berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon itu. Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya...." katanya mengusik ambang sadar ayahnya."Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah dan bisa membawa dagangan kita ke kota?

"Sepertinya," lanjut sang bocah,"aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini." Jari tangannya tampak menggores-gores seuatu di atas tanah. Lalu, ia kembali melanjutkan, "Bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?"

Sang Ayah yang awalnya mengantuk kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih dari tanah yang sebelumnya dikais-kais anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang kecil di tangan sang pedagang yang besar. Setelah itu, ia pun berujar kepada anaknya.

"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandaglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini dulu berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol juga dari benih ini. Dan, kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah juga berasal dari tempat yang sama."

Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah, Nak.. Benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia ahanya membutuhkan angin, air dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada merekah semualah benih ini berterima kasih karena telah melatihnya menjadi makhluk yang besar."

"Suatu saat nanti kamu akan besar, Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar karena bisa jadi itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."

Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanyapun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.

Sahabat, pedagang itu benar. Jangan pernah merasa malu, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar dan mampu menggapai semua impian, harapan, dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?

Sahabat, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghunjam itu berasal. Namun, akankah Allah Swt membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?

Begitu pun kita. Akankah Allah Swt membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan? Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin 'masalah', derasnya air 'ujian' serta teriknya matahari 'persoalan'?
Tidak sahabat. Karena Allah Maha Tahu bahwa setiap hambaNya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah tak akan pernah lupa dengan itu semua.

JANGAN PERNAH BERKECIL HATI. SEMUA KEBERHASILAN DAN KESUKSESAN ITU TELAH ADA DALAM DIRIMU, SAHABAT....!

Baca Selengkapnya...

Hadapi Semua Persoalan & Jadilah Pemenang Sejati

oleh; Naila

Al-Balkhi adalah seorang yang terkenal dengan keshalihannya. Suatu hari, dia berangkat ke negeri orang untuk berdagang. Sebelum berangkat, tak lupa dia memohon diri kepada sahabat karibnya yang terkenal zuhud, yakni Ibrahim bin Adham.

Tak berapa lama Al-Balkhi pergi berdagang, tiba-tiba ada kabar bahwa ia sudah kembali. Hal ini menimbulkan keheranan bagi Ibrahim bin Adham, gerangan apa yang membuat Al-Balkhi yang baru beberapa hari pergi sudah kembali. Ibrahim bin Adham yang ketika itu berada di masjid, lalu menghampiri Al-Balkhi seraya bertanya ,"Hai Balkhi, mengapa secepat ini kau kembali?"

Tak berapa lama Al-Balkhi pergi berdagang, tiba-tiba ada kabar bahwa ia sudah kembali. Hal ini menimbulkan keheranan bagi Ibrahim bin Adham, gerangan apa yang membuat Al-Balkhi yang baru beberapa hari pergi sudah kembali. Ibrahim bin Adham yang ketika itu berada di masjid, lalu menghampiri Al-Balkhi seraya bertanya ,"Hai Balkhi, mengapa secepat ini kau kembali?"

Al-Balkhi dengan tenang menjawab ;

"Dalam perjalanan aku melihat suatu keanehan. Hal itulah yang membuat diriku untuk memutuskan segera membatalkan perjalanan. Ketika aku beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak, aku memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Melihat itu, aku bergumam dan bertanya-tanya dalam hati, bagaimanakah kiranya burung ini bisa bertahan hidup sementara ia berada di tempat yang begitu jauh dari teman-temannya. Dengan matanya yang tidak bisa melihat, berjalan pun ia tak bisa. Tak lama kemudian ada seekor burung lain yang bersusah payah menghampirinya sambil membawa perbekalan makanan untuk burung yang cacat itu. Seharian penuh aku terus memperhatikan burung itu, ternyata ia tak pernah kekurangan makanan karena berulang kali dikirim makanan oleh temannya yang sehat.

Itu semua membuatku merasa cukup untuk menarik sebuah kesimpulan bahwa Sang Pemberi rezeki telah memberi karunia seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Dan dengan kemurahan-Nya, Dia telah mencukupkan rezeki baginya. Kalau begitu dalam keyakinanku, Dia tentu akan mencukupi rezekiku sekalipun aku tidak bekerja! Kemudian akupun memutuskan untuk segera pulang saat itu juga."

Mendengar penuturan Al-Balkhi, Ibrahim bin Adham menanggapi

,"Wahai Al-Balkhi sahabatku, mengapa serendah itu pemikiranmu? Mengapa kau rela menyamakan derajatmu dengan seekor burung yang pincang lagi buta? Mengapa kau mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup atas belas kasihan dan bantuan makhluk lain? Mengapa engkau tidak mencontoh perilaku burung yang satu lagi, yang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dan kebutuhan sahabatnya yang memang tak mampu bekerja! Apakah engkau tidak tahu bahwa tangan diatas lebih baik dari pada tangan di bawah?"

Mendengar berondongan pertanyaan yang sangat mendasar itu, sadarlah Al-Balkhi akan kekhilafannya. Serta merta ia bangkit dan mencium tangan Ibrahim bin Adham seraya berkata ,"Wahai Ibrahim, ternyata engkaulah guru kami yang baik."

Kemudian ia mohon diri untuk berangkat melanjutkan usaha dagangnya.

( sumber : Sabili No.19 Th.IX)

"Berhasil atau gagal adalah sebuah pilihan, karena hanya orang yang bersangkutan yang memutuskan, apakah ia mau berhasil atau gagal dalam hidupnya"
Baca Selengkapnya...

JIWA YANG TULUS

Oleh; Umi Dep. Kaderisasi & da'wah

Disebuah sudut ruang tunggu Cairo International Airport. Seorang wanita muda terpelajar bernama Alya, sedang menunggu pesawat yang akan membawanya pulang ke Indonesia. Tiba-tiba, datang seorang ibu menyapa,”Assalammualaikum, anti Indonisiy?” Tanya ibu itu. “Na’am ummi,” jawab Alya sambil tersenyum. Si ibu pun tersenyum lega. “Alhamdulillah, boleh ibu duduk di dekatmu nak?” “Oh, silakan ibu,” ujar Alya sambil berdiri mempersilakan ibu itu untuk duduk di sampingnya. “Ibu mau ke Indonesia juga?” Tanya Alya membuka pembicaraan. “Iya nak, ibu habis nengok anak-anak ibu yang kuliah di sini. Mereka minta ibu untuk datang, karena anak ibu dapat beasiswa. Alhamdulillah.” jelas ibu itu panjang lebar. Alya terdiam, kagum sekali dengan anak-anak ibu ini. “Maaf bu, nama saya Alya Khoirunnisa, ibu?”kata Alya sambil mengulurkan tangannya “Eh ya, ya, sudah cerita ngalor ngidul kita belum kenalan. Ibu Parmi nak.” jawab bu Parmi.

Entah kenapa, Alya merasa sudah mengenal bu Parmi sejak lama, Alya sudah merasa dekat dengan bu Parmi. Mereka pun saling berbagi cerita. Sesekali Alya tertawa kecil mendengar cerita bu Parmi yang lucu. Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan mereka naiki ternyata mengalami delay (penundaan) hingga dua jam.

“Wah bu, dua jam lumayan juga ya. Kita ke café aja yuk bu, isi perut dulu.” ajak Alya. “Tapi ibu nda tau rumah makan deket sini nak Alya.” bu Parmi menyahut sambil kebingungan. “Tenang bu, kan ada Alya.”Alya tersenyum manis dan membimbing bu Parmi keluar dari ruang tunggu menuju café.

“Bu, kalo boleh tau, putra ibu ada berapa?” tanya Alya sambil menunggu makanan yang telah mereka pesan. “Semua ada lima nak Alya. Alhamdulillah semua laki-laki.” “Ooo…., trus kalo yang kuliah disini itu anak ibu yang ke berapa?” tanya Alya ingin tahu. “Yang kedua dan ketiga. Alhamdulillah nak, dua-duanya dapat beasiswa. Dulu, mereka mondok di pesantren Gontor. Yang ke empat dan kelima sekarang juga masih mondok. Yang keempat di pesantren Tebuireng, yang kelima di pesantren Gontor. InsyaAllah, mo ngikut mas nya juga kuliah disini,” jelas bu Parmi panjang lebar. Sesaat mereka terdiam. Alya menatap makanan yang telah terhidang di depannya. “Ayo bu, kita makan dulu,”ajak Alya.

“Kalo yang pertama bu?” tanya Alya lagi. “Sing mbarep, karena keterbatasan fisiknya, jadi nda bisa lanjut kuliah nak. Sekarang masih ngangon sapi di kampung.” kata bu Parmi sambil menikmati makanan. Alya tercenung, ah, kasihan sekali, ucap Alya dalam hati. Tak sadar, Alya menatap bu Parmi agak lama. “Ibu pasti bangga dengan anak-anak ibu yah, apa lagi yang bisa kuliah di Al-Azhar Mesir. Ga gampang lo bu, dapet beasiswa di universitas itu.” Bu Parmi menghentikan makannya dan menatap Alya, lama dan dalam.

“Yah, ibu sudah biasa mendengar itu nak Alya. Tapi, sebenarnya ibu paling bangga dengan anak ibu sing mbarep. Sejak bapaknya meninggal, anak ibu yang pertama itu yang menggantikan posisi bapaknya. Anak ibu memang cacat, waktu kecil terkena polio, hingga kakinya mengecil, jadi kalo jalan nda seimbang, agak pincang. Tapi tekadnya luar biasa nak.

Dengan peninggalan bapak yang tak seberapa, anak ibu mulai ngangon sapi orang. Kebetulan, ada tetangga ibu yang mempunyai sapi, jadi dia menawarkan diri untuk ngangon sapi. Anak ibu itu sangat rajin, setiap pagi, sapi-sapi itu di bawa untuk mencari rumput. Agak siang baru pulang. Alhamdulillah, karena ketelatenannya, sapi-sapi itu pun gemuk-gemuk. Tetangga ibu jadi senang. Anak ibu pun diberi hadiah dua ekor anak sapi jantan dan betina.

Alhamdulillah, karena ketekunan dan kerja kerasnya, sapi itu berkembang nak. Nah, dari situlah anak ibu bisa membiayai kebutuhan sehari-hari dan sekolah adik-adiknya. Ibu sempat mengingatkannya untuk melanjutkan sekolah lagi, tapi dia nda mau.” bu Parmi berhenti sejenak, menghela napas.

“Pernah suatu hari ibu bertanya padanya, kamu kok nda mau lanjut sekolah toh. Hidup kita sudah cukup le. Anak ibu tersenyum, katanya, bu’e, saya sudah mendapatkan pendidikan yang luar biasa, saya sudah “sekolah” bu, namanya “sekolah kehidupan”, biarlah adik-adik yang sekolah, biar saya yang cari nafkah, saya lebih bangga kalo adik-adik bisa kuliah setinggi-tingginya.” Mata bu Parmi mulai berkaca-kaca.

“ Anak ibu sing mbarep, sungguh luar biasa nak Alya. Kebesaran hatinya terkadang membuat ibu menangis. Alhamdulillah, semua adik-adiknya menghargai kerja keras mas nya, jadi mereka pun tidak menyia-nyiakan waktu, mereka belajar dengan sungguh-sungguh, sampai akhirnya mereka dapat beasiswa.” bu Parmi menarik napas sejenak. Mata Alya berkaca-kaca, dadanya sesak. Subhanallah…..

“Jadi, kalo nak Alya tanya pada ibu, ibu paling bangga dengan anak ibu sing mbarep, dengan fisiknya yang terbatas, mampu bekerja keras, mampu membiayai kebutuhan keluarga dan mampu membiayai adik-adiknya sekolah. Nda pernah terlintas di benak ibu, kalo anak-anak ibu bisa kuliah nak, apalagi sampai keluar negeri. Juga ibu nda pernah membayangkan bisa numpak pesawat. Yah, semua ini karunia Allah nak, karunia Allah yang disampaikan melalui anak ibu sing mbarep.”
Tidak sepatah katapun bisa terucap dari mulut Alya. Alya hanya bisa terdiam dan memandang bu Parmi dengan air mata haru.
Baca Selengkapnya...

HIDUP ADALAH ANUGRAH

Oleh; Ratih......

Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadis itu kalau gadisnya sudah bisa melihat dunia. Suatu hari ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadis itu. Yang akhirnyasi gadis bisa melihat segala hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia, Apakah engkau mau menikah denganku?”. Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya. Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik kedua mata yg telah aku berikan kepadamu”.

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

• Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

• Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu, ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

• Sebelum engkau mengeluh tentang orang tuamu, ingatlah akan seorang anak yang menangis kepada Allah untuk meminta kesembuhan atas penyakit orang tuanya.

• Ketika engkau lelah dan mengeluh tentang sekolahmu, ingatlah akan anak-anak yang menginginkan untuk melanjutkan sekolah, namun tidak memiliki biaya untuk itu.

• Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke alam kubur dengan masih menyertakan dosanya.

• Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu, pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Allah swt karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, syukurilah, jalanilah, nikmatilah dan isilah hidup ini dengan sesuatu yg bermanfaat untuk umat manusia.

NIKMATILAH dan BERI YANG TERBAIK DI SETIAP DETIK DALAM HIDUPMU, KARENA ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI untuk waktumu selanjutnya !!!
Baca Selengkapnya...

KEPADA ANAK PEREMPUAN KU

                                                               Oleh; Nadiah HIMA PUI,,
Semoga DIA menjadikanmu manusia yang halus perasaannya sedemikian halus, hingga dapat kaurasakan derita orang-orang yang terlunta di lorong-lorong peradaban dan dapat kau jelang mereka dengan penuh kasih sayang karena mereka adalah bagian dari dirimu juga, perempuan. Semoga DIA menjadikanmu manusia yang tajam pemikirannya sedemikian tajam, hingga dapat kau pecahkan buih-buih kebencian yang meracuni pengetahuan dan jernihlah muara sejernih hulunya karena abadinya nilai-nilai kesempurnaan tak dapat digantungkan kepada apa pun lagi selain kepada bening cintamu, perempuan.

Semoga DIA menjadikanmu manusia yang kuat sendirian sedemikian kuat, hingga ketika kau telah mampu hidup tanpa bergantung kau pun mampu memilih untuk seutuhnya tergantung kepada siapa pun yang dihadirkanNYA untukmu karena kau sadar bahwa kau memang tercipta untuk dinikahi, perempuan.

Semoga DIA menjadikanmu manusia yang tinggi martabatnya sedemikian tinggi, hingga dapat kau rendahkan hatimu serendah-rendahnya dan tangguhlah azab bagi mereka yang belum ridho mengesakanNYA sungguh esalah sucimu hanya dengan DIA sebagai saksi karena kenyataanmu memanglah tersembunyi, perempuan.

Semoga DIA menjadikanmu manusia yang dapat menahan pandangan sedemikian tahan, hingga ingatanmu kepadaNYA mampu menghanguskan setiap nafsu yang menyerang dari dalam dan luar dirimu dan menjadi cahaya lah wajahmu bagi pencari kebenaran serta hanya cadar hitam lah rupamu bagi pencari pembenaran karena hanya DIA lah yang kau jumpa dan hanya wajah NYA yang kau damba setiap kau temukan dirimu dalam cinta
dan..........
DIA lah hijab dihadapan siapa pun kau berada.
Baca Selengkapnya...

(PUISI) MAAFKAN IBU ANAK KU

Oleh Putri
saat pulas tidurmu kucium lembut pipi mungilmu dan kuusap rambutmu
sungguh anakku, ibu mencintaimu

Maafkan ibu, anakku ketika tadi siang
engkau kubentak karena adik baru tidur dalam pelukanku
sedangkan badanku penat bukan main lantas engkau menjauh
sambil tetap memandangku

Maafkan ibu, anakku ketika jari ibu
meninggalkan bekas merah di pahamu
hanya karena engkau makan sembari bermain-main
lalu nasimu tumpah ke lantai tapi engkau tak menangis,
hanya mata beningmu menatapku dengan takut-takut

Maafkan ibu, anakku yang menolak bercerita saat engkau ingin mendengar kisah
yang bisa membuatmu tertawa gembiraatau menitikkan air mata,
hanya karena ibu sedang lelah....
atau ibu sedang sibuk dengan pekerjaan lainnya

Maafkan ibu, anakku yang tidak lebih awal menjumpaimu untuk sekedar
duduk dan bermain bersama hanya karena ibu ingin
melakukan sesuatu untuk diri ibu...
anakku,
betapa ibu merasa bersalah
begitu ibu tahu engkau sangat dan sangat rindu duduk dipangkuanku

Maafkan ibu, anakku yang marah kepadamu
hanya karena kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahanmu...
ibu marah hanya karena ibu letih mengerjakan pekerjaan seorang ibu

Maafkan ibu, anakku
terkadang ibu ingin bisa membagi tubuhku agar segala keinginanmu terpenuhi...
sedang sebagian tubuhku yang lain mengerjakan tugas dan pekerjaan yang lain lagi..

Maafkan ibu, anakku
yang tidak mampu memberikan seluruh waktuku untukmu...

andai engkau tahu sayangku...
betapa ibu sangat mencintaimu,
betapa ibu terkadang bisa begitu ketakutan akan kehilanganmu,
betapa ibu bisa tertawa hanya karena tingkahmu,
betapa ibu bisa menangis tatkala melihatmu kecewa,
betapa ibu khawatir ketika engkau sakit..

Anakku,
sungguh ibu tak mengharap apa-apa
tatkala ibu berjuang menghadirkanmu ke dunia,
mendengar engkau sehat... itu saja telah mampu
menghilangkan seluruh derita

Sering ibu bertanya,
marahkah engkau pada ibu yang telah
marah kepadamu..
gelengan kepalamu membuat ibu lega,
walau tetap tak akan mampu menghapus rasa sesal dihatiku

Sungguh anakku,
cinta ibu padamu hanya Tuhan yang tahu...
tak pernah seseorang bisa mengukur dalamnya
cinta seorang ibu pada anaknya,
sampai ia kelak menjadi seorang ibu.

Maafkan ibu, anakku...
yang tak mampu menjadi ibu sebagaimana
seharusnya seorang ibu yang sempurna

Anakku...
ridha ibu adalah milikmu
agar kelak engkau mudah memasuki surga-Nya
(hanya itu mungkin, yang mampu ibu berikan untukmu, duhai permata hatiku......)
Baca Selengkapnya...

KISAH WANITA ZUHUD

Oleh; Nurhayati
Dikisahkan;''''
ada seorang perempuan yang gemar memamerkan dandanannya di depan kaum lelaki. Ia mati. Hingga suatu malam di antara saudaranya ada yang bermimpi melihat dirinya di hadirkan kehadapan Allah dengan mengenakan busana yang sangat tipis. Saat itu angin bertiup menerpa busananya, tersingkaplah busananya. Allah berpaling tidak sudi memperhatikannya. Allah berfirman:”Seret dia ke NERAKA ………………!!! Sesungguhnya perempuan itu termasuk orang yang suka memamerkan dandanannya sewaktu di dunia. Ketika suami rabi’ah Adawiyah mati, beberapa waktu kemudian Hasan Al Basri dan kawan kawannya datang menghadap Rabi’ah. Mereka meminta izin di perkenankan masuk, mereka di perkenankan masuk. Rabi’ah segera mengenakan cadarnya, dan mengambil tempat duduk di balik tabir.

Hasan AlBasri mewakili kawan kawannya mengutarakan maksud kedatangannya. Ia berkata : ”Suamimu telah tiada, sekarang Kau sendirian. Kalau kmu menghendaki silahkan memilih salah seorang dari kami. Mereka ini orang orang yang ahli zuhud”.
Jawab Rabi’ah Adawiyah:”ya, aku suka saja mendapat kemuliyaan ini. Namun aku hendak menguji kalian, siapa yang paling ‘alim(pandai) diantara kalian itulah yang menjadi suamiku”.

Hasan Al Basri dan kawan kawannya menyanggupi. Kemudian Rabi’ah Adawiyah bertanya: ”Jawablah empat pertanyaanku ini kalau bisa aku siap di peristri oleh kamu”.
Hasan Al Basri berkata :”Silahkan bertanya, kalau Allah memberi pertolongan aku mampu menjawab tentu aku jawab”.
“Bagaimana pendapatmu kalau aku mati kelak, kematianku dalam muslim (husnul khatimah) atau dalam keadaan kafir(suul khatimah)”. kata Rabi’ah bertanya.
Jawab Hasan Al basri : ”Yang kau tanyakan itu hal yang ghaib, mana aku tahu. . ”.
“Bagaimana pendapatmu, kalau nanti aku sudah di masukkan kedalam kubur dan mungkar-nakir bertanya kepadaku, apakah aku sanggup menjawab atau tidak. . ”
“Itu persoalan ghaib lagi”. Jawab Hasan Al Basri.
“Kalau seluruh manusia di giring di MAUQIF (padang mahsyar) pada hari kiamat kelak, dan buku buku catatan amal yang dilakukan oleh malaikat HAFAZHAH beterbangan dari tempat penyimpanannya di bawah ‘arsy. Kemudian buku buku catatan itu di berikan kepada pemiliknya. Sebagian ada yang melalui tangan kanan saat menerima dan sebagian lagi ada yang lewat tangan kiri dalam menerimanya. Apakah aku termasuk orang yang menerimanya dengan tangan kanan atau tangan kiri. . ?, tanya Rabi’ah.
“Lagi lagi yang kau tanyakan hal yang ghaib”, jawab Hasan Al Basri.
Tanya Rabi’ah sekali lagi:”Manakala pada hari kiamat terdengar pengumuman bahwa, sebagian manusia masuk surga dan sebagian yang lain masuk neraka, apakah aku termasuk ahli syurga atau ahli neraka. . ?”.
“Pertanyaanmu yang ini juga termasuk persoalan yang ghaib”, jawab Hasan Al basri.

Rabi’ah berkata :”Bagaimana orang yang mempunyai perhatian kuat terhadap empat persoalan itu masih sempat mamikirkan nikah. . ?”.

Coba perhatikanlah kisah dialog tersebut. Betapa besar perasaan takut Rabi’ah Adawiyah terhadap persoalan itu. Kendati ia seorang sholehah. namun masih diikuti perasaan takut yang luar biasa jika akhir hayatnya tidak baik.
Diceritakan bahwa, Rabi’ah Adawiyah itu mempunyai tingkah laku yang berubah ubah. Suatu ketika perasaan cintanya kepada Allah begitu berat, hingga ia tidak sempat lagi berbuat apa-apa. Diwaktu lain ia kelihatan tenang nampak seperti tidak ada masalah, dan lain waktu ia kelihatan sangat takut dan cemas.

Suaminya menceritakan, suatu hari aku duduk sambil menikmati makanan. Sementara ia duduk di sampingku dalam keadaan termenung lantaran di hantui peristiwa kiamat.
Aku berkata :”Biarkan aku sendirian menikmati makanan ini”.
Ia menjawab aku dan dirimu itu bukanlah termasuk orang yang dibuat susah dalam menyantap makanan, lantaran mengingat akherat”. Lebih lanjut Ia berkata:”Demi Allah, sesungguhnya bukanlah aku mencintaimu seperti kecintaannya orang yang bersuami
istri pada umumnya. hanyalah kecintaanku padamu sebagaimana kecintaan orang yang bersahabat”.

Kalau Rabi’ah Adawiyah memasak makanan, Ia berkata:”Majikanku, makanlah masakan itu. Karena tidak patut bagi badanku kecuali membaca tasbih saja”. (yang di maksud majikan adalah suami dari Rabi’ah Adawiyah sendiri).
Hingga suatu hari Rabi’ah berkata pada suaminya:”Tinggalkan diriku, silahkan kamu menikah lagi”. Hal itu dikatakan ketika suaminya masih hidup. Maka Aku (suaminya)pun menikah lagi dengan tiga orang perempuan. Saat itu Rabi’ah masih setia melayani keperluan suaminya, termasuk memasakkan makanan. Suatu hari Rabi’ah Adawiyah memasakkan daging untuk suaminya, Ia berkata:”Tinggalkanlah diriku dengan membawa kekuatan yang baru menujuistri-istrimu yang lain”.

Dikisahkan bahwa Rabi’ah Adawiyah juga mempunyai sahabat sahabat yang lain dari bangsa jin, yang sanggup mendatangkan apa saja yang di kehendakinya. Wali perempuan ini dalam kehidupannya dikenal pula mempunyai berbagai kekeramatan hingga wafatnya. Di antara kekeramatannya adalah bahwa pada suatu malam ada pencuri masuk menjarahi isi rumahnya. Ia sendiri masih terlelap tidur. Ketika pencuri itu hendak keluar dengan menjinjing barang-barang yang telah di kemasi, mendadak pintu rumahnya hilang semua. Pencuri itu lalu duduk disamping pintu yang di pandang semula belum lenyap. Tiba tiba saat itu terdengar suara halus menyapanya:”Letaakkan barang -barang yanga kau kemasi. Keluarlah dari pintu ini”.

Ia pun segera meletakkan barang-barang yang telah dikemasi. Mendadak pintu itu kelihatan lagi. Begitu ia melihat pintu maka ia segera menyambar lagi barang-barang hasil curian tadi. Tiba-tiba pintu itu hilang lagi seketika ia letakkan lagi barang hasil jarahannya. Pintu kelihatan lagi. Ia mengambil kembali barang haasil jarahannya. Pintu hilang lagi. Dan begitu seterusnya.
Tiba-tiba terdengar lagi suara lembut menyapa :”Kalau Rabi’ah adawiyah tertidur, Tetapi Allah tidak tertidur dan tidak pula terserang rasa kantuk”, maka ia pun sadar. barang barang yang di kemasinya pun Ia tinggalkan, lalu ia pun keluar melalui pintu tadi.
Baca Selengkapnya...

02/05/10

Bersatulah, Jangan Seperti Orang-Orang yang Bercerai-Berai

dakwatuna.com – Segala Puji hanya bagi Allah Rabb Semesta Alam. Shalawat dan Salam untuk Nabi Muhammad SAW.
Paling agungnya nikmat dalam kebersamaan adalah bahwa adanya penyatuan hati dan ikatan hati di antara kita. Dan paling buruknya nikmat dalam suatu hidup kebersamaan adalah perpecahan dan bercerai-berai. Di sana banyak hadits dalam ilmu psikologis dan ilmu jiwa apa saja yang menyebabkan timbulnya perpecahan. Dan mereka telah meletakkan berbagai macam pemecahan untuk itu. Dan ketika kita melihat Al-Qur’an kita menemukan ini dalam suatu ayat. Itulah keadaan Al-Qur’an sebagai suatu mukjizat, ia mendatangkan dari berita yang besar dalam suatu kalimat efektif. Allah SWT menyebutkan dari umat terdahulu yang telah mendahului kita. Mereka adalah kaum Nasrani, mereka mengikuti nabi Isa AS, lalu terjadi masalah besar dalam agama mereka. Itulah yang menyebabkan perpecahan dalam diri mereka. Dan ayat menggambarkan kondisi manusia. Hal ini berulang-ulang, dan menyebabkan pengulangan dalam setiap kejadian, di setiap zaman dan tempat, di setiap pertemuan, dan di setiap kebersamaan, terutama dalam setiap perkumpulan karena Allah SWT. Allah berfirman,

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ

“Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Kami ini orang-orang Nasrani”, Kami telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.” (QS. Al Maidah: 14)

Inilah pondasi utama dalam setiap kita berkumpul dan bersama. Kenapa Allah SWT menyebutkan ini dalam ayat ini? Agar tidak terjadi hal yang sama. Dan Allah menyebutkan kapan terjadinya.

Dalam suatu kitab dikatakan bahwa di antara orang Nasrani, Allah SWT telah mengambil perjanjian di antara mereka. Mengambil perjanjian di sini maksudnya adalah orang itu mengenal atau mempunyai ilmu terhadap ajaran Allah SWT. Dan dia telah mengetahui tentang kewajiban terhadap Allah SWT serta mengetahui kewajiban dakwah. Dia telah mengetahui tentang sunnah dan kewajiban untuk mengikutinya. Setiap apa yang kau ketahui itu sudah merupakan perjanjian terhadap Allah SWT. Dan di hari kiamat setiap orang akan ditanya tentang apa yang diketahui.

كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ

“Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya (neraka), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu?” (QS. Al-Mulk: 8 )

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً

“… Kami tidak akan menyiksa sebelum kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15)

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah” (QS. Muhammad: 19)

Dan siapa yang tidak ikut terhadap Rasul padahal telah jelas kepadanya petunjuk? Barang siapa yang telah jelas kepadanya petunjuk tapi ia tidak komitmen kepada petunjuk tersebut, maka Allah akan menagih perjanjian itu.

Lalu apa yang terjadi? Terjadi bahwa sebagian jiwa manusia: LUPA. Melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Lupa mengandung dua makna dalam Al-Qur’an.

Makna pertama adalah tidak adanya ilmu. Seperti dalam surat Al-Kahfi bahwa sesungguhnya syaitan telah membuatnya lupa (QS. 18: 63). Inilah tidak adanya ilmu. Makna lupa yang kedua adalah meninggalkannya. Inilah yang dimaksud dengan yang di surat Al Maidah ayat 14 di atas. Maka barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang telah diketahuinya, itulah lupa. Seperti dalam suatu ayat,

نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ

“Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula).” (QS. At-Taubah: 67)

Mereka meninggalkan ajaran Allah, mereka meninggalkan ketaatan kepada Allah, dan mereka melalaikan perintah Allah. Kaum Bani Israil, mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Dikatakan dalam suatu ayat:

وَنَسُواْ حَظّاً مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِ

“dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan (hazhzhan) yang telah diperingatkan kepada mereka (dzukkiruu bihi)” (QS. Al-Maidah: 13)

“Hazhzhan”. Apa itu hazhzhan? Hazhzhan artinya adalah sebagian atau bagian kecil. Allah menjelaskan bahwa mereka telah meninggalkan sebagian kecil dari ajaran yang telah diingatkan kepada mereka. Inilah sebab terjadinya persatuan dan di sinilah sebab terjadinya perpecahan. Jadi ketika telah meninggalkan sebagian dari apa yang telah diajarkan kepada mereka, maka di sini sebab timbulnya perpecahan. Terutama dalam masalah-masalah besar yang menyangkut masalah pondasi agama, serta pegangan prinsip agama.

Allah SWT berfirman:

فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ

“… maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka …” (QS. Al-Maidah: 14)

Apa artinya أَغْرَيْنَا ? Apa artinya al-ighra? Al-Ighra artinya mendorong ulang. Artinya bahwa permusuhan menjadi sesuatu yang dia sukai. Maka dia menjadikan perpecahan itu sebagai sesuatu yang dia senangi. Apa sebabnya? Karena mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diingatkan dari Allah SWT kepada mereka. Inilah ringkasan dari seluruh persoalan.

Bukan berarti kita meninggalkan persoalan lain tapi ini masalah utama. Ketika kita ingin istiqamah dan kita ingin persatuan yang kuat dan kebersamaan yang kuat, maka hendaklah kita melihat makna ayat ini dan kita melakukan apa yang dilakukan oleh para sahabat: setiap diperintahkan mereka melaksanakan, setiap dilarang mereka meninggalkannya. Karena itu mereka bersatu. Maka dikatakan mereka seperti satu hati.

Raja orang kafir mengatakan, “Kami telah melihat teman-teman Kisra dan kaisar tapi kami tidak pernah menemukan seperti sahabat Muhammad”. Maka berkata salah seorang panglima di kisaran Qodisiyah bahwa orang-orang Islam telah belajar dari Muhammad. Inilah persatuan yang dibangun di atas pondasi.

Ada pun orang yang pura-pura berbasa-basi, maka Allah SWT akan mengungkap kebasa-basian. Allah SWT tidak memperbaiki orang yang berbuat kerusakan. Dan Allah SWT tidak memberikan janji kepada orang-orang yang berkhianat. Dan sebaliknya, Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang shalih. Dan Allah menunjukkan jalan keluar bagi orang-orang beriman. Dan Allah menjauhkan keburukan dari mereka.

Maka setiap kamu menemukan dalam hati suatu keinginan untuk bersatu maka berarti Allah telah menginginkan kebaikan darinya. Dan kebalikannya – ini juga merupakan kebenaran – jika ada seseorang yang dalam dirinya ingin perpecahan-perpecahan berarti Allah menginginkan keburukan darinya. Karenanya Allah SWT mengingatkan janganlah engkau berpecah belah seperti orang terdahulu berpecah belah.

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas (al-bayyinat).” (QS. Ali Imran: 105)

Lihatlah makna yang sama antara ذُكِّرُواْ بِهِ (dzukkiru bihi) dengan makna الْبَيِّنَاتُ (al-bayyinat).

Keadilan itu jelas. Kebenaran itu jelas. Pondasi agama jelas. Iman dan seluruh rukun-rukunnya jelas. Tujuan semuanya telah nampak. Semua itu merupakan al-bayyinat. Kepadanya hati orang-orang beriman berkumpul. Dan kepadanya barisan orang-orang shalih berkumpul. Inilah jalannya orang-orang beriman sepanjang sejarah. Kita mohon kepada Allah SWT semoga kita tergolong orang-orang yang bertaqwa.
Baca Selengkapnya...

SEBUAH RENUNGAN

Dengan Menyebut Nama ALLAH Yang Maha Pengasih Dan Penyayang
"Rasulullah SAW bersabda: jika kamu membaca dua kalimat sahadat dengan keyakinan sekali saja, surga akan menanti kamu"
"Rasulullah SAW bersabda : seorang wanita yang membuka auratnya, atau bahkan menggunakan pakaian yang ketat, tidak akan mencium bau wanginya surga selama lebih 500 tahun.
"Rasulullah SAW bersabda: debu yang menempel pada diri seorang pria ketika keluar di jalan ALLAH, tidak hanya api tapi asap nerakapun di haramkan untuk seluruh bagian tubuhnya,
"Rasulullah SAW bersabda: aku mengutuk hanya tiga jenis orang
1. orang yang tidak menjaga orang tua mereka ketika tua (durhaka)
2. orang yang tidak mengambil hikmah dari bulan ramadhan yang diberkahi
3. orang yang tidak mengucapkan "salallahu 'alayhi wa'alayhi wasallam' ketika namaku disebutkan
"Rasulullah SAW bersabda" orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu memikirkan dan mempersiapkan kematian"
”lucu ya..... betapah mudahnya orang mengabaikan ALLAH........ dan mereka terheran-heran mengapa dunia hancur”
”Lucu ya... kita paercaya dengan apa yang tertulis di koran........ tapi mempertanyakan apa yang tertulis di AL-QUR'AN”
”Lucu ya ........ Bagaimana setiap orang inggin masuk syurga yang disediakan, mereka tidak mempercayai, berfikir, berkata atau melakukan apapun yang tercantum di al-qur'an”
”Lucu ya bagai mana orang bisa berkata'aku percaya kapada allah' tapi masih mengikuti syaitan (siapa juga yang mempercayai allah)”
”Lucu ya kita bisa mengirim ribuan "lolucon" dan mereka menyebar seperti api... Tapi ketika kamu mulai mengirim pesan tentang allah, orang2 berfikir dua kali.

Lucu Kan?

”Lucu ya bagaimana orang berbondong-bondong setiap hari jumat mengingat allah… tapi jadi muslim yang tak terlihat di sisa minggunya”
”Lucu ya .. Bagaimana ketika anda meneruskan pesan ini, anda tidak akan mengirim kepada beberapa orang yang ada didalam daftar alamatmu karena kamu tidak begitu yakin apa agama mereka, atau apa yang mereka akan fikirkan tentang anda atas kiriman kamu kepada mereka”
”Lucu ya..” bagaimana kita bisa lebih khawatir apa yang orang fikirtkan tentang kita........ dari pada apa yang allah fikirkan tentang kita.
Akan kah anda berbagi pesan ini dengan orang yang anda sayangi atau tida?
Dengan menyebut nama allah yang maha pengasi, pemurah dan maha pengampun.
Selama 60 menit kedepan, hentikan apapun yang kamu lakukan, dan ambil kesempatan ini.(hanya membutuhkan satu menit) yang harus anda lakukan adalahsebagai berikut:panjatkan doa untuk seluruh kaum muslim yang menirim anda pesan ini. Lalu krim pesan ini, kepada teman2 muslim yang kamu ketahui
Dalam sekejap banyak orang muslim yang akan berdoa untuk anda dan anda akan menambah banyak muslim yang akan berdoa untuk sesama muslim. Lalu berhenti dan berfikirlah dan mulyakan kekuatan allah pada hidupmu, untuk melakukan apa yang di kehendaki oleh-nya.
Allah berfirman, jika kamu malu terhadap ku, aku akan malu terhadapmu"
Jika anda tidak malu kirim pesan ini kapada muslim2 yang lainnya.........

(dari berbagai sumber)

Baca Selengkapnya...

BERBUAT BAIK UNTUK MENJADI LEBIH BAIK

 Oleh: Sapari

Saudaraku yang budiman, setidaknya ada dua semangat yang perlu terus dipupuk dan dihidupkan dalam diri kita, agar setiap hari yang kita lalui membawa kita pada kondisi yang lebih baik. Hari ini yang kita lalui menjadi lebih baik dari hari kemarin. Pertama, semangat untuk memperbaiki diri, jadikan semangat ini menghiasi sehari-hari kita. Dengan semangat ini, kita sangat senang dan berterimaksih kepada siapapun yang telah memberikan kritik dan koreksi sebesar apapun, karena bagi dirinya itu merupakan rezeki yang tak ternilai.
Tidak pernah sungkan untuk bertanya dan meminta pendapat kepada siapapun, dalam rangka mengepaluasi dan mencari kekuangan diri, sehingga membuat diri kita sangat cepat berubah dalam memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan. Semangat ini tidak akan menghinakan dan merugikan diri, tetapi insyaallah orang lain justru lebih mencintai dan menghormati orang yang mau mendengar dan menerima kritikan. Dari pada orang sibuk membela diri dan menimpahkan kesalahan kepada orang lain.
Semgat kedua ialah, semangat untuk menuntut ilmu, menambah pengetahuan dan pengalaman semangat untuk menutup ilmu, menambah pengetahuan dan pengalaman. Sediakanlah waktu, anggaran dan tenaga khusus untuk meningkatkan dan menambah ilmu sehingga wawasan menjadi semakin luas, pengetahuan kian dalam. Semua ini akan memperbaiki kualitas kita dalam berbicara, menambah kearifan dalam memutuskan, dan kian bijak dalam bertindak.
Bila bekerja, dengan kedua semangat ini, kita akan senantiasa mengerjakanya dengan persiapan dan perencanaan yang matang dan bertanggung jawab. Membuat lingkungan kerja"tertulari" semangat kerja yang luar biasa, etos kerja yang positif, dan semuanya kita kerjakandengan keikhlasan dan kejujuran sebagai salah satu bentuk ibadah kita.
Oleh karena itu dalam merintisi karir kehidupan ini, benar-benar harus dengan tegad yang membaja dan kesungguhan yang selalu menggelora untuk menjadi orang terpecaya terjaga kejujurannya sampai akhir hayat kelak. Jangan pernah terpancing atau terkeroh oleh keuntungan dengan mengabaikan kejujuran, karena sesungguhnya keuntungan dengan jalan ketidakjujuran selain keuntungan tersebut semu, dalam jangka sangat pendek pasti akan menimbulkan kerugian yang kompleks serta untuk jangka panjang bahkan bias tembus sampai akhirat nanti.biasakanlah selalu jujur dimulai hal yang sederhana dan kecil sekalipun, walaupun terhadap anak kecil, karena sesungguhnya Allah lah yang maha menilai prilaku kita. Yakinilah tidak akan pernah untung sama sekali dengan ketidak jujuran, selain kerugian kerugian yang mendera dan menghancurkan. Sudah terlalu banyak bukti disekitar kita untuk dijadikan pelajaran. Oleh karena itu agar prilaku kita menjadi lebih baik perlu;
1. jangan sekali-kali berbohong atau terpancing untuk menambah omongan sehingga menjadi dusta walau dalam gurau sekalipun. Kata kuncinya adalah, bertanya kepada hati nurani sendiri, tanyalah apakah kata-kata ini benar bias dipertanggung jawabkan atau tidak, katakanalah hanya yang kita yakini kebenarannya, jangan pernah takut dianggap bodoh karena tak sanggup menjawab. Biasakanlah berkata apa adanya, tentu saja pada saat kondisi yang tepat dan dibutuhkan.
2. jangan pernah mudah membuat janji. Pastikan setiap janji yang diucapkan sudah diperhitungkan matang-matang, dan berusaha keraslah untuk memenuhi janji walaupun harus berkorban banyak hal, karena kerugian tak menepati janji benar-benar jauh lebih merugi.
3. tepat waktulah dalam segala hal. Jangan terlambat atau gemar menunda-nunda atau mengakhirkan padahal banyak kesempatan. Bermain-main masalah waktu akan sangat merontokan kredibilitas. Wallahu a'lam bish showab. (dari berbagai sumber)
Baca Selengkapnya...

LIMA STRATEGI MENGENDALIKAN DIRI

 Oleh : Dep. P3O
Setiap hari pasti kita mengalami konflik batin. Terkadang kita tak mampu mengendalikan diri dalam merespon konflik-konflik itu. Berikut ini lima strategi pengendalian diri. Jurus ini bias anda terapkan untuk apa saja, yang berurusan dengan pengendalian diri.
Pertama,mengendalikan diri dengan dengan menggunakan prinsip kemoralan, seriap agama pasti mengajarkan kemoralan, misalnya tidak mencuri, tidak membunuh, tidak menipu, tidak berbohong, tidak mabuk-mabukan, tidak melakukan tindakan asusila.
Saat ada dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang negatif, coba larikan kerambu-rambu kemoralan. Apakah yang kita lakukan ini sejalan atau bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama?
Misalnya kita mendapat kesempatan untuk mendapatkan untung dengan cara tak wajar. Bahasa kasarnya, kesempatan untuk korupsi. Saat terjadi konflik diri antara ya atau tidak, mau melakukan atau tidak, kita dapat mengacu pada prinsip moral di atas. Agama mengajarkan kita untuk tidak mencuri, atau mengambila barang yang bukan milik kita, tanpa seizing pemiliknya. Kalau kita teguh dengan prinsip moral ini maka kita tidak akan mau korupsi. Korupsi itu dosa, korupsi itu karma buruk, bias masuk neraka.
Kedua, pengendalian diri dengan menggunakan kesadaran. Kita sadar saat suatu bentuk pikiran atau perasaan yang negative muncul. Apda umumnya orang tidak mampu menangkap pikiran atau perasaan yang muncul. Dengan demikian mereka langsung lumpuh dan dikuasi oleh pikiran dan perasaan mereka.
Misalnya, seseorang menghina tau menyinggung kita , kita marah. Nah, kalau kita tidak sadar atau waspada maka saat emosi marah ini muncul, dengan begitu cepat, tiba-tiba kita sudah dikuasai kemarahan. Jika kesadaran diri kita bagus maka kita akan tahu saat emosi ini mulai mencerkam dan menguasai diri kita. Kita tahu saat kita melakukan tindakan “bodoh” yang seharusnya tidak kita lakukan.
Saat kita berhasil mengamati emosi maka kita dapat langsung menghentikan pengaruhnya. Kalau masih belum bisa atau dirasa berat sekali untuk mengendalikan diri, larikan pikiran kita pada prinsip moral. Biasanya kita akan lebih mampu mengendalikan diri.
Ketiga, dengan perenungan. Saat kita sudah benar-benar tidak tahan, mau “meledak” karena dikuasai emosi, saat kita mau marah besar coba lakukan perenungan. Tanyakan pada diri sendiri pertanyaan, misalnya: apa untungnya saya marah? Mengapa saya marah? Apa alasannya saya marah ini sudah benar?
Dengan melakukan perenungan kerap kali maka kita kan mampu mengendalikan diri. Prinsip kerjanya sederhana. Saat emosi akatif maka logika kita tidak akan jalan, demikian juga sebaliknya. Jadi, saat kita melakukan perenungan atau berpikir secara mendalam maka kadar kekuatan emosi atau keinginan kita akan menurun.
Keempat, pengendalian diri dengan menggunakan kesabaran. Emosi naik, turun, timbul, tenggelam, dating dan pergi seperti halnya pikiran. Saat emosi bergejolak, sadari bahwa ini hanya sementara. Ushakan tidak larut dalam emosi, gunakan kesabara, tunggu sampai emosi surut, baru berpikir untuk menentukan respon yang bijaksana dan bertanggung jawab.
Kelima, menyibukan diri dengan pikiran atau aktivitas yang positif. Pikiran hanya bisa memikirkan satu hal dalam suatu saat. Ibarat layar bioskop, film yang ditampilkan hanya bisa satu film dalam suatu saat. Nah, film yang muncul di layar pikiran inilah yang mempengaruhi emosi dan persepsi kita. Saat kita berhasil memaksa diri memikirkan hanya hal-hal yang positif maka film di layar pikiran kita juga berubah. Dengan demikian pengaruh dari keinginan atau suatu emosi akan mereda.


Baca Selengkapnya...